
“Aku ngantuk banget, Mas” Lirih Arini dalam pelukan suaminya yang sangat hangat.
“Tidurlah, Istriku yang cantik”
“Hm, sejak kapan sih kamu jadi jago gombal gini, Mas” Tanya Arini.
“Sejak aku jatuh dalam cinta terdalam kepadamu, Sayang”
“Hahaha, ampun deh. Hati aku meleleh lho ini, Mas”
Arfan menatap dengan penuh cinta wanita dalam pelukannya. Sungguh dirinya tidak menyangka, Tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuk membina dan memperbaiki hubungannya dengan sang istri. Terlebih, Arini menerima dirinya dengan tangan terbuka.
“Kapan jadwal periksa kehamilan mu, Sayang?”
“Hm, kalau nggak salah sih besok lusa Mas”
“Jam berapa?”
“Sore, Mas”
“Ok, aku akan pulang lebih cepat ya. Tunggu aku, pokoknya aku harus ikut”
“Iya, Mas”
Pasangan suami istri itu saling diam, entah apa yang mereka pikirkan.
"Mas? Hm, sejak kapan Mbak Sonya menikah dengan ..."
Belum selesai berbicara, Arfan langsung mengatakan apa maksud istrinya. "Sahabatmu?"
"Iya, Mas"
"Oh ya, umur Sonya sama seperti kamu, Sayang. Jadi, jangan panggil dia Mbak"
"Ouh, oke. Jadi, kapan Sonya dan ... Steve menikah?"
"Aku kurang tahu, kapan mereka menikah. Tapi, sejak aku mulai tahu jika aku mencintaimu, diriku tidak lagi berhubungan dengan Sonya. Yah, meski begitu aku tetap memperhatikannya melalui orang lain yang aku suruh untuk menjaganya. Karena saat itu, aku fokus mencari dirimu, Sayang"
__ADS_1
"Kamu mencariku?" Tanya Arini sambil menatap dengan dalam mata suaminya.
"Yah, mana mungkin aku tidak mencari dimana keberadaan belahan jiwaku, Sayang"
"Ish, kamu kok gombal terus sih, aku malu banget lho Mas" Arini memukul pelan dada bidang suaminya.
"Ouch, atit, Sayang"
Arini bangun dari posisi tidurnya yang nyaman dan menatap dalam ke arah laki-laki yang masih dalam posisi terlentang itu.
"Kenapa, hm?"
Arfan mengusap dengan lembut pipi istrinya yang terlihat chubby, mungkin karena kehamilannya.
"Nggak ada, Mas" Arini tersenyum malu.
"Apa, Sayang? Kok kamu malu-malu gitu sih, ya ampun Mas tambah gemes deh sama kamu" Cubitan kecil hadir di kedua pipi Arini.
"Ouch, sakit Mas"
"Eh, maaf Sayang. Sakit banget ya? Coba Mas lihat"
"Hiks ... sakit Mas"
"Eh, mana yg sakit, Sayang"
Cup cup cup
Arfan mencium kedua mata dan bibir istrinya.
"Hm, jadi pengen cium yg lain deh"
"Maksud Mas apa?" Tanya Arini. Sungguh, dia tidak mengerti ucapan sang suami.
Tanpa menjelaskan apa maksud perkataannya, laki-laki tampan itu langsung mengambil posisi tepat di atas tubuh Arini tanpa menyakiti calon anaknya di dalam perut ibunya.
"Lho? Mas ngapain kayak gini?" Arini terkejut dengan posisinya saat ini yang terasa tidak baik, pikirinya.
__ADS_1
"Yah, mau ngapain lagi kalau bukan begituan, Sayang"
"Begituan apaaan sih Mas? Yang jelas dong kalau ngomong, aku nggak ngerti lho"
Muach
Lagi, Arfan langsung menjawab pertanyaan istrinya dengan tindakan.
"Hm, mmm Mas, ber-berhenti ish"
Arini menarik nafas dalam-dalam, sungguh dia merasa hampir mati saja karena ciuman suaminya yang sedikit agresif.
"Oke, hirup yang banyak udaranya" Ujar Arfan sambil mencium kening Arini dan perlahan membuka kancing piyama tidur istrinya.
"M-mas ... hmm"
Arini tidak bisa menahan suaranya akibat kenakalan tangan suaminya sendiri.
"Mas mau ngapain?"
"Ya ngapain lagi kalau bukan enak-enak" Ujar Arfan sambil tetap melakukan pekerjaan penting yakni membuka semua hal yang menutupi tubuh indah milik istrinya.
"Enak-enak apa?"
"Hm, istri Mas sepertinya sedang mode polos ya? Nggak sadarkah bagaimana perut kamu ini yang sudah membesar karena enak-enak dari Mas, hm?"
Arfan tersenyum jahil menatap wanita hamil yang berada di bawah tubuhnya. Dia menahan beban tubuhnya sendiri agar tidak menyakiti calon anak dalam perut Arini.
"Tapi Mas, aa ... "
Ucapan Arini berhenti seketika saat sang suami memberikan ciuman yang lebih panas dari sebelumnya.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
__ADS_1
Maafkan aku baru up
Love u all