
“Anak buah ku berhasil menemukan mobil Arini” Papa Anggara selesai menerima telepon dari salah satu anak buahnya mengenai keberadaan Arini, walaupun nyatanya hanya mobilnya saja tidak termasuk pengendaranya juga.
“Sebenarnya, aku juga mendapat informasi jika mereka berhasil menemukan data Arini di sebuah rumah sakit. Jadi, aku bersiap ke sana” Ungkap Arfan.
Para laki-laki yang sangat menantikan menantu dan putri, mereka langsung pergi meninggalkan Arfan tanpa mendengar atau menjawab
“Ayo, kita pergi”
Arfan masih diam dalam posisinya. Papa Anggara dan Ayah Andika sudah keluar dari apartemen, istri mereka diminta untuk tetap di sana hingga mereka dapat mengetahui informasi yang pasti mengenai keberadaan Arini.
“Pergilah, bawa kembali putri Ibu” Ucap Ibu Rina sambil menatap ke arah menantunya.
“Jemput Arini, Ar. Rumah Arini di sini, bersamamu” Mama Risa memeluk putranya yang berusaha menahan tangis. Dia tahu, jika Arfan mulai mencintai istri pertamanya. Mungkin ini semua adalah ujian dalam rumah tangga mereka.
“Aku akan bawa Arini pulang bersamaku. Aku janji, Ma, Bu”
Arfan mencium punggung tangan wanita yang sangat ia hormati sebelum dia memenuhi harapan mereka untuk membawa pulang istrinya.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Laki-laki itu segera menyusul mobil Papa nya yang berhenti tepat di lampu merah. “Syukurlah, masih bisa aku kejar. Arin, kamu harus pulang bersamaku. Harus”
***
Di rumah sakit, Arini bersiap untuk keluar dari sana. Sinar matahari membantu menerangi ruangan yang sudah ia tempati semalam. Tadi Rafa bilang kepadanya jika ada beberapa orang berpakaian hitam, kemungkinan mereka adalah orang suruhan suaminya atau keluarganya.
“Kamu sudah siap, Arin?”
“Sudah, Brina. Eh, aku panggil Brina gapapa kan?”
“Gapapa, santai saja. Mas Rafa sudah menunggu kita di mobil. Oh iya, aku lupa. Ya ampun”
“Ada apa?”
“Kita belum periksa ke dokter …”
“Apa? Tadi kita kan udah ke dokter kandungan. Dokter mana lagi yang harus aku datangi?” Tanya Arini setelah dia turun dari ranjang. Dia tidak ingin menggunakan kursi roda.
“Psikiater”
“Aku baik-baik saja, biasanya aku konsultasi kepada temanku sendiri. Biar itu menjadi urusan ku nanti. Oke?”
“Baiklah”
Saat mereka akan membuka pintu, Sabrina melihat beberapa orang yang mengenakan pakaian hitam.
__ADS_1
“Arin? Sepertinya kamu harus mengenakan ini” Ujar Sabrina sambil memberikan masker medis kepada teman baik suaminya itu.
“Oke”
Sabrina juga memberikan kacamata hitam agar wajah Arini benar-benar tidak terlihat.
“Bismillah” Mereka berharap semuanya akan berjalan dengan lancar.
Dua wanita itu berjalan dengan langkah cepat menuju pintu lift.
Ternyata di dalam lift, ada seorang laki-laki yang memegang foto. Dan gambar itu adalah wajah Arini yang mengenakan pakaian pengantin saat pernikahannya dengan Arfan.
“Tenang” Sabrina memegang erat tangan Arini agar laki-laki itu tidak curiga.
Layar kecil di atas pintu lift menunjukkan angka dua. “Sebentar lagi kita sampai”
“Permisi”
Arini dan Sabrina terkejut mendengar suara seseorang yang berdiri di belakang mereka.
“Iya?” Tanya Sabrina sambil menoleh ke belakang dan menatap laki-laki berkacamata hitam yang terlihat sangat … tampan. “Astaghfirullah” Lirihnya.
“Apa Anda pernah melihat wanita ini?” Tanya laki-laki itu dengan menunjukkan foto Arini kepada Sabrina.
“Maaf saya tidak tahu”
Ting
Arini menarik tangan wanita hamil di sampingnya untuk segera keluar dari dalam lift.
“Pelan-pelan” Ucap Sabrina.
“Ya Allah, maaf” Arini langsung ingat jika dia dan Sabrina sedang hamil, jadi harus berjalan pelan-pelan.
“Itu mobil Mas Rafa” Tunjuk Sabrina ke arah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar rumah sakit.
“Kalian tidak apa-apa?” Tanya Rafa saat istri dan temannya berhasil masuk ke dalam mobilnya.
“Huft, orang suruhan suamiku dan keluargaku mencari di rumah sakit. Untung saja kita berdua selamat” Jawab Arini setelah menormalkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat.
“Alhamdulillah. Sayang, kamu baik-baik saja kan?”
“Iya, Mas” Sabrina tersenyum manis menatap suaminya yang mengkhawatirkan dirinya dan bayi mereka.
“Kita berangkat”
Rafa menghidupkan mesin dan mengendarai mobilnya menuju jalan raya. Tanpa mereka sadari, mobil Arfan tepat berjalan di sebelah mereka dan masuk ke dalam area rumah sakit.
__ADS_1
“Selamat tinggal, Mas. Biarkan aku dan anak kita sendiri yang akan melihat betapa indahnya matahari terbenam yang selalu menjadi kenangan indah kebersamaan kita sebagai sahabat … bukan saat kita telah menjadi suami istri” Ucap Arini dalam hatinya sambil terus menatap keluar jendela mobil.
“Arin?”
“Iya, Raf?”
“Hm, sebaiknya kita pergi ke rumah sakit lain untuk memeriksa trauma mu”
“Tidak perlu. Biar itu menjadi urusan ku nanti dengan Steve”
“Steve? Hm, sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tapi, dimana ya?” Rafa berusaha mengingat sambil memukul setir kemudinya dengan pelan.
“Hahaha. Dia yang menyelamatkan ku dulu dan merekomendasikan mu untuk masuk ke rumah sakit jiwa bukan penjara”
“Aha, wah ternyata dia itu dokter psikiater ya?”
“Iya”
“Pantas saja dia tahu kalau aku ada gangguan mental dan lebih meminta hukuman di rumah sakit jiwa bukan penjara”
“Steve menjelaskan hasil diagnosanya tentang mu dan meminta keluarga ku untuk mengajukan hukuman mu di rumah sakit saja”
“Bagaimana kabar laki-laki itu?”
“Dia … baik”
Suasana di mobil menjadi sunyi. Rafa berkonsentrasi mengendarai mobil. “Sayang?” Panggil Rafa kepada istrinya.
“Iya, Mas?”
“Kamu ga mau mampir ke suatu tempat? Mumpung kita belum keluar dari kota ini, beli oleh-oleh mungkin”
“Tidak perlu, Mas. Sebaiknya kita langsung menuju kota x saja”
“Baiklah. Kalian tidur saja, perjalanan kita masih jauh”
Akhirnya, para wanita tidur dengan nyaman dan Rafa menjadi sopir yang siap mengendarai mobil dengan hati-hati.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
🌼🌼🌼
__ADS_1