Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Wajah yang Tidak Asing


__ADS_3

"Huft, benar kata Papa. Seharusnya aku mencari kebenaran tentang kehamilan mu sebelum aku memutuskan untuk menduakan istriku sekaligus sahabatku sendiri, Arini"


Sonya mematung dan menatap suaminya yang berjalan meninggalkannya sendiri.


“Sepertinya, kita hanya berdua saja ya, Sayang” Wanita itu menghapus segera air matanya yang jatuh membasahi pipinya.


“Bunda Sonya”


Terdengar panggilan untuk dirinya.


“Gapapa, Sayang. Mama janji akan selalu menyayangi kamu”


Karir Sonya sebagai model telah dia lepas saat agensi yang menaunginya mulai awal karirnya hingga sukses. Meski pihak agensi tidak masalah jika Sonya bisa mengambil cuti sementara karena kehamilannya, Sonya tetap meninggalkan karirnya demi anak yang dia kandung.


Tok tok tok


“Masuk”


“Selamat pagi, Bunda”


“Pa … gi, Dok”


Sonya masih berdiri dengan raut wajah yang terkejut saat melihat seseorang yang juga ada dalam ruang pemeriksaan itu.


“Bunda? Mari silahkan masuk” Pinta dokter wanita dengan senyuman manis di bibirnya.


“Steve? Ngapain masih di sini, huh? Sana kembali ke tempat asal lo”


“Ehm, aku posisi nyaman duduk di sini. Gapapa kan, Mbak?” Tanya Steve sambil duduk tepat di kursi samping Sonya.


“Oh, ehm i-iya”


“Kamu gugup ya? Apa karena aku tampan, hm?” Rayu Steve.


“Stop gombalan receh lo, Steve”


Wanita dengan mengenakan jas putih menatap Sonya dengan senyuman lembut di bibirnya. “Maaf ya, Bunda. Jika Bunda tidak nyaman, saya akan mengusir laki-laki ini. Bagaimana?”


“Tidak apa-apa, Dok”


“Baiklah, Bunda. Boleh saya lihat buku pemeriksaan, Bunda?”


Sonya mengeluarkan sebuah buku dengan sampul merah muda dari dalam tasnya.

__ADS_1


“Hm, syukurlah kondisi ibu dan bayi sehat ya, Bunda. Mari kita periksa USG”


Saat Sonya akan berdiri dari posisi duduknya, dia tersandung pada kaki kursi dan hampir saja terjatuh. Untung saja Steve menahan tubuh wanita hamil itu dan mereka saling berpelukan dengan tatapan mata yang saling melihat.


“Cantik. Tapi, aku merasa … wajahnya tidak asing. Sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita ini” Puji Steve dalam hati dengan tatapan mata masih mengarah kedua mata Sonya yang hitam dan indah.


“Ehem”


Bukan deheman dari dokter atau perawat, melainkan Sonya. Dia gugup dan tidak menyangka kejadian ini terulang lagi beberapa bulan lalu, di tempat yang berbeda. [Ada hubungan apa Steve dan Sonya?]


“Oh, maaf” Reflek Steve langsung melepas pelukannya, namun belum kedua tangannya terlepas, teriakan dokter dan perawat mengurung niatnya.


“TAHAN”


Pelukan Steve semakin erat dan menempel di tubuh Sonya karena dia terkejut saat teriakan teman sesama profesinya sebagai dokter.


“Lepas pelukannya pelan-pelan” Ucap Dokter Rani sambil menghembuskan nafas lega karena hampir saja dia terkena sakit jantung karena melihat pasiennya yang sedang hamil dan tiba-tiba harus mengalami kecelakaan sebab terjatuh akibat Steve.


“Oke oke, pelan-pelan”


Memang pelan tapi terlalu pelan. Akhirnya, Sonya mendorong dada Steve yang keras agar segera menjauh darinya. “Keras banget dadanya” Ternyata suara Sonya yang pelan masih bisa terdengar oleh pemilik dada itu.


“Terima kasih, Cantik” Kedipan mata nakal Steve membuat Sonya tersenyum malu.


“Lo ngapain berdiri di situ, huh? Lo bukan suami atau ayah” Ujar Dokter Rani sambil menatap kesal temannya yang berdiri tepat di samping pasiennya.


“Oh, aku mewakili si ayah atau suami. Boleh kan, Mbak?”


Sungguh hati Sonya menghangat dan bahagia. Laki-laki di depannya itu memiliki peran tersendiri dalam hidupnya yang hanya dia saja yang tahu.


“Gapapa, Dok”


“Huft, baiklah”


“Awas lo ganggu kerjaan gue”


Perawat mengoles gel di atas perut Sonya.


“Hm, wah bayi mu sangat aktif, Bunda. Apa Bunda mau tau jenis kelamin debay?”


“Boleh, Dok”


“Oke, bentar ya debay malu-malu nih” Dokter Rani tersenyum geli sambil sesekali melihat ke arah temannya.

__ADS_1


“Steve?” Panggil Dokter Rani.


“I-itu suara detak jantung siapa?”


“Debay. Kenapa?”


“Jantungku berdebar kencang” Ungkap Steve dengan tangan kanannya yang meraba dadanya.


Ternyata bukan hanya Steve yang berdebar, tapi Sonya juga merasakan hal yang sama. Bedanya, dia tahu betul kenapa jantungnya berdebar. “Tidak mungkin dia tahu” Lirihnya.


“Sepertinya aku juga harus periksa jantungku”


“Silahkan. Bunda, coba lihat. Selamat ya, debay nya jagoan nih”


Sonya menatap haru layar monitor. Dia sangat bahagia jika anaknya baik-baik saja. Sepertinya dia harus menyelesaikan masalah rumah tangganya dan perempuan yang sudah dia sakiti. Dia ingin hidup bahagia hanya berdua saja dengan bayinya. “Maafkan aku, Arin”


“Bunda menangis bahagia ya”


Kini, Sonya duduk di hadapan dokter kandungannya dengan Steve yang juga masih berada di dalam ruangan itu.


“Lo ngapain sih masih di sini, huh?”


“Jangan pedulikan keberadaan gue. Buruan kasih laporan pemeriksaannya”


“Ini buku pemeriksaannya, Bunda” Dokter Rani memberikan buku pemeriksaan kehamilan milik Sonya.


“Terima kasih, Dok”


“Sama-sama, Bunda. Mungkin lain waktu, Bunda bisa ajak ayah debay ikut pemeriksaan bulan depan ya”


Sonya hanya memberikan senyuman kecil di bibirnya.


“Cantik, udah nikah?” Tanya Steve dengan raut wajahnya yang terkejut.


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2