Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Khawatir


__ADS_3

“Matahari terbenam sore ini sangat indah, iya kan, Sayang?” Ucap seorang wanita berjilbab yang bersandar di pohon kelapa. Dia menatap jauh laut dengan cahaya matahari orange kemerahan di langit sore.


“Suatu hari nanti kita kesini lagi bareng ayah ya”


Arini menatap kosong laut lepas di hadapannya. Sesekali, dia mengelus perutnya yang terlihat besar karena usia kehamilannya yakni delapan bulan.


“Aku kangen kamu, Mas … hiks”


Walaupun dia sakit hati dengan suaminya, Arini masih tetap rindu dengan Arfan. Laki-laki yang telah memberinya kehidupan baru yang ada dalam perutnya. Dan sebentar lagi, dia akan bertemu dengan bayinya.


“Aku harap kamu selalu bahagia ya, Mas. Pastinya sekarang kamu bahagia banget, anakmu dengan Sonya sudah lahir. Aku mengucap syukur alhamdulillah. Doakan aku ya, Mas. Semoga persalinan nanti bisa lancar dan hiks … anak kita sehat selalu hiks” Ujar Arini dengan air matanya yang mulai membasahi pipinya yang terlihat lebih chubby.


“ARIN”


Teriakan dari seseorang yang berdiri cukup jauh, Arini membalas panggilan itu dengan lambaian tangan dan senyuman di wajahnya. Dia segera menghapus air matanya.


“Kita pulang sekarang ya, dah mau malem”


“Iya, Chika. Bagaimana keadaan cafe?” Arini berjalan di samping Chika.


Ya. Salah satu karyawannya di cafe, mengunjunginya. Arini menunjuk Chika dan Nada untuk menggantikan dirinya. Satu minggu setelah kepergiannya, Arini memutuskan untuk memberitahu keberadaannya kepada dua temannya itu. Hari ini giliran Chika yang datang ke pesantren, sebuah rumah dimana dia hidup selama beberapa bulan ini.


“Baik. oh ya, kemarin dia ke cafe … lagi”


Arini tahu siapa orang yang dimaksud temannya. “Sedang apa?”


“Hm, seperti biasanya. Cuma … wajahnya sedikit pucat”


“Pucat? Mas Arfan sakit?”


“Aku … nggak tahu”


“A-apa Mas Arfan pesan yang aneh?”


“Aneh? Helo, di cafe semua makanan dan minumannya tidak ada yang aneh”


“Ma-maksud aku, apa Mas Arfan pesan minuman dingin atau makanan yang mungkin kamu tahu jarang atau tidak pernah Mas Arfan pesan?”


Panjang sekali perkataan Arini.


“Hm, bentar aku ingat-ingat dulu”


“Oke, apa?”

__ADS_1


“Eh, belum lima detik berlalu, kamu tanya lagi”


“Maaf”


Cukup lama Arini menunggu jawaban dari temannya tentang keadaan suaminya. Mungkin ini adalah keinginan bayinya yang selalu mengkhawatirkan sang ayah.


“AKU INGAT”


“Ya ampun, harus banget ya kamu teriak gitu” Gerutu Arini sambil menggosong pelan telinganya yang tertutup dengan hijabnya.


“Heheheh, maaf. Hm, dia ga pesan apa-apa. Dia mah sering bawa botol air mineral sendiri dan ya hanya duduk saja di meja dekat jendela. Laporan mengenai dia, masih sama seperti biasanya”


Chika tersenyum sedih ke arah sang bos yang sudah sedih terlebih dahulu.


“Mas Arfan nggak ke … ruanganku?”


“Nggak”


“Baiklah”


“Kamu … baik-baik saja kan, Arin?”


“Ya, aku baik-baik saja”


Tok tok tok


“Eh, Neng Arin udah pulang ya dari pantai?”


Kebetulan sekali, pondok pesantren itu berlokasi tidak jauh dari pantai. Salah satu tempat yang sangat dia dan … suaminya sukai, apalagi saat matahari terbenam.


“Hehehe, iya Pak. Mumpung belum malam”


“Iya atuh, Neng. Ibu hamil mah jangan keluar malam-malam, bahaya”


“Iya, Pak. Saya masuk dulu ya, Pak. Assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”


“Mari, Pak” Sapa Chika.


“Silahkan, Neng”


Pintu gerbang ditutup dan dikunci seperti biasanya.

__ADS_1


“Chika?” Panggil Arini setelah dia duduk di kursi depan sebuah rumah sederhana yang bersebelahan dengan rumah pemilik pondok pesantren.


“Perasaanku kenapa nggak enak gini ya?”


“Nggak enak gimana?”


“Aku … merasa … argh aku tidak tahu”


“Oke-oke, bentar aku ambil air putih dulu ya”


Chika berjalan dengan cepat menuju dapur. Dia khawatir jika perasaan Arini dapat berpengaruh pada kehamilannya.


"Assalamualaikum" Ucap salam seorang laki-laki tampan dengan kopyah di atas kepalanya.


"Waalaikumsalam, Raf"


Arini berusaha bangun dari posisi duduknya untuk membuka pintu gerbang yang berukuran kecil.


"Eh, mau kemana?"


"Aku mau buka pintu gerbang"


"Pintu gerbang? Ini? Hahaha" Gelak tawa Rafa sambil menyentuh pintu kecil yang terbuat dari susunan bambu.


"Iya, heheheh"


"Ini mah bukan pintu gerbang, ya hanya pintu biasa sebagai pembatas rumah mu aja"


"Terimakasih" Arini mempersilahkan teman baiknya duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


"Dalam rangka apa?" Tanya Rafa sambil menerima teh hangat yang sedang dihidangkan oleh Chika. Untung saja dia mendengar suara tamu, jadi Chika bisa membuat minuman selain untuk Arini. "Terimakasih" Sambungnya sambil meminum sedikit air teh dengan aroma melati.


"Sama-sama, Kang"


"Jadi, kamu bilang terimakasih karena apa?"


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2