
Arini terdiam di dalam kamarnya. Dia duduk di ranjang, ada bantal di belakang tubuhnya. Ada raut kesedihan di wajahnya.
“Aw, anak Bunda kenapa?” Anaknya menendang cukup keras. Mungkin, anaknya tidak sabar ingin segera keluar dan melihat dunia, termasuk bertemu dengan ibu dan … ayahnya. Ayah? Arfan? Benar, nama itu adalah nama yang tertulis di akta kelahiran anaknya nanti sebagai ayah.
“M-mas … hiks” Lagi. Arini menangis sambil mengambil sebuah foto yang menampilkan wajah tampan milik suaminya. Arfan tersenyum sangat manis di sana. Foto itu dia ambil sembunyi-sembunyi saat mereka berdua masih menjadi sahabat. Arfan mengenakan kaos putih dan asyik bermain air di pantai saat matahari terbenam. “Kamu harus kuat demi anak kita, Mas”
Tangis Arini semakin kencang. Dia mengingat kembali ucapan temannya, Rafa tadi.
#Flashback On
“Kamu harus kuat ya, Arin” Ucap Rafa sebelum laki-laki itu menghembuskan nafasnya. Suara nafasnya terdengar berat, apakah kabar buruk yang akan disampaikan Rafa kepada Arini.
“InsyaAllah” Arini menahan air matanya agar tidak jatuh lagi.
“Hm, oke. Huft, begini. Sejak kamu memutuskan untuk tinggal bersama kami di sini” Rafa memandang sekilas istrinya yang sedang memeluk erat Arini. Sabrina menganggukan kepalanya dan tersenyum, seakan dia mengatakan semuanya pasti baik-baik saja.
“Terus?”
“Dan aku selalu melihatmu menangis. Ya, meski tidak secara langsung di hadapan kami”
Arini terkejut, dia tidak menyangka jika orang lain tahu dirinya menangis karena merindukan suaminya.
“Akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi tentang suamimu, tanpa diketahui oleh siapapun termasuk dirimu”
Ucapan Rafa berhasil membuat Arini terkejut untuk kedua kalinya. Selama dia pergi, Arini tidak pernah menanyakan bagaimana kabar suaminya, meski dirinya beberapa kali mengirim surat untuk keluarganya.
“Dan kemarin …”
“Kemarin?”
“Ar-arfan …”
__ADS_1
Arini tidak mengulang ucapan teman baiknya itu. Bibirnya terasa sangat sulit untuk mengatakan nama itu, meski hatinya selalu menyebutnya bahkan dalam doanya.
“Kecelakaan”
“A-apa?”
Arini pingsan seketika. Dia tidak sadarkan diri.
#Flashback Off
“Kamu baik-baik saja kan, Mas?” Arini mengelus pelan wajah suaminya yang sangat tampan saat tersenyum.
Saat dirinya sadar, Sabrina mengatakan semuanya. Suaminya harus operasi besar dan sempat kritis. Hatinya sangat sakit saat mendengar keadaan Arfan yang dia tahu tidak baik-baik saja.
“A-aku bingung, Mas”
Wanita itu bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Hatinya masih sakit dan tidak ingin bertemu dengan suaminya, tetapi pikirannya tidak tenang karena dia tahu suaminya sedang sakit dan tugasnya sebagai istri untuk selalu mendampingi suaminya dalam keadaan suka dan duka. Beberapa bulan, dirinya tidak pernah mengetahui kabar Arfan, dan pertama kali dia tahu keadaan suaminya sedang berjuang dalam sakit yang Arfan alami. Pantaskah dia tidak peduli dengan keadaan suaminya yang sedang berjuang untuk hidup?
“Umi”
Ibu Sabrina, Umi Aini.
“Ikhlaskan, Nak. Saran Umi, temui suamimu. Tugas istri untuk selalu mendampingi suaminya dalam keadaan duka maupun suka. Dan sekarang, dia membutuhkan kehadiranmu. Ingat Arini, penyesalan selalu datang terakhir. Umi takut kamu menyesal karena kamu merasa lalai menjadi istri karena meninggalkan suami mu dalam keadaan sakit. Ridho istri ada pada suaminya”
Dengan pelan dan lembut, Umi Aini mengelus lengan teman dari menantunya. Dia tidak tahu betul, masalah apa yang Arini hadapi sehingga dia memilih pergi dan meninggalkan suaminya.
“Hati Arini masih sakit, sangat sakit, Umi … hika” Arini menangis tersedu-sedu dalam pelukan Umi Aini.
“Ikhlaskan, Nak. Umi yakin suamimu sedang menunggu kehadiranmu. Dia membutuhkan istrinya untuk tetap berada di sampingnya. Arin, kita tidak tahu kapan Allah akan memanggil dan menghadap kematian”
Deg
__ADS_1
Jantung Arini berdetak dengan cepat setelah dia mendengar kata ‘kematian’.
“Sebelum Allah menunjukkan kuasa-Nya yang telah Ia tetapkan kepada setiap makhluk hidup di dunia ini, maka kita harus segera menggunakan waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan. Jika tidak, maka hanya akan meninggalkan penyesalan yang tidak bisa kita ubah karena semua itu adalah takdir Allah”
Arini tidak dapat mendengar dengan baik ucapan Umi Aini. Pikiran dan hatinya hanya tertuju kepada suaminya.
“A-aku mau bertemu suamiku, Umi … hiks … hiks”
“Pilihan yang baik, insyaAllah hasilnya juga baik, Amin”
Cup
Umi Aini mencium pelan kepala Arini yang menangis dalam pelukannya.
***
Pagi yang cerah, Arini sudah bersiap untuk bertemu kembali dengan suaminya. Entah kenapa, jantungnya berdebar. Seperti orang yang sedang jatuh cinta pertama kali.
“Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?” Tanya Chika saat dirinya selesai membantu Arini mengemas pakaian dan keperluan lainnya.
“Ti-tidak ada” Ada rona merah di kedua pipi Arini.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Love u all
🌼🌼🌼
__ADS_1