
“Le-lepaskan a-aku, Raf … hiks”
“Kamu sudah tahu jawabannya, Sayang” Rafa berhasil mengambil ciuman pertamanya di bibir Arini. Dia tahu, dirinya juga adalah laki-laki pertama yang mencium wanita yang berada di bawah tubuhnya.
BUG
Suara pukulan di bagian kepala Rafa adalah ingatan terakhirnya saat wanita yang telah menjadi teman baiknya di kampus itu pingsan.
#Flashback Off
“Sejak laki-laki itu memukulku dan dia membuat aku harus dirawat di rumah sakit jiwa, aku selalu memikirkan mu dan menyesali perbuatan ku dulu, Arin. Maafkan aku”
Rafa terus menatap dengan dalam teman baiknya.
Tok tok tok
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Pintu terbuka dan seorang perempuan cantik dengan hijab yang menutupi bagian dadanya, masuk dan mencium punggung tangan Rafa.
“Kapan datang, Sayang?” Tanya Rafa setelah dia dan wanita itu duduk bersama di sofa.
“Hm, mungkin sekitar sepuluh menit yang lalu karena aku harus jalan dulu untuk ke kamar ini” Jawab Sabrina sambil memeluk erat lengan suaminya.
“Pasti capek ya, Sayang?” Dengan lembut, Rafa mengelus perut istrinya yang terlihat buncit.
Mereka berdua saling berbicara dan tertawa bersama.
“Ha-us”
Suara Arini terdengar dengan sedikit membuka matanya, membuat pasangan suami istri itu berjalan menuju ranjang dan tetap saling bergandengan tangan dengan mesra.
Sabrina membantu Arini minum dengan perlahan. “Bismillah” Ujar Sabrina dengan senyum manis di bibirnya.
Arini memejamkan kedua matanya setelah tenggorokannya tidak terasa perih dan kering. Dia membuka lebar kedua matanya saat melihat Rafa berdiri di hadapannya.
“Le-lepas … hiks … lepaskan aku… hiks” Arini menutup kedua telinganya dan menangis.
“Mas?” Panggil Sabrina sambil menatap ke arah suaminya yang panik sama seperti dirinya.
Rafa menekan tombol darurat di samping ranjang. “Maaf, Arin” Lirihnya saat melihat teman baiknya sangat ketakutan.
Dokter dan perawat berusaha menenangkan Arini yang berteriak ketakutan. Rafa memeluk erat istrinya. “Semuanya pasti baik-baik saja, Mas” Usapan lembut di punggung laki-laki itu sedikit menenangkan hatinya.
__ADS_1
“Sepertinya pasien memilik riwayat trauma yang cukup berat. Sebaiknya, pasien segera mendapat penanganan langsung dari psikiater. Oh ya, saya sudah menghubungi dokter kandungan agar bisa memeriksa pasien. Saya permisi”
“Sayang?”
“Hm?”
“Ini salahku”
“Aku yakin Mbak Arin baik-baik saja. Kita coba jelaskan pelan-pelan ya”
Rafa menganggukkan kepalanya.
Hampir dua jam Arini tidur karena pengaruh obat penenang. Rafa duduk di sofa dan istrinya berbaring dengan paha suaminya sebagai bantal.
“Mas sudah menghubungi keluarga Mbak Arin?” Tanyanya sambil mengelus perutnya.
“Belum. Sepertinya handphone Arin ketinggalan di mobil. Mas sudah suruh Asep untuk ambil barang-barang Arin di mobil yang Mas tinggalkan di jalan sana”
“Semoga Mbak Arin cepat sadar ya, Mas”
“Amin, Ya Allah. Sudah malam, kamu tidur ya”
“Iya, Mas”
Mereka berbaring di ranjang yang bisa muat dua orang di ruang rawat VIP. Kebetulan di ruangan itu memang tersedia ranjang tambahan untuk wali pasien.
“Keluar dari kamar ini”
Arini memandang ke atas langit-langit ruang rawat itu dan berusaha tidak melihat ke arah laki-laki yang berbaring tidak jauh dari ranjangnya dengan seorang wanita.
Dengan perlahan, Rafa melepas pelukan istrinya. Dia duduk di samping ranjang Arini yang tidak melihat ke arahnya.
“Ma-maafkan aku”
“Huft, setelah aku keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren di kota x. Di sana aku belajar banyak dan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Papa dan Mama ku juga kembali menyayangiku. Mereka minta maaf padaku karena telah mementingkan pekerjaan dibandingkan aku, putra mereka”
Rafa menghela nafas pelan sebelum melanjutkan ceritanya.
“Hm, aku menikah dengan Sabrina. Salah satu santriwati di sana. Beberapa bulan ini aku kembali ke kota ini untuk menemui mu dan minta maaf kepadamu, Arin. Ma-mafkan aku yang pernah menyakitimu dan membuat kamu trauma. Ma-mafkan aku” Laki-laki tidak bisa lagi menahan air matanya. Di waktu yang sama, dia bahagia bisa bertemu lagi dengan teman baiknya dan sedih karena dia harus mengingat kembali kesalahan kepada Arini.
“Maafkan suami saya, Mbak Arin”
Suara lembut membuat Arin dan Rafa melihat ke arah Sabrina yang berdiri di belakang Rafa dan memeluk erat tubuhnya.
“Jadi, kamu yang selalu mengirimkan aku bunga tulip dan gulali”
__ADS_1
Rafa menganggukkan kepalanya dengan kedua tangannya memeluk tangan istrinya.
“Aku kok ga dikasih bunga juga, Mas?” Suara manja Sabrina memberikan suasana haru dan menyenangkan.
“Maaf ya. Nanti, Sayang ku bisa pilih sendiri bunga yang kamu mau. Oke?”
“Terimakasih, Abi” Sabrina meniru suara seperti anak kecil sambil tersenyum manis.
“Bawa aku pergi jauh dari sini”
Ungkapan Arini membuat pasangan yang sedang menantikan buah hati mereka terkejut.
“Aku akan memaafkan mu, tapi kamu harus bawa aku pergi dari sini. Sejauh mungkin”
“Tapi …”
“Aku mohon, Rafa. Bawa aku pergi … hiks”
Sabrina memeluk Arini dengan erat. “Tenang ya, Mbak”
“Kenapa?” Tanya Rafa.
“Hiks … bawa aku pergi, Rafa”
“Mbak harus tenang. Kasihan dedek bayi di dalam perut, Mbak”
Perkataan Sabrina itu menghentikan tangisan Arini. Dia terkejut.
“Apa maksud kamu?”
Arini berusaha melepas pelukan wanita berhijab dari tubuhnya.
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
Baca juga karya ku yang lain CINTA PERTAMA 🌼 AYAH UNTUK ARLAN
Love u all
🌼🌼🌼
...
__ADS_1
...