Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Papa Benar


__ADS_3

Arfan memejamkan matanya, dia harus ikhlas dan terima jika keluarga besarnya akan sangat marah dan kecewa kepada dirinya setelah mendengar jawaban dari pernyataan Papa Anggara tadi.


“Se-sebenarnya, aku sudah meng-ham …”


"Sayang"


Suara itu membuat jantung Arfan berdetak kencang. Dia tau siapa pemiliknya, meski dia berharap jika itu suara Arini mungkin dia bahagia begitupula keluarga mereka. Sayangnya, Sonya telah memeluk dengan manja lengan Arfan yang berdiri disampingnya.


"Sonya" Lirih Arfan namun tidak melihat wanita yang berstatus istri keduanya itu.


"Kebetulan banget kita bisa bertemu di sini. Kamu mau nemenin aku periksa anak kita ya"


"A-anak kita?" Mama Risa mengulang kembali kata-kata itu dari mulut wanita di hadapannya.


"Eh, Mama. Ya ampun, Sonya kangen banget sama Mama"


Sonya langsung melepas pelukan di lengan suaminya dan beralih memeluk mama mertuanya. Sebenarnya dia cukup kenal dengan keluarga Arfan sejak mereka masih berpacaran. Tetapi, semua anggota keluarga Anggara tidak menyukai dirinya. Mungkin ada beberapa yang suka karena dia adalah model, dan sebagian yang lebih banyak tidak menyukai dirinya karena pandangan buruk dengan pekerjaan nya.


"Lepas. Apa maksud kamu tadi, huh? Anak kita? Anak siapa?"


Mama Risa melepas paksa pelukan menantu yang sangat tidak dia harapkan. Sungguh, dia sangat tidak merestui hubungan putranya dan Sonya sejak pertama kali Arfan mengenalkan Sonya sebagai kekasihnya. Mama Risa ingin Arini yang menjadi istri Arfan suatu hari, itulah keinginannya dan akhirnya terwujud. Akan tetapi, dia sangat kecewa kepada Arfan yang telah menduakan Arini dan menikah dengan Sonya.


"Jawab!"


"Ya, anak aku dan ... Arfan. Iya kan, Sayang?" Senyuman yang terlihat di bibir Sonya membuat Mama Risa tidak bisa lagi menahan sakit hatinya, mungkin inilah sakit yang dirasakan oleh menantu kesayangannya, Arini.


"Tunggu"


Kak Ratih mengerutkan keningnya. Ada hal lain yang dia pikirkan.


"Berapa usia kandungan mu?" Tanya Kak Ratih sambil menatap tajam ke arah Sonya.

__ADS_1


"Eh, Kakak Ipar. Jangan galak gitu dong, kasihan debay yang ketakutan melihat bibi nya" Sonya mengelus dengan lembut perutnya yang terlihat buncit karena pakaiannya yang juga sangat se*y dan ketat, tampak jelas lekuk tubuhnya.


"Jawab pertanyaan ku"


"Lima bulan"


Jawaban Sonya membuat semua orang disitu terkejut.


"Bukannya kamu nikah lagi sekitar empat bulan yang lalu?" Kak Ratih menatap tajam adiknya yang sedang berusaha melepas pelukan Sonya di lengannya.


Arfan hanya diam dan menundukkan kepalanya.


"JAWAB" Teriak Kak Ratih.


"Sayang, tenang" Hans mengelus bahu istrinya agar tidak membuat keributan di rumah sakit.


"Tega kamu ya, Dek. Kamu tahu, ayah mertuamu terbaring sakit karena putrinya yang menghilang. Sungguh Kakak ga bisa membayangkan bagaimana perasaannya saat tahu suami putrinya telah berbuat zina saat kalian berdua masih terikat janji suci pernikahan"


Kak Ratih menjelaskan hasil pemikirannya dengan menghitung lama pernikahan kedua adiknya dengan hitungan bulan kehamilan Sonya. Dia terkejut dan tidak percaya jika adik kesayangan telah berbuat zina.


"MAMA"


Arfan ingin menggendong mamanya, tapi Papa Anggara mendorong dengan kasar putranya hingga terjatuh.


"Jangan pernah sentuh istriku"


"Ta-tapi ... "


"Hans, tolong bantu"


Papa Anggara tidak mempedulikan putranya dan pergi begitu saja sambil berlari di samping menantu pertama nya yang menggendong Mama Risa.

__ADS_1


Arfan menatap kosong ke arah keluarga nya yang meninggalkan dirinya. Dia kecewa karena tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan alasan dirinya menikahi dengan Sonya dan keraguan nya jika bayi yang dikandung Sonya bukanlah anaknya. Dia yakin jika dirinya tidak pernah melakukan perbuatan hina itu.


"Sayang"


Tangan Sonya dihempas dengan kasar oleh Arfan.


"Lebih baik kamu pergi dari sini"


"Tapi, kita kan harus pergi ke dokter kandungan"


"Dia bukan anakku"


Arfan berdiri dan melihat kedua mata istri keduanya dengan penuh amarah.


"A-apa yang kamu bilang, huh? Kamu ga percaya jika anak ini adalah darah daging mu sendiri?"


"Aku tidak akan pernah mengakui anak itu adalah anakku"


"Tega kamu, Mas"


"Kamu yang tega, Sonya. Aku tahu jika aku sangat mencintai, tapi itu dulu sebelum aku mengucapkan ijab Qabul saat pernikahan ku dengan Arini. Dan kehadiran mu telah membuat kebahagiaan ku bersama Arini, HANCUR"


Sonya terkejut dengan ungkapan suaminya.


"Huft, benar kata Papa. Seharusnya aku mencari kebenaran tentang kehamilan mu sebelum aku memutuskan untuk menduakan istriku sekaligus sahabatku sendiri, Arini"


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat

__ADS_1


Love u all


🌼🌼🌼


__ADS_2