
Arini langsung turun dari mobil yang berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit. Dia sedikit berlari, tujuan utamanya yakni meja resepsionis.
“Mbak, jangan lari” Asih terkejut saat pintu tengah terbuka saat mobil baru saja berhenti.
“Mas parkir mobil dulu, kamu kejar Mbak Arin, takut ada apa-apa”
“Iya, Mas. Nanti Adek kabarin Mas ya. Assalamualaikum” Abim menerima uluran tangan kananya yang akan dicium istrinya. Dia sangat bersyukur dapat menikah dengan wanita di hadapannya itu.
“Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Dek”
Asih melihat Arini berdiri di depan meja resepsionis.
“Kamar pasien atas nama Arfan Anggara di ruang ICU lantai 5, Bu”
Dua wanita itu langsung bergegas menuju ruangan yang disebut oleh petugas rumah sakit.
“Mbak Arin, sabar ya” Dengan lembut, Asih mengusap punggung Arini yang bergetar karena wanita hamil itu sudah meneteskan air mata sejak mereka tahu Arfan berada di ruang ICU.
“Suamiku … hiks … Maafin aku, Mas … hiks”
Untung saja hanya mereka berdua saja di dalam lift, jadi tidak ada yang terganggu dengan suara tangis Arini.
"Hem, apa kita ke kantin rumah sakit dulu, Mbak? Beli minum dan mungkin camilan, biar mbak tenang" Ajak Asih sambil terus melihat Arini dengan raut wajah khawatir.
Arini hanya menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menahan suara tangisannya.
"Tapi, Asih takut sesuatu terjadi kepada dedek bayi karena suasana hati ibunya tidak baik"
Saat mendengar ucapan Asih, perlahan tangisan Arini sudah berhenti.
"Dedek bayi?"
"Iya, pikiran Mbak harus tenang biar dedek bayi juga tenang dan bahagia di dalam sini" Asih mengelus perut besar Arini dengan lembut.
Ting
Pintu lift terbuka. Asih tetap menggandeng tangan Arini.
__ADS_1
"K-kita ke kantin dulu"
Asih tersenyum bahagia karena dia berhasil membujuk Arini. "Kebetulan banget, Mbak. Ada cafe kecil di lantai ini, kita beli ke sana ya"
"Silahkan, mau pesan apa, Mbak?" Seorang wanita penjaga cafe menawarkan beberapa makanan seperti donat, cake dan camilan lainnya saat Arini akan membayar air mineral.
"Hm, donat 5 mix rasa ya, Mbak"
"Mbak laper lagi ya" Goda Asih.
"Iya nih, makasih ya"
Setelah Arini menghabiskan lima donat dan sebotol air mineral, Asih menuntun Arini dengan tetap saling berpegangan agar bisa segera menuju ruangan dimana suami Arini di rawat.
“ICU” Lirih Asih. “Ruangannya di sini, Mbak” Ucapnya saat dia berhasil menemukan ruangan itu.
“Kok sepi banget ya, Mbak? Keluarga suaminya Mbak ga ada yang jagain ya?”
Arini tidak menjawab pertanyaan Asih. Dia sibuk melihat ke dalam ruang ICU melalui jendela kaca yang besar.
“Maaf, Bu. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya seorang perawat wanita yang menghampiri Asih dan Arini.
“Apa benar pasien bernama Arfan di rawat di sini, Mbak?” Asih membantu Arini untuk bertanya.
“Sebentar ya, saya cek terlebih dahulu. Oh ya, nama lengkap pasien?”
“Ar-arfan Angga-ra”
“Baik. Tunggu sebentar ya, Bu. Ibu bisa duduk dulu tidak apa-apa”
“Terima kasih, Mbak”
Arini berjalan pelan ke kursi yang memang disediakan untuk pengunjung, sambil menyentuh perut besarnya.
“Mbak tidak apa-apa, kan?”
“Saya baik-baik saja”
__ADS_1
“Sebentar ya, Mbak. Saya mau nelpon Mas Abim dulu”
Setelah Asih sedikit menjauh, perawat tadi datang.
“Maaf, Bu. Pasien atas nama Arfan Anggara baru saja keluar dari ruang ICU. Sekali lagi, maafkan pihak rumah sakit yang salah menyampaikan informasi”
“Tidak apa-apa. Ruang apa?”
“Ruang VIP lantai 8, Bu”
***
Di sebelah pintu tertulis nama kamar yang disebut oleh perawat tadi. Jantung Arini berdetak dengan kencang. Telapak tangannya terasa dingin dan sekitar dahi nya mulai berkeringat.
“Dag dig dug hatiku, eh salah. Bukan hatiku, tapi hati Mbak Arin, hehehe” Asih mengelus punggung Arini sambil bernyanyi.
“Ish, Asih” Dan rona merah di kedua pipi Arini berhasil membuat tubuhnya tidak dingin seperti sebelumnya.
“Cie, yang ketemu sama suami. InsyaAllah suami Mbak Arin, baik-baik saja”
“Terima kasih, Asih”
Saat Arini akan memutar kenok pintu. Teriakan Abim yang sangat romantis membuat giliran Asih yang merah merona. “ADEK SAYANG”
“Huft, untung saja masih keburu. Maaf, saya datang terlambat. Kebetulan parkiran di rumah sakit penuh, jadi nunggu ada mobil keluar dari parkiran dulu” Jelas Abim setelah berdiri di samping istrinya dengan tangannya yang memeluk erat pinggang Asih.
“Tidak apa-apa, Mas” Asih tersenyum lembut, kemudian menatap kembali Arini yang mulai terlihat gugup saat dia akan memutar kenok pintu. “Ayo, Mbak. Bismillah”
Arini mengganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum meski hati nya gelisah. “Huft, tenang Arin”
Ceklek
🌼🌼🌼
Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya
Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat
__ADS_1
Love u all
🌼🌼🌼