Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Rumah Impian Kita


__ADS_3

“Akhirnya, aku pulang, hahahaha” Arfan tertawa bahagia setelah turun dari mobil.


Hampir dua minggu, dia melakukan perawatan seperti fisioterapi setelah bangun dari koma yang singkat. Dia sangat bersyukur, Allah memberinya kesempatan untuk menikmati hidup bersama istri, calon anaknya dan keluarga. Selain itu, dia ingin meminta maaf kepada istrinya dan memperbaiki rumah tangganya.


“Kamu nggak turun, Sayang?” Tanya Arfan saat melihat istrinya masih duduk di kursi mobil.


“Hm, ini ru-rumah siapa, Mas?”


Arini terkejut melihat rumah mewah di depan matanya. Dia pikir, Arfan akan pulang ke apartemen.


“Rumah kita”


Cup


Arfan mengecup sekilas bibir merah istrinya.


Cup


“Suka cium kamu”


“Mas, malu ada sopir” Arini memukul pelan lengan suaminya. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


“Kalau nggak ada sopir, boleh dong kita ciuman” Terlihat senyuman mesum di bibir Arfan.


“Yuk, turun, Kita touring rumah baru”


Arfan membantu istrinya turun. “Pelan-pelan ya”


“Pak, minta tolong turunkan barang-barang ya”


“Siap”


Arfan memegang erat tangan istrinya sambil berjalan menuju pintu rumah baru mereka.


“Wah, bunganya banyak sekali”


“Kamu suka?”


“Iya” Arini melepas genggamannya, dan memeluk dengan erat dan mesra lengan Arfan.


“Ini adalah rumah impian kita, aku, kamu dan anak-anak kita”


Arfan menghentikan langkah kaki tepat di depan pintu. Dia menatap dengan mesra wajah istri yang selalu dia ingat dan selalu hadir dalam mimpi. Dia berharap, bisa bertemu kembali dengan Arini. Dan, hari itu telah tiba. Arini berdiri di hadapannya. Arini tersenyum manis kepadanya. Sebentar lagi, Arfan akan menjadi ayah.


“M-mas, aku hiks … hiks”


Arini memeluk tubuh suaminya. Akhirnya, dia bisa memeluk lagi suaminya. Hampir beberapa bulan masa kehamilannya itu, dia ingin mendapatkan pelukan hangat dari Arfan.


“Kamu buka pintunya”


“Lho? Nggak kamu kunci pintunya, Mas? Ntar kalau ada maling gimana?”

__ADS_1


Arfan tertawa geli mendengar banyak pertanyaan, perihal pintu yang tidak dikunci.


“Aku …”


“Kalau mau meninggalkan rumah, pintunya harus selalu dikunci, Mas”


Lihatlah! Bibir Arini yang bergerak karena berhasil mengomeli suaminya yang ceroboh menurutnya.


“Huft. Sayang, sekarang kamu coba buka dulu pintunya ya”


Punggung Arini dielus dengan lembut oleh Arfan.


Ceklek


Dor Dor Dor


Suara tembakan dan ada yang berjatuhan dari atas. Arini melihat seluruh anggota keluarganya menyambut kedatangan nya dan Arfan. Mereka tersenyum bahagia.


“ARIN”


Teriak Bunda Rina langsung memeluk dengan erat putrinya. Dia menangis haru karena putrinya telah pulang.


“Bunda … hiks … hiks”


“Kamu sehat kan ya, Sayang?” Bunda Rina menangkup pipi Arini yang terlihat lebih chubby.


Arini hanya bisa menganggukan kepala. Dia sangat bahagia. Akhirnya, dia bisa memeluk ibunya.


Ayah Andika merentangkan tangannya, siap menerima pelukan putrinya.


Arini melepas pelukannya dengan sang bunda, kemudian berlari menuju pelukan laki-laki yang telah menjadi cinta pertamanya.


“Jangan lari, Sayang” Ujar Arfan saat melihat istrinya berlari, sepertinya Arini lupa jika dirinya sedang hamil besar.


“Ayah, maafin Arin”


“Iya, Sayang. Ayah sudah sangat bersyukur, kamu baik-baik saja. Bagaimana kabar cucu Ayah?”


“Sehat Ayah”


“Alhamdulillah”


***


Semua orang sedang menikmati berbagai jenis camilan yang sudah tersedia di meja berukuran besar. Mereka duduk bersama setelah makan malam. Arini mengambil potongan puding mangga, kesukaan suaminya.


“Terima kasih, Sayang” Ujar Arfan saat piring yang berisi makanan berwarna orange yang terlihat sangat menyegarkan.


Tiba-tiba saja, terdengar suara teriakan yang cukup keras. Dan Arfan tahu, siapa pemilik suara itu.


“ASSALAMUALAIKUM”

__ADS_1


Nada menuliskan sesuatu di buku catatan kecil yang selalu dia bawa. Hampir dua bulan ini, Nada menggunakan alat bantu pendengaran. Vano memberikannya sebagai hadiah istimewa karena lamarannya diterima oleh Nada.


Jangan teriak, malu rumah orang


“Hehehe, maaf, Sayang”


“Perasaan nih, entah permintaan maaf yang keberapa kali, tapi selalu terulang lagi” Sahut Chika.


“Harap maklum, Sayang” Vino mengelus pelan bahu kekasih hatinya, Chika.


“Kalian berdua itu kembar lho, tapi sikap kalian beda banget, sumpah” Chika tidak menyangka Vano, calon suami temannya, Nada, mempunyai saudara kembar yaitu Vino. Dan hampir satu bulan ini, dia berpacaran dengan Vino. Untung saja, dua laki-laki itu mempunyai penampilan yang berbeda, jadi dirinya tidak akan salah memanggil kekasihnya.


“Waalaikumsalam”


Arfan menatap kesal sekretarisnya.


“Eh, kenapa muka Bos ketekuk gitu?” Tanya Vano sambil tersenyum manis ke semua orang di ruang keluarga.


“Gimana urusan kantor?”


“Tenang dan tetap santai, Bos. Semuanya aman terkendali”


Nada, Chika, Vano dan Vino bergantian mencium punggung tangan para orang tua.


“Bagaimana cafe?” Giliran Arini yang menanyakan kabar mengenai cafe kepada teman sekaligus karyawannya.


“Aman” Chika mengambil minuman dingin, namun memberikannya kepada kekasihnya.


“Terima kasih, Cintaku”


“Huek … Sayang, aku juga mau puding coklat” Vano pura-pura muntah setelah mendengar kalimat romantis dari saudara kembar nya sendiri.


Nada menganggukan kepalanya dan mengambilkan dua potong sekaligus.


“Kok dua, Sayang?”


“Satu piring, buat kita berdua”


Sontak saja, Vano tersenyum malu dengan gombalan Nada. “Ish, kamu so sweet banget sih” Dan Vano memberikan ciuman singkat di pipi Nada.


“Mas, malu”


“Oh, maaf”


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all

__ADS_1


🌼🌼🌼


__ADS_2