
### Bab sebelumnya ...
Di depan pintu apartemen, Arini menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia tidak bisa meninggalkan suaminya, karena di mana suaminya tinggal, maka itu lah tempat tinggalnya, rumahnya untuk pulang.
"Ayah, Arini ikhlas menerima ini semua ... hiks ... hiks"
Ayah Andika meneteskan air matanya saat melihat ketulusan hati putrinya yang terpancar jelas di kedua matanya. "Huft, baiklah jika itu memang keputusan mu, Putriku. Ayah dan Bunda akan menerimanya," setelah berdiam dan memahami kondisi Arini yang sudah menikah, maka tanggung jawab putrinya bukan lagi pada dirinya, melainkan suami Arini.
***
Kini, suasana nya di apartemen menjadi sepi dan sunyi.
"Awww," Arfan menahan sakit di wajahnya saat Arini mengobatinya.
"Sakit ya, Mas? tahan dulu ya," ucapan Arini sangat lembut di pendengaran Arfan. Seperti nyanyian sebelum tidur saja.
"Maaf,"
Arini hanya membalas ucapan suaminya dengan senyuman, yang terlihat sedih dan penuh luka, begitulah Arfan melihatnya.
"Alhamdulillah, selesai."
Arfan masih melihat dengan tatapan yang dalam ke arah istrinya yang masih membereskan perlengkapan P3K untuk mengobati luka karena pukulan dari sang ayah mertua.
"Ada apa, Mas?," tanya Arini saat melihat tatapan suaminya yang berbeda.
"Tidak ada, nanti aku ada keperluan di luar. Dan ... mulai sekarang ... kita tidur di kamar yang sama"
Setelah mengatakan hal itu, Arfan langsung menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Arini tersenyum malu. Dia ... senang. "Terima kasih, Ya Allah," wanita itu mengusap wajahnya dan mengaminkan doa nya di dalam hati dan ucapan syukur kepada Tuhan.
*_____*
Arfan dengan pelan membuka pintu apartemen. Sebelum dia keluar dari kamarnya, Arini sedang sibuk di dapur. Jadi, dia langsung pergi. Lagipula, sebelumnya dia sudah ijin jika akan keluar.
"Huft"
Sambil mengawasi di sekitar, Arfan berjalan menuju kamar sebelah, tepat nya kamar ketiga di sebelah kanan kamar apartemen nya bersama Arini.
Ceklek
"Sonya? Sonya ... di mana kamu?"
Laki-laki masuk kedalam kamar apartemen yang ditempati istri keduanya. Suasana nya sangat sepi dan kotor. Lihat lah, bungkus makanan dan sampah lainnya yang berserakan di ruang santai di depan televisi.
"Kotor ... dan jorok"
Setelah mencari di sekitar ruangan apartemen, Arfan naik ke lantai dua menuju kamar yang hanya ditempati Sonya. Hanya? Iya, karena Arfan tidak pernah menginap di apartemen itu. Dia selalu pulang kembali ke huniannya bersama Arini. Dia tetap memenuhi semua kebutuhan dan keinginan istri keduanya, namun tidak dengan nafkah batin. Dia tidak pernah menyentuh Sonya, meski beberapa kali Sonya menggodanya. Entah apa yang terjadi pada Arfan, kenapa dia tidak mau tidur bersama istri yang baru saja dia nikahi padahal dulu, Sonya adalah kekasih yang sangat dia cintai.
Tok tok tok
"Sonya," panggil Arfan sambil mengetuk pintu kamar itu. Iseng dia mencoba mendorong pintu. Dan ... pintu terbuka.
"Ya Allah," lagi. Arfan terkejut dengan keadaan kamar yang sangat berantakan. Baju berserakan di seluruh ruangan. Gorden jendela kamar masih yang masih tertutup, apa Sonya tidak sholat ya? Tidak tahu :]
"Sonya .. bangun"
__ADS_1
Tepukan pelan di lengan, membuat Sonya sedikit membuka matanya.
"Sayang? Kamu pulang," wanita itu langsung menarik tangan suaminya dan menidurkan di sampingnya.
"Lepas"
Arfan berusaha bangun dan melepaskan diri dari pelukan istri keduanya. "Kenapa aku merasa ... tidak nyaman seperti ini," ucapnya dalam hati.
"Aku sudah memperingati mu untuk tidak mengatakan kepada siapapun perihal pernikahan kita, kan?"
"Iya, Sayang. Tenang, aku tutup mulut," Sonya membuat gerakan mengunci mulut dengan tatapan matanya masih terpejam.
"Tapi, keluarga ku tahu"
"Hmmm, mungkin ada mata-mata"
Arfan memikirkan ucapan Sonya. "Papa," ujarnya dengan suara pelan.
"Sayang, aku mau dong kenal sama madu ku"
Ungkapan Sonya membuat laki-laki itu berdiri kaku.
"Sayang?," panggil Sonya.
"Aku pergi. Ingat jangan pernah mengatakan tentang pernikahan kita."
"Sip. Oh ya, uang ku habis"
"Aku transfer nanti"
Setelah mengetahui dari mana keluarga nya tahu perihal pernikahan keduanya, Arfan pergi dari apartemen, tempat tinggal Sonya sejak dia nikahi. Di luar kamar, Arfan tidak menuju kamar yang berbeda dua kamar dari dia berdiri sekarang.
[Udaranya harus satu ruangan ya sama Arini. Hahahah]
Arfan mengendari mobilnya menuju rumah sahabatnya. Itu lebih baik. Keberadaan anak kecil mungkin bisa membuatnya lebih tenang dan sedikit terhibur.
***
Bulan sudah bersinar cukup terang di langit yang gelap. Arini masih setia menunggu kedatangan suaminya. Setelah sholat isya, dia langsung masak untuk makan malam bersama suaminya, semoga.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Arini menghampiri suaminya.
"Mas dari mana?"
"Jef"
"Kenapa ga ajak aku, Mas? Aku kangen lo sama Jef. imut banget sih Jef," Arini tersenyum geli saat mengingat tingkah laki bocah kecil itu.
"Maaf, nanti kita main-main ke sana bersama ya"
__ADS_1
Arini menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum mendengar ucapan Arfan yang lemah lembut.
"Mas udah sholat?"
Hanya anggukan kepala yang Arfan lakukan sambil berjalan menuju dapur.
"Makan ya"
Tanpa membalas ucapan Arini, laki-laki itu langsung duduk manis di kursi dengan kedua tangannya di atas meja, seperti anak kecil.
Dengan telaten, Arini mengambilkan nasi dan lauk pauk yang diinginkan suaminya. Setelah berdoa, mereka makan dengan diam.
***
Kedua kalinya, Arini tidur di malam hari bersama Arfan. "Ya Allah," wanita itu menyentuh dadanya. Jantung nya berdegup dengan kencang.
"Kenapa belum tidur?"
Tanpa Arini sadari, suaminya berdiri di depannya dengan tangan kanan yang bergerak di atas kepala untuk mengeringkan rambut.
"Oh ... eum ... ini mau tidur"
Arini langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya. Tanpa dia duga, Arfan menaikkan selimut hangat hingga pinggang nya. Manis sekali. Plus, Arfan mengelus pelan kepala Arini yang tidak tertutup hijab.
POV ARFAN
Kamar ku memang sangat luas dan terkesan mewah dibandingkan kamar tamu. Setelah memperhatikan sebentar istriku yang tertidur, aku duduk di sofa tepatnya di depan televisi yang menayangkan acara sepak bola. [Hahhh, perebutan bola itu, author tidak suka. hiks hiks hiks.]
Hingga saat ini, lebih tepatnya setelah pernikahan keduaku, aku bingung, kenapa hati ku tidak pernah mau untuk tinggal lebih lama bahkan tidur di apartemen Sonya. Aku meremas rambut yang masih setengah basah.
Aku jadi ingat, pertanyaan Sonya mengenai dirinya yang ingin bertemu dengan Arin. Tapi, aku penasaran. Apa Arin tidak pernah bertemu Sonya di sekitar apartemen ini. Haaah aku harap, tidak. Aku belum siap melihat dua istriku bertemu. Entah kenapa.
Di ranjang itu dulunya kosong saat aku duduk di sini. Namun sekarang, ada Arin yang menempatinya. Untung saja ada selimut yang menutup tubuhnya yang mengenakan pakaian tipis. Ya ampun, hampir saja aku ingin meminta jatah malam padanya. Tapi, aku menahannya.
Hmmm, aku jadi ingat ucapan Papa tadi siang di telepon. Papa terus memarahi ku, yahhh walaupun tidak memukuliku. Entah bagaimana bentuk wajahku nanti. Dan Mama ... masih terus menangis dan terkejut karena pernikahan keduaku. Ternyata benar, Papa selalu mengawasi ku melalui anak buahnya. Ngomong-ngomong, Kak Ratih apa kabar ya? Kalau kakak sampai tau berita ini, habislah aku.
Hmmm, aku jadi kangen sama Raja, anak Kak Ratih sama Mas Hans. Mereka memang tinggal di luar kota sebab pekerjaan Mas Hans. Hanya pulang ke rumah, pas lagi hari-hari besar aja.
POV ARFAN END
Setelah mematikan televisi, Arfan menempati ranjang di sebelah istrinya. Cukup lama dia tidur terlentang sambil menatap langit-langit di kamarnya, Arfan mengambil guling yang berada di tengah-tengah mereka dan membuangnya. Malang sekali nasibmu, guling, hiks hiks hiks.
Suasana di kamar itu menjadi hening. Hanya suara dentingan jam dinding yang berada di atas televisi. Arfan memejamkan matanya dengan tangannya yang memeluk guling hidup dengan erat. Siapa? Arini adalah jawabannya. Tanpa Arfan sadari, Arini masih belum tidur.
Saat pelukan hangat melingkari pinggang Arini, dia menahan nafas karena terkejut dan canggung. Pertama kali, Arfan memeluk dirinya saat mereka tidur bersama di satu ranjang. Yah, walaupun dulu pernah tidur di kamar yang sama, tapi tidak ada adegan pelukan.
❤️❤️❤️ Macan
Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️
Dukung aku :]
Follow, Like dan comment ya ....
Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.
Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, AYAH UNTUK ARLAN, CINTA PERTAMA
__ADS_1
############################################