Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Menantu dan Putri


__ADS_3

Perkataan Sabrina itu menghentikan tangisan Arini. Dia terkejut.


“Apa maksud kamu?”


Arini berusaha melepas pelukan wanita berhijab dari tubuhnya.


“Kamu harus banyak is …”


“Tadi kamu bilang apa, huh?” Tanya Arini lagi tanpa mendengar ucapan Rafa.


“Mas?” Panggil Sabrina karena dirinya merasa salah mengatakan tentang kehamilan Arini.


“JAWAB” Teriak Arini.


“Mbak harus tenang ya, tarik nafas, buang nafas perlahan”


Akhirnya, Sabrina berhasil menenangkan teman suaminya.


“A-aku ha-hamil?”


Sabrina menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis di bibirnya.


“Ya Allah” Dengan pelan dan tangan yang bergetar, Arini menyentuh perutnya yang masih rata.


“Dedek bayi di perut Mbak pasti bahagia karena ibunya menerima kehadirannya” Ucap Sabrina sambil ikut mengelus perut Arini.


“Iya, Mama bahagia kok karena kamu ada di perut Mama”


Senyum dan air mata bercampur menjadi satu di wajah Arini.


“Arin?” Panggil Rafa setelah Arini mulai terlihat lebih tenang.


“Iya?”


“Maaf kan aku”


“A-aku memaafkan mu tapi dengan satu syarat”


“Apa itu?”


“Bawa aku pergi jauh dari sini”


“Tapi, bagaimana suami dan keluargamu?”


“Aku mau sendiri. Dan … jangan katakana kepada siapapun tentang ku. Aku mohon Rafa”


“Apa alasannya?”


Arini tidak menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya dengan tatapan matanya mengarah pada perutnya. Tanpa sengaja dia melihat perut Sabrina yang buncit.


“Mbak hamil juga ya?” Tanya Arini.


“Alhamdulillah, jalan lima bulan. Hm, panggil saya Sabrina saja, Mbak”


“Wah, semoga sehat selalu ya ibu dan bayinya. Kalau begitu kamu juga panggil aku Arini saja”


“Amin, Ya Allah. Baik, Arin”


“Terimakasih, Sabrina, Rafa”


Mereka tersenyum bersama.


***


Suasana berbeda jauh di sebuah kamar apartemen yang gelap dan sunyi. Arfan membuka kedua matanya saat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya. Sejak kemarin, dia tidak bangun dari ranjang dan hanya tiduran saja. Semua panggilan yang menurutnya tidak penting, dia mengabaikan semuanya.

__ADS_1


Ring ring ring


📞📞📞


“Halo?”


“A-apa?”


“Tidak mungkin. Kamu yakin?”


“Aku segera ke sana”


📞📞📞


Dengan gerakan cepat sampai Arfan jatuh karena tersandung selimut, dia meringis kesakitan di kakinya.


“Aw, kamu ngapain sih di situ, huh?” Gerutu Arfan pada benda mati yang bewarna putih.


Arfan berlari ke kamar mandi dan kurang lebih 5 menit dia sudah segar. Sepertinya Arfan mandi bebek ya.


Dan saat dia akan membuka pintu apartemennya, Arfan terkejut karena kedatangan keluarga nya dan Arin.


“Mau kemana?” Tanya Papa Anggara saat melihat putranya akan keluar dari apartemen.


“Oh, i-itu mau beli sarapan, Pa”


“Arin mana? Menantu Mama ga masak ya?” Giliran Mama Risa yang bertanya sambil masuk ke dalam tanpa memedulikan tatapan terkejut Arfan.


“Arin?” Teriak Ayah Andika disusul istrinya yang berjalan di belakangnya.


“Putri Ibu masih tidur ya, Nak Arfan?” Ibu Rina bertanya kepada menantunya dengan raut wajah yang sedikit panik sebab tidak biasanya putrinya bangun kesiangan.


Para orangtua telah duduk nyaman di sofa. Namun, mereka masih tetap mencari dan memanggil nama Arin.


“Ar, ngapain kamu berdiri gitu?”


“Jangan diam saja seperti itu. Mana Putri Ayah? JAWAB” Kesabaran Ayah Andika telah habis. Dia merasa sesuatu hal buruk terjadi pada putri semata wayangnya oleh karena itu dia berkunjung ke tempat tinggal Arini bersama suaminya.


“A-arin menginap di rumah temannya, Ayah”


“Siapa temannya?”


“Aduh, Arfan lupa namanya”


Ayah Andika menyebutkan nama teman-teman putrinya yang sangat dia kenal. Karena Arini selalu bercerita dan memberitahu siapa saja temannya kepada Ayah dan Ibunya.


“Yang mana nama temannya?”


“Nak Arfan coba ingat-ingat lagi ya, siapa nama temannya Arini” Ucapan Ibu Risa yang lembut berhasil membuat Arfan berdiri kaku dan panik.


“JAWAB, ARFAN” Suara tegas Papa Anggara membuat Arfan terkejut.


“Ma-maaf”


Arfan bertekuk lutut di depan para orang tua dan menceritakan perihal Arini yang menghilang saat dirinya telah menunggu sang istri di restoran untuk merayakan hari pernikahan mereka.


“Ya Allah, Arin … hiks” Tangisan Ibu Rina begitupun dengan Mama Risa.


“Kamu sudah mencari kemana saja?”


“A-aku …”


“Kamu belum mencari keberadaan istrimu kan?”


“Aku mencari Arin, Pa”

__ADS_1


“Bukan kamu yang mencari, tapi orang lain”


Arfan langsung menundukkan kepalanya. Dia takut menatap mata papanya yang merah karena menahan emosi atas kesalahannya.


“Cari cepat menantu kesayangan Mama, Ar … hiks” Perintah Mama Risa yang masih berusaha menahan tangisannya dalam pelukan suaminya.


“Kamu telah lalai menjaga menantu Papa”


“Apa maksud Papa? Kemarin aku ada rapat penting, aku capek, jadi kemarin aku hanya mengandalkan anak buah ku untuk mencari istriku”


“Kamu tidak mencintai putriku” Pernyataan Ayah Andika membuat Arfan mengangkat kepalanya dan menatap ayah mertuanya.


“A-aku …”


“Suami yang mencintai istrinya, tidak akan mempedulikan lelahnya untuk tetap selalu membahagiakan keluarganya”


Semua orang diam.


“Ayah?”


“Seharusnya, Ayah menolak perjodohan kalian”


“Andika?” Panggil Papa Anggara kepada sahabat sekaligus besannya.


“Walaupun Arfan dan Arini tidak menikah, kita tetap akan menjadi sahabat. Kebahagian putriku lebih penting dari apapun di dunia ini”


Ring ring ring


Suara panggilan di handphone Papa Anggar membuat semua orang menatap ke arah laki-laki paruh baya itu.


📞📞📞


“Bagaimana?”


“A-apa? Tidak mungkin”


“Saya akan ke lokasi sekarang”


📞📞📞


“Ada apa, Anggara?”


“Anak buahku berhasil menemukan mobil Arini”


“Sebenarnya, aku juga mendapat informasi jika mereka berhasil menemukan data Arini di sebuah rumah sakit. Jadi, aku bersiap ke sana” Ungkap Arfan, tapi tidak ada yang mempedulikannya.


“Ayo, kita pergi”


🌼🌼🌼


Hai, jangan bosan menunggu up novel ini ya


Like comment dari kalian membuat aku lebih semangat


Love u all


🌼🌼🌼


...



...


...

__ADS_1



...


__ADS_2