Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Sesak dalam Hati


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


"Makan bubur dulu ya, Mas?,"


Arfan hanya menganggukkan kepala saja. Dia membuka sedikit mulut nya untuk menerima suapan pertama bubur hangat buatan istri pertamanya.


"Mas?"


"Hem," Arfan memejamkan matanya, kepalanya masih sedikit pusing. Dia belum mengabari sekretarisnya untuk ijin tidak ke kantor.


"Hmmm, itu ..."


Belum selesai bicara, Arfan memintanya untuk menghubungi Vano dan memberi kabar jika dirinya tidak ke kantor.


"Iya, Mas"


Tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Arfan masih menikmati bubur yang mulai membuatnya terasa kenyang.


"Udah"


Setelah meletakkan mangkuk bubur yang tersisa setengah, Arini ingin mengambil handuk basah dan dia usap di tubuh suaminya.


"Mas?," tanya Arini sambil mengusap di bagian dada Arfan.


"Hm?,"


"A-aku tel-telpon is-istri ..."


"Apa?," Arfan membuka matanya karena istrinya yang berbicara terbata-bata.


"Akutelponistrikeduamas," Arini mengucapkannya dengan satu tarikan nafas tanpa jeda.


"Hah?,"


*_____*

__ADS_1


Arini menarik nafas dan menghembuskan nya. Dia berusaha tetap tenang menghadapi semua ini. Di depan orang tuanya, dia menerima keberadaan Sonya sebagai madunya, dengan kata lain istri kedua Arfan. Suami sekaligus sahabatnya. Sebenarnya, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi dalam proses hijrahnya. Sudah cukup dia harus menerima pernikahan terpaksa dengan sahabatnya sendiri, walaupun jauh dalam lubuk hatinya sangat bahagia.


"Aku.telpon.istri.kedua.Mas," Arini mengucapkannya dengan cara mengeja setiap huruf, biar jelas dan tidak mengulang, begitu pikirnya.


"Ga usah,"


"Kenapa?,"


"Aku bilang ga ya ga, bawel banget sih," hardik Arfan dengan nada suaranya yang sedikit tinggi.


"Kasih tau aku alasannya, aku gapapa"


Laki-laki itu hanya diam.


"Aku ikhlas menerima kamu yang menduakan aku, Mas. Dan ... kamu sudah melanggar kontrak pernikahan kita. Aku pikir, kamu pasti ingat hal itu kan?"


Lagi. Suasana di kamar itu menjadi hening. Mungkin hanya dentingan jam dinding sebagai pengiring yang menunjukkan bagaimana keadaan saat itu.


“Mungkin kamu lupa ya, Mas. Buktinya, kamu melanggar semua peraturan yang kamu buat sendiri. Sedangkan aku? Tidak satu pun aku melanggarnya, aku mematuhi semuanya. SEMUANYA,” teriakan Arini dengan deraian air mata.


Wanita itu tidak bisa menahan lagi semua sesak dalam hatinya. Dia mengatakan semuanya, mungkin hanya sebagian saja. Karena ada rahasia yang tidak pernah Arfan tahu sejak mereka bersahabat hingga saat ini.


“Kamu tahu, Mas. Kita bersahabat sejak dulu. Aku pikir kamu tahu bagaimana aku, tapi tidak. Terkadang aku berpikir, apa semua kebaikanmu selama persahabatan kita hanya kebohongan? JAWAB, MAS”


“Apa maksud kamu?,” akhirnya Arfan mengeluarkan suaranya.


“Huft, banyak hal yang kamu lupakan tentang aku ya, Mas?,” tanya Arini sambil tersenyum getir.


Tidak ada jawaban.


“Dulu, aku pernah bilang sama kamu kan? Aku ingin menikah satu kali dan mencintai satu kali dengan laki-laki bukan muhrim ku. Dan … dan aku juga ingin menjadi satu-satunya wanita yang akan selalu dicintai dan bersamanya selamanya. Kamu tahukan artinya apa? … hiks … hiks … aku ga mau dipoligami. Ta-tapi, kamu melakukannya padaku, Mas. Meski, aku tahu kita berdua terpaksa menikah, hati aku tetap sakit hingga detik ini.”


Ada kesedihan di mata Arini. Dia turun dari ranjang sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya sendiri.


“Aku harap kamu tidak menyembunyikan sesuatu lagi padaku, iyakan?,”

__ADS_1


Tubuh Arfan menjadi kaku. Wajahnya menegang. Arini melihat ekspresi suaminya.


“Ternyata masih ada rahasia ya, Mas?”


“Aku ingin kamu jujur sama aku, Mas?,” ucapnya dalam hati.


“Sepertinya kamu tertular demam ku tadi malam, sebaiknya giliran kamu untuk istirahat.” Arfan berjalan menghampiri Arini yang berdiri tidak jauh dari ranjang.


“Jangan sentuh aku, Mas. Jujur, a-aku masih ingat bagaimana rasa sakit hatiku saat kamu pertama kali menyentuhku. Kamu memaksa aku untuk memberikan hak mu. Dan setelah itu, kamu pergi begitu saja, meninggalkanku sendirian di kamar. Kamu pikir aku pel*cur, HAH”


Arini berteriak lagi tepat di hadapan laki-laki itu.


“Kamu bilang aku bukan pel*cur … hiks … hiks, tapi tindakanmu yang membenarkannya, Mas”


"Aku tidak tahu, apa aku sanggup untuk tetap menerima ini semua dan berusaha menjalani kehidupan bersama mu, Mas"


Setelah mengutarakan perasaan sesak dalam hatinya, Arini keluar dari kamar.


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA


...



...

__ADS_1


__ADS_2