Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta

Berbagi Cinta : Matahari Terbenam Dengan Cinta
Rujak dari Mr. Ar


__ADS_3

### Bab sebelumnya ...


Sekitar jam 12 siang, aku memutuskan untuk pulang ke apartemen. Aku tidak ingin menambah dosa karena keluar rumah tanpa izin suami. Walaupun aku sangat tidak ingin kembali ke sana.


Klik


Pintu apartemen sudah berhasil aku buka. Sepi. Satu kata itu pas untuk menggambarkan keadaan di dalam apartemen ini. Apakah Mas Arfan istirahat di kamar atau pergi ke kantor? Aku tidak peduli. Sebaiknya, aku ke kamar, mandi dan ke cafe. Sepertinya, hanya itu satu-satunya tempat yang bisa membuatku lebih semangat.


POV ARINI END


*_____*


Setelah membersihkan diri, Arini menuju dapur untuk sarapan. Ada bubur ayam yang tadi ia buat untuk suaminya. Suaminya? Iya, suami seperti teman (ranjang) saja, pikir wanita itu.


“Mas Arfan ke mana ya?,” tanyanya sambil mengambil mangkuk dan peralatan makan yang lain.


Asap yang mengepul terlihat di atas mangkuk yang sudah berisi bubur, lengkap dengan tambahan lauk. Arini membuka handphone nya. Dia asyik dengan salah satu aplikasi sosial media yang sedang trend di kalangan anak muda seperti dirinya sendiri. Namun, sendok di tangan perempuan itu jatuh begitu saja.


Sebuah postingan dari salah satu model ternama. Entah, kapan dia mengikuti akun itu. Inginnya segera meng-unfollow akun yang ternyata dia adalah madunya.



Thank you so much, Mr. Ar


“Mr. Ar? Mas Arfan?”


Air mata Arini menetes begitu saja. “Ja-jadi, kamu tidak mencari ku, Mas? Ya Allah, sungguh sakit hati ini”


Tidak peduli dengan bubur yang tinggal setengah, Arini langsung berlari ke kamarnya. Dia … merasa sangat tidak berdaya. Kenapa semua ini terjadi pada dirinya. Jika mungkin, ingin rasanya dia mengakhiri semua ini. Pernikahan dan … cintanya.


“Hiks … hiks … kamu … jahat, Mas … hiks … hiks”


Tangisan Arini memang tidak terdengar dari luar kamarnya sebab dia membenamkan wajahnya di bantal dan menutup pintu kamarnya. “Apa kekurangan ku, Mas … hiks … hiks …”


Cukup lama Arini menangis. Dia memutuskan untuk berwudhu dan sholat dhuha. Tidak ada siapapun yang dapat dijadikan sandaran saat ini, selain Allah.


“Allahu Akbar,” takbir untuk memulai sholat.

__ADS_1


.


.


.


.


“Assalamualaikum warahmatullah,” salam terakhir, bertanda Arini telah menyelesaikan ibadahnya.


“Ya Allah, Ya Rabb … Ampunilah dosa ku … hiks, dosa suamiku … hiks, dosa keluarga ku adan Mas Arfan. Kuatkan lah hati hamba Ya Allah … hiks … agar bisa mempertahankan pernikahan ini. Jauhkanlah hal-hal buruk dalam rumah tangga hamba. Amin. Ya Allah”


Arini mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dan mengaminkan doanya. Dia melepas mukena nya, dan bersiap pergi ke cafe. Dia harus mengalihkan semua pikiran dan hatinya dengan … bekerja. “Bismillah,” ucapnya setelah dirinya selesai mengenakan gamis dan kerudung pashmina dengan warna yang sama, baby blue.


Lagi. Arini harus menahan tangisannya.


Saat dia membuka pintu apartemen, tanpa sengaja dia melihat suaminya keluar dari kamar yang berada kamar ketiga setelah kamarnya sendiri. “Ya Allah, jadi … Mas Arfan …,” sungguh Arini tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sakit.


Dengan gerakan pelan, Arini menutup kembali pintunya. Dia terduduk di depan pintu dan menangis. “Hiks … hiks … hiks … Ya Allah”


Tit tit tit tit


Ceklek


Tanpa Arini duga. Suaminya langsung memeluk dirinya saat melihatnya berdiri tidak jauh dari pintu. "Arin ... syukurlah kamu pulang," Arfan melepas pelukannya dan menatap dengan dalam mata istrinya.


"Ka-kamu dari mana saja? Kamu habis menangis ya?," tanyanya sambil mengusap dengan lembut pipi Arini yang putih dan bersih.


"Ya iyalah, ya kali aku ketawa," batin Arini. Tanpa dia sadari, dirinya menikmati tatapan lembut suaminya, usapan di pipinya, dan ekspresi wajahnya yang khawatir. Manis sekali, pikirnya.


"Hei, kok melamun. Hm? Aku tampan banget ya," ucapan Arfan mendapat hadiah, bukan ciuman melainkan pukul manja di lengan kanannya.


"Mas tadi keluar ke mana? Kan baru sembuh," Arini tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik. Mungkin ... ini ujian baginya. "Aku harap kamu jujur, Mas," tambahnya dalam hati.


Arfan melepas kedua tangannya di pundak wanita itu. "Oh ... ehm ... itu ... aku ..."


"Apa?," desak Arini. Dia tahu, Arfan pasti berbohong padanya.

__ADS_1


"Dari rumah Sonya"


Arini terkejut. Dia tidak menyangka, suaminya jujur padanya. Tapi, sayangnya bukan rumah yang suaminya kunjungi. Melainkan, kamar apartemen di gedung yang sama tempat mereka berdua tinggal.


"Tadi, aku dari rumah Ayah cari kamu," lanjutnya.


Mereka berdua duduk bersama di sofa, saling berdekatan.


"Kamu tadi ke mana?,"


"Suatu tempat"


Tidak ada pembicaraan lagi.


"Oh ya, tadi Mama bilang kalau Kak Ratih pulang ke rumah besok. Nanti malam kita ke sana ya," ujar Arfan.


Arini hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Rumah Sonya di mana, Mas?,"


Tidak ada jawaban.


"Mas?"


"Ehm ... jauh"


"Dekat," Arini menjawab pertanyaannya sendiri dalam hati.


"Mas? Kamu ga menyembunyikan sesuatu dari ku kan, Mas?"


❤️❤️❤️ Macan


Aku mau ikut lomba, semoga lolos ya 😁✌️


Dukung aku :]


Follow, Like dan comment ya ....

__ADS_1


Aku masih pemula teman-teman. Semoga kalian suka ya.


Tunggu kelanjutan cerita MATAHARI TERBENAM DENGAN CINTA ya. Jangan lupa mampir di novel aku lainnya, CINTA PERTAMA


__ADS_2