
...NATHAN...
" Nat, terima kasih " Celetuk Mauriel, mau tidak mau dia harus mengakui bahwa hari ini Ia sangat bahagia, rasanya seperti kembali ke masa lalu, tapi cukup sampai hari ini.
Mauriel harus sadar diri akan posisinya sekarang, hubungan mereka sudah putus, dan dia bukan lagi perempuan single yang bisa sesuka hatinya
Apa kata orang nanti ? istri seorang Leon Alexander orang terkemuka di negaranya ternyata memiliki hubungan gelap dengan mantan pacarnya. Nanti yang ada reputasi keluarga ini akan berdampak jelek, dan akan mempengaruhi kesehatan Nenek. Aku tidak mau itu terjadi.
" Your welcome " Jawab Nathan dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
Untuk sesaat aku hampir terpesona, dengan senyum yang dulu sangat aku rindukan.
" Hmm...lain kali kita gak usah ketemu lagi, ya " Gumam Mauriel sambil menundukan kepalanya, Ia tidak mampu menatap wajah Nathan, takut hatinya akan goyah.
" Kenapa ? " Seru Nathan dengan raut wajah kecewa.
" Kamu kan tahu ! aku sudah menikah, Than " Seru ku dengan suara yang terdengar lirih.
" Lalu ? Apa masalahnya ? kita tidak melakukan hal yang tercela " Ucap Nathan tidak terima dengan apa yang di katakan Mauriel.
" Batasan ! Aku harus tahu batasannya " Gumam Mauriek pelan sangat pelan, air matanya hampir saja menetes.
Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Mauriel langsung membuka pintu mobil, meninggalkan Nathan yang masih termenung. Tidak ada ucapan " SELAMAT MALAM " layaknya sepasang kekasih, karena mereka bukanlah sepasang kekasih yang sesungguhnya, cuma seseorang yang pernah singgah di hati.
Mauriel terduduk di lantai kamarnya, punggungnya Ia sandarkan dengan pintu. Lalu kenangan-kenangan itu datang, potongan-potongan kejadian di masa lalu yang indah bersama dengan Nathan berkecamuk dalam pikiranku.
Dan aku teringat kembali dengan janji Nathan, sebelum pria itu pergi meninggalkannya. Di taman sekolah yang di penuhi berbagai macam bunga, kami duduk di atas rerumputan yang hijau sambil menyelonjorkan kaki, dan jaket jeans Nathan menutupi paha Mauriel.
" Gak berasa, sebentar lagi kita akan meninggalkan sekolah " Seru Mauriel pandangannya menatap lurus kedepan.
" Iya, Riel ! perasaan baru kemarin, aku ketemu kamu di tempat ini. Kamu yang bersandar di pohon, sambil mengenggam sebuah buku. aku kira, Aku melihat bidadari, tapi ternyata aku melihat seorang gadis sedang terlelap dengan mulut yang terbuka, dan air menetes dari bibirnya, tapi anehnya aku tidak merasa jijik melihat kamu, justru aku langsung menyukaimu. " Ucap Nathan menceritakan pertemuan pertamanya.
Dan Nathan meneruskan perkataannya," Dan kamu tahu ! saat itu, jantungku langsung berdebar kencang. lalu sejak itu aku terus mencari tahu tentang dirimu, memberanikan diri untuk mengungkapan perasaanku. "
" Untunglah kamu tidak menolaknya, Hahahahhaha " Nathan tertawa lebar mengenang awal pertemuannya.
" Awalnya aku tidak nyaman kamu terus menganggu, tapi kamu yang pantang menyerah, pada akhirnya hatiku luluh juga." Sahut Mauriel.
Suasana yang tadinya romantis, lalu terjadi keheningan, Baik Mauriel maupun Natahn sibuk dengan pikirannya masing-masing,
Apa yang akan mereka lakukan, setekah lulus ?
dan hubungan ini bisakah terus seperti sekarang.
" Aku " Ucap Nathan dan Mauriel bersama-sama.
" Kamu duluan " Seru Nathan mengalah.
" Meskipun aku tidak sama seperti kamu, yang jatuh cinta pada pandangan, tapi sekarang dan untuk selamanya akan terus mencintai kamu " Kata Mauriel yang seketika wajahnya memerah.
__ADS_1
Nathan bahagia mendengar perkataan Mauriel, Ia mengelus rambutnya dengan lembut.
" Dan kamu juga harus ingat, baik dulu, sekarang, dan yang akan datang aku akan selalu mencintai kamu, tidak akan pernah meninggalkan kamu. Aku akan jadi pria yang sukses, lalu datang untuk melamar kamu, kemudian kita akan menikah dan hidup bahagia selamanya " Ucap Nathan dengan manis.
Mauriel sebenarnya sangat terharu dan menantikan hari itu akan datang, tapi Ia malu menunjukannya.
" Ihh....Nathan kita aja masih sekolah, ujian negara aja belum masa udah ngomongin nikah " Sahut Mauriel malu-malu sambil mengeletikin perut Nathan.
"Hahhahahha.... geli.....geli...." Teriak Nathan cekikikan.
" Sudah hentikan, Riel......aku capek ketawa mulu " Seru Nathan sambil mengatur pernapasannya, ketawa aja bisa bikin ngos-ngosan, Batin Nathan.
" Lagian kamu bercandanya, ada-ada aja " Ucap Mauriel merebahkan dirnya di atas rerumputan, kepalanya menengadah ke langit yang cerah.
" Aku lagi gak bercanda, ucapan aku serius " Kata Nathan dengan tegas, Ia tidak mau ucapannya di anggap main-main.
Nathan berpikir sejenak," Aku janji sama kamu, Riel. Aku akan menepati semua yang aku ucapkan ! kamu mau kan, kita berjuang bersama-sama ? " Nathan mengulurkan jari kelingkingnya, Mauriel melihat keseriusan di mata Nathan, dan mempercayai lelaki itu. Mereka berdua saling melingkarkan kelingkingnya, saling berjanji akan terus bersama-sama sampai maut memisahkan.
Lamunan Mauriel di sadarkan oleh bunyi dering ponselnya, tapi Ia enggan untuk mengangkatnya. air matanya masih terus mengalir membasahi wajahnya, rasa perih yang dulu Ia kubur, kini terbuka kembali.
" Dasar pembohong.....pembohong " Hanya itu yang Mauriel lontarkan berulang-ulang.
Mobil Nathan masih terparkir di depan rumah Mauriel, Ia tidak langsung menyalakan mesin mobilnya. Nathan membenamkan wajahnya ke tangannya yang di senderkan di setir kemudi, sejak bertemu kembali dengan Mauriel, dirinya sudah siap untuk melepaskan tangan gadis yang dia cintai, demi kebahagiaannya meski Ia harus terluka.
Niat awalnya mengunjugi keluarga Mauriel adalah untuk memberinya salam perpisahan, Ia akan berpamitan terlebih dahulu sebelum kembali ke Jepang.
Nathan menarik napas panjang, sebelum Ia mengetuk pintuk rumah yang sudah lama tidak di datanginya.
Tookkkk.....toookkk.....
" Siapa ? " Teriak seorang wanita dari dalam rumah.
Wanita itu membuka pintu, dan terkejut ketika melihat pria yang tidak asing baginya, berdiri di depan rumah, " Nak, Nathan "
" Selamat sore, Tante " Kata Nathan sopan sambil membungkukan badannya.
" Silahkan masuk ! sudah lama sekali, Nak Nathan tidak datang ke rumah. " Sahut Wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu angkatnya Mauriel.
" Permisi " Seru Nathan canggung. rumah ini tidak pernah berubah, hanya penghuninya saja yang berkurang satu, pikir Nathan.
" Pak. Bapak " Teriak Sartika memanggil suaminya.
" Ada apa toh, Bu.....sampe teriak segala " Sahut sang suami dari dapur, Ia baru saja membuat kopi untuk dirinya sendiri.
" Lihat Pak, siapa yang datang ke rumah kita " Seru Sartika dengan nada yang riang.
Sang suami tak kalah terkejutnya dengan sang istri," Ya Allah gusti, ada Nak Nathan " Teriak Irawan heboh.
" Duduk Nak, jangan berdiri saja di depan pintu. harap maklum kalau rumah Bapak tidak pernah berubah " Kata Irawan merendah.
__ADS_1
Nathan melihat sekeliing rumah, lalu menatap kedua orang tua Mauriel, " memang tidak ada yang berubah" Batin Nathan.
" Bagaimana kabar, Bapak dan Ibu ? " Tanya Nathan ramah.
" Kami baik, Nak ! Nak Nathan, sendiri gih mana kabarnya? betah tidak tinggal di negeri orang ? " Seru Pak Irawan.
" Baik Pak. Seindah-indahnya negeri orang, tetap saja lebih nyaman tinggal di negeri sendiri, Pak " Jawab Nathan sambil tersenyum.
" Bu jangan bengong saja ! bikinin minum donk untuk, Nak Nathan " Kata Irawan sambil menyenggol lengan Isteringa yang sedang melamun.
" Tidak usah repot-repot " Sahut Nathan merasa tidak eank hati
Sartika tersentak dengan senggolan suaminya, Ia sangat menyayangkan kandasnya hubungan Nathan dan Mauriel.
Selagi Sartika membuatkan teh di dapur, Irawan mengajak Nathan ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya Ia meninggalkan Nathan di ruang tamu.
" Lho....Bapak kemana ? " Tanya Sartika yang baru datang dari dapur.
" Katanya mau ke kamarnya sebentar, mau ngambil papan catur " Ucap Nathan sambil menyeruput tehnya.
" Dasar Bapak, tidak pernah berubah, Nathan baru datang langsung di ajak main catur " Gerutu Sartika, dan Nathan hanya menanggapinya sengan senyuman.
Sartika duduk di depan Nathan, dan langsung nyeletuk, " Sudah ketemu Mauriel, belum ? "
" Sudah, Bu " Jawab Nathan lirih.
" Pasti kamu sedih ya, saat mengetahui Mauriel sudah menikah " Ucap Sartika ceplas ceplos. Nathan hanya terdiam membisu.
Mulut besar Sartika masih saja terus mengoceh," Seharusnya yang menikah dengan Leon itu Mariska "
Nathan yang tidak terlalu fokus dengan ucapan Sartika cuma manggut-manggut, sambil bergumam kecil, " Oh....jadi namanya Leon "
Dan Sartika mengulangi kembali perkataannya, Barulah Nathan tersadar sambil membelalakan matanya, " Apa " Ucap Nathan tekejut.
Sartika ingin mengatakan sesuatu tapi suaminya keburu menghentikan ucapannya, Nathan yang ingin mengetahui lebih jelas lagi jadi gak enak untuk bertanya kembali, sepertinya Ayah Mauriel tidak mau mengatakannya lebih jauh.Setidaknya Nathan mengetahui sebagian besar rahasia Mauriel.
Pernikahan Mauriel dan Leon berarti karena sebuah kesalahan, bukan keinginan Gadis itu untuk menikah. Nathan merasa jadi mempunyai kesempatan untuk merebut Mauriel kembali ke sisinya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1