
...APA KESALAHANKU...
Leon mau menggendong Mauriel tapi Ia kalah satu langkah dari Lucas, dan lebih dulu membawa Mauriel pergi ke kamarnya.
Seluruh anggota keluarga tampak cemas melihat Mauriel jatuh pingsan, kemudian Papa segera menghubungi dokter pribadi mereka, dokter Sean.
Nenek duduk di sisi sebelah kanan, sedangkan Lucas di sebelah kiri sambil menunggu dokter datang.
Tiga puluh menit kemudian dokter datang, meminta Lucas untuk memberinya ruang dan memeriksa keadaan Mauriel.
" Kalia semua tidak perlu cemas, dia baik-baik saja hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran yang menganggunya " Seru Dokter Sean sambil menuliskan sebuah resep.
" Tapi kalau kondisinya semakin parah, sebaiknya langsung di bawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih hanjut." Dokter Sean memberikan saran kepada Leon.
" Aku mengerti, terima kasih untuk bantuannya " Kata Leon sambil mengantar Sean.
Rubia berdiri di depan pintu sambil bertolak pinggang, dengan perasan kesal.
Tak ada yang peduli tentang kehamiannya, tapi begitu Mauriel jatuh pingsan, semua orang langsung mencemaskannya.
" Aku semakin membenci dirimu " Kata Rubia mendengus.
Leon menyuruh Mama, Papa, Nenek, dan Lucas untuk membiarkan Mauriel beristirahat dengan tenang.
Mereka pun setuju dengan pernyataan Leon.
" Ada yang mau aku katakan dengan kakak " Seru Rubia.
" Penting tidak ? " Sahut Leon dengan datar.
" Sangat penting, ini tentang anak kita " Celetuk Rubia berbisik di telinga Leon.
Leon memandangi wajah polos Mauriel, mengusap pipinya dengan lembut.
" Baiklah " Kata Leon sambil berlalu dari kamar Mauriel, sementara Rubia mengikutinya dari belakang.
" Kamu mau mengatakan, apa ? " Tanya Leon tanpa basa basi.
Rubia merangkul Leon dari belakang, mengusapkan kepalanya di punggung pria itu.
" Apakah aku tidak bisa menjadi isteri kakak satu-satunya ? " Seru Rubia dengan suara yang di buat pilu.
" Maksudnya ? " Leon melepaskan tangan Rubia dari pinggangnya.
" Ceraikan Mauriel " Rubia menatap wajah Leon dengan serius.
" Apa ? " Leon tersentak mendengar permintaan Rubia.
" Aku ingin anak kita bisa mendapatkan haknya, memangnya kakak mau anak ini di hina oleh semua orang."
" Di dalam darahnya mengalir darah kakak, bukankah kakak sangat ingin menjadi seorang Ayah ? "
Rubia menarik tangan Leon, dan meletakkan tangan itu di perutnya. semua yang di katakan Rubia memang benar, dia sangat ingin menjadi seorang Ayah, dan harusnya Ia senang karena mimpinya akan segera tercapai.
" Kak Leon ? " Rubia membuyarkan lamunan suaminya.
" Iya " Jawab Leon tersentak.
" Kakak harus melakukan sesuatu untuk anak kita, bagaimana pun caranya, anakku harus menjadi pewaris Alexander group " Kata Rubia penuh ambisi.
__ADS_1
" Akan ku pertimbangkan " Celetuk Leon.
" Kakak serius ? Kakak gak bohong kan ? "
" Kakak akan menceraikan Mauriel ? " Ucap Rubia dengan wajah yang berbunga-bunga layaknya orang kasmaran.
" Iya " Jawab Leon tanpa ekspresi tapi matanya memancarkan keseriusan.
" Wanita hamil tidak boleh tidur terlalu malam " Seru Leon sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.
" Kakak mau menemui Mauriel ? " Rubia ingin mencegah kepergian Leon.
Leon menoleh kebelakang sambil tersenyum," Iya, aku ingin merawat Mauriel untuk yang terakhir kalinya "
Awalnya Ia tidak akan membiarkan suaminya pergi menemui wanita lain, tapi begitu mendengar perkataan Leon, hatinya bisa bernapas dengan lega.
Setidaknya Ia harus bermurah hati untuk wanita yang sebentar lagi akan pergi dari kehidupan suaminya.
" Aku msngizinkan kakak untuk menemuinya " Kata Rubia sambil menyunggingkan senyuman di wajahnya.
" Terima kasih " Seru Leon menutup pintu.
" Anakku, kamu memang membawa keberuntungan. awalnya aku sangat takut, aku tidak perlu lagi mencemaskan sesuatu yang tidak berguna. "
" Kejadian malam itu, harus aku simpan rapat-rapat di dalam hati ku " Gumam Rubia dengan tubuh yang gemetar.
...♡♡♡♡♡♡♡...
Leon duduk di samping Mauriel sambil mengusap pipinya dengan lembut, dengan melihat wajah Mauriel yang sedang terlelap bisa membuat jantungnya berdebar kencang.
" Seandainya kamu mengandung anakku..... " Gumam Leon dengan suara yang berat.
" Kau kan bisa membuatnya hamil, kenapa tidak terpikirkan di kepala mu "
" Sayang, bagaimana pendapatmu ? " Leon berbisik di telinga Mauriel dengan begitu lembut sambil mengkecup kupingnya.
" Tenang saja...aku tidak akan langsung memakanmu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menemui menemui dokter kandungan. " Leon mencium kening Mauriel, dan kemudian menempelkan bibirnya di bibir isterinya dengan penuh kehangatan.
" Selamat tidur, kelinci kecilku "
...♡♡♡♡♡♡...
Hari terakhir di bulan desember, di mana semua orang merayakannya dengan penuh suka cita, penuh dengan harapan yang harus di capai, dan tentunya memulai kehidupan yang baru.
Tapi sayangnya......malam tahun baru bagaikan sebuah petasan yang meledak di udara telah menghapuskan semua harapan Mauriel.
Dengan susah payah Leon membujuk Mauriel untuk menemui seorang dokter kandungan, Ia mau menolak permintaan dari pria itu tapi sayangnya sang Nenek mendukung Leon.
Pada akhirnya Mauriel terpaksa menuruti permintaan dua orang tersebut.
Mauriel sendiri tidak mempermasalah untuk bertemu dengan dokter tapi yang menjadi sumber masalahnya adalah Ia tidak mau mengandung anak dari pria yang telah mempermainkan perasaannya.
" Dokter tadi bilang apa ? " Leon mencoba untuk membuka kupingnya lebar-lebar.
" Sekali lagi, saya minta maaf.....Nyonya Alexander tidak akan pernah bisa menjadi seorang Ibu " Kata Dokter dengan raut wajah penyesalan.
" Apa ? Itu tidak mungkin, dokter pasti salah. "
" Pasti ada kesalahan dalam laporan ini, dokter tidak boleh mengerjai kami " Kata Leon dengan putus asa.
__ADS_1
Semalam Leon sudah membayangkan akan memiliki seorang putri yang cantik, dan akan mewarisi mata biru bagaikan permata sama seperti milik Ibunya, Mauriel.
Namun semua itu di hancurkan dalam sekejap, harapannya untuk bahagia bersama dengan Mauriel lenyap begitu saja.
" Dokter pasti sedang bercanda, itu tidak mungkin "
Leon tidak bisa terima perkataan sang dokter, baginya semua itu hanyalah tipuan semata.
Sedangkan Mauriel hanya terdiam dengan tatapan yang kosong, hatinya seperti beku tidak tahu harus senang, sedih, atau kecewa seperti Leon.
" Sekali lagi saya benar-benar minta maaf, dan kami tidak bisa berbuat banyak untuk membantu, kalian " Kata dokter bersimpati.
Di dalam perjalanan baik Leon maupun Mauriel, keduanya sama-sama membisu, sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hati Leon kembali bimbang, hatinya remuk harus memikirkan permasalahan hidupnya.
Dulu Leon bimbang harus memilih di antara Mauriel dengan Rubia. Dia mencintai Rubia tapi tidak mau kehilangan Mauriel dari sisinya.
Sekarang setelah Ia yakin dengan perasaannya, mencintai Mauriel dengan seluruh hidupnya dan siap untuk meninggalkan Rubia demi memiliki Mauriel sepenuhnya.
Dan takdir kembali mempermainkannya, hidup memang sebuah pilihan, namun pilihan macam apa yang harus menyakiti hati seseorang.
Sebuah pilihan yang sangat sulit untuk Leon.
Antara cinta dan keturunan, mana yang harus Ia pilih untuk masa depannya ?
Ia membutuhan Mauriel, sebagai teman hidupnya, wanita yang sangat di cintainya.
Namun di sisi lain, Ia juga membutuhkan seorang keturunan yang akan mengantikan posisinya, seorang penerus sejati.
Tiba-tiba Leon mengrem mendadak, menenggelamkan kepalanya di stir mobil. dadanya begitu sesak, untuk bernapas saja Ia tidak memiliki tenaga.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1