BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 31 : PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

...PERMINTAAN MAAF...


Begitu Leon bangun dari tidurnya, Ia sadar Mauriel sudah tidak ada di sampingnya. dengan tubuh telanjang Ia mengambil pakaiannya, dan pergi mencari Mauriel.


Leon menepuk pundak Mauriel dengan lembut, dari raut wajahnya terlihat rasa penyesalan telah melakukan itu. Seharusnya Ia tidak melakukan itu, apalagi tanpa meminta izin terlebih dahulu.


" Mauriel " Kata Leon duduk di sampingnya, tidak ada jawaban dari mulut Mauriel, Ia tetap membisu.


" Mauriel " Leon mencoba memanggilnya kembali, kali ini lebih keras.


Aku mengangkat kepalaku, dan menatap ke wajah Leon, Pria itu masih saja terlihat arogan di wajahnya.


Sadar dirinya di tatap, seperti seorang penjahat, Leon langsung meyakinkan dirinya sendiri bahwa yang Ia lakukan adalah benar.


" Kamu adalah isteriku, kamu milikku, dan aku berhak menyentuh kamu. " Kata Leon menghampiri Mauriel di taman. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya, tapi sifatnya yang arogan, Ia enggan untuk mengakui kesalahannya.


Aku memang isterinya yang sah, tapi apakah pantas seorang suami memperlakukan isterinya seperti seorang pelacur ?


Jangan-jangan dia menganggap diriku lemah, jadi dia merasa memiliki kuasa atas hidupku ?


" Bagaimana keadaan, kamu ? " Tanya Leon sedikit canggung.


" Memangnya aku, kenapa ? " Aku bertanya balik kepadanya.


" Aku minta maaf ! Semalam, aku terlalu emosi tidak seharusnya aku melakukan itu. " Seru Leon sambil menundukan kepalanya.


Aku tidak tahu apakah dia meminta maaf karena sudah mengauliku atau Ia menyesal sudah mengkhianati Rubia.


" Untuk apa meminta maaf, semuanya sudah terjadi. atau kamu menyesal karena aku bukan Rubia ? " Kata ku kertus.


" Bu...."


Aku memotong perkataan Leon," Anggap saja hal ini, tidak pernah terjadi. Lagi pula, aku memang wajib melayanimu sebagai isterimu yang sah." Kata ku sambil menatap matanya dengan tajam.


" Tapi, aku sudah memaksamu " Ucap Leon bergetar.


" Tidak masalah ! kamu kan sudah memberikan Ibuku Uang, jadi kamu berhak memakai barang itu sesuka hatimu. " Kata ku sedikit berteriak.


" Aku mohon, jangan ngomong seperti itu " Suara Leon terdengar kacau.


Lalu kami berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing.


" Kalau begitu, kita lupakan saja " Tanpa sadar aku mengatakan kalimat seperti itu.


" Apa ? " Teriak Leon dengan wajah yang terkejut.


" Dia ingin kita melupakannya, dan menganggapnya tidak pernah terjadi ? apa dia sadar dengan, apa yang di ucapkannya ? " Pikir Leon di dalam hatinya.


" Baik, kalau itu memang keingananmu. Kita anggap semuanya tidak pernah terjadi " Gumam Leon pelan namun terdengar pedas telingaku.


Entah kenapa, hatiku merasa sakit, saat Leon mengatakan itu. Padahal aku yang mengusulkannya. tapi...mengapa, jantungku berhenti berdetak.


" Sakit..... sakit sekali, aku tidak bisa bernapas."


Leon bangkit berdiri, pandangannya lurus kedepan, tangannya mengepal, dan rahangnya mengeras.

__ADS_1


" Tapi, jika terjadi sesuatu padamu, kamu harus mengatakannya kepadaku. " Kata Leon sambil menolehkan kepalanya dengan sorot mata yang menusuk.


" Maksudmu ? " Sahut Mauriel mengkerutkan keningnya.


" Aku rasa kamu paham dengan, maksudku " Kata Leon sambil berlalu.


" Jangan-jangan dia mengira aku akan mengandung anaknya. " Gumam Mauriel tidak memikirkan sampai ke arah situ.


" Hahhahahahah "


" Sangat konyol, itu tidak akan pernah terjadi. Kita hanya sekali melakukannya, gak mungkin langsung jadi. " Ucap Mauriel dengan bahu yang bergetar.


Sepeninggalnya, aku menegadahkan wajah ke langit, sinar matahari begitu cerah, tidak seperti hati ku yang gelap.


Bukan itu yang ada di pikiranku, seharusnya aku tidak mengatakan itu, tapi kenapa, bibirku tidak sanggup mengucapkan kata cerai ? Dengan begitu, semua masalah terselesaikan.


Aku bisa melanjutkan hidupku, dan Rubia bisa memiliki Leon seutuhnya tanpa harus berbagi dengan ku.


Berbagi ?


Memangnya aku pernah memiliki Leon.....


♡♡♡♡♡♡


Semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, hanya aku dan Leon yang belum ada, di sana.


Tidak sengaja aku berpapasan dengan dia, tapi kami seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Leon memenuhi janjinya, menganggap kejadian, semalam tidak pernah ada.


" Pagi " Jawab Nenek tersenyum ceria.


Lucas tidak menjawab sapaanku, tapi malah menodongkan seribu pertanyaan.


" Semalam Kakak ipar, kemana ? "


" Aku mencari kamu ke setiap sudut, tapi aku tidak menemukan, Kakak ? "


" Sayang sekali kamu menghilang, padahal pesta itu di buat untuk Kaka. "


Lucas memasang wajah kecewa bercampur ngambek seperti anak kecil yang kehilangan permennya.


" Aku minta maaf " Ucap Mauriel dengan raut wajah bersalah.


" Kakak tidak sakitkan ? wajah kakak terlihat pucat. " Lucas memegang kening Mauriel lalu menyentuh keningnya.


" Rasanya sama " Celetuk Lucas.


" Hmmmm " Mama berdeham kepada Aku dan Lucas.


" Mau makan atau mau ngobrol ? " Ucap Mama ketus.


Aku dan Lucas saling memandang satu sama lain, lalu tertawa kecil. Leon memperhatikan Mauriel, senyumnya sudah kembali seperti dulu.


Ada rasa kecewa terpancar di wajah Leon, ternyata gadis itu benar-benar sudah melupakan kejadian semalam.

__ADS_1


... ♡♡♡♡♡♡...


Malam harinya, sepulang kerja Ia mampir ke toko bunga, matanya melihat berbagai jenis bunga.


" Mau cari bunga, Pak ? " Tanya seorang pelayan tokoh dengan ramah.


" Iya, mba " Jawab Leon sambil memperhatikan jenis bunga mawar merah di depan matanya.


" Mau di kasih, ke siapa bunganya ? " Kata seorang pelayan wanita yang tengah hamil besar.


Leon memandangi pelayan itu dengan serius, lalu matanya terfokus ke arah perut pelayan yang membuncit.


Tiba-tiba Leon penasaran dengan usia kandungan sang pelayan toko," Sudah berapa bulan ? "


" Hah ? " Sahut pelayan sedikit terkejut.


" Suami kamu pasti senang, sebentar lagi bisa punya anak " Kata Leon dengan bibir tersenyum.


Tapi pertanyaan Leon membuat wajah pelayan toko menjadi murung, Ia menyadari kesalahannya begitu melihat perubahan wajahnya.


" Maaf " Ucap Leon dengan tulus.


" Kenapa bapak harus meminta maaf " Seru Pelayan toko sambil berusaha untuk tersengum.


Perkataan pelayan sama persis dengan yang Mauriel ucapkan tadi pagi.


" Sebenarnya, saya sudah membuat kesalahan kepada seseorang, dan sangat menyesali semuanya. "


" Saya cuma mau meminta maaf dengan tulus. "


Kata-kata Leon sudah menyentuh hati sang pelayan toko, Ia dapat melihat dengan jelas ketulusan yang terpancar di mata Leon.


" Hmmm....Apakah bunga ini, untuk isteri bapak ? " Pelayan toko mencoba untuk membantu Leon.


" Iya " Jawab Leon dengan wajah yang memerah, dan sekucur tubuh terasa panas.


Pelayan toko mengambil beberap bunga mawar putih, dan bunga tulip, lalu membuatnya menjadi buket yang sangat cantik, tidak lupa menaruh boneka beruang kecil di tengah bunga.


Pelayan memberikan bunga itu ke tangan Leon, Ia terkesima melihatnya, bunga itu terlihat sangat cantik dan penuh keindahan.


" Saya harap, isteri bapak bisa melihat ketulusan dari bunga itu. " Ucap pelayan tokok sambil tersenyum bahagai.


" Terima kasih " Sahut Leon sambil menyerahkan lima lembar uang berwarna merah.


Leon mengambil setangkai bunga tulip, lalu memberikannya kepada pelayan toko, sambil berujar kata " Maaf "


Pelayan menerima bunga pemberian dari tangan Leon, Ia mencium bunga sambil memejapkan kedua matanya, lalu tersenyum bahagia.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya


__ADS_2