
...DUNIA FANTASI...
Wajah Mauriel terlihat ceria ketika mengingat kenangannya dengan Nathan, Ia ingat terakhir ke dunia fantasi saat kelulusan sekolah.
Setelah pengumuman kelulusan Nathan tidak mengantarnya pulang ke rumah, melainkan ke kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta utara.
Kala itu mereka masih menggunakan seragam sekolah putih abu-abu dengan penuh bekas coretan di bajunya. Kami beruntung tidak ada larangan bagi anak sekolah, yang terpenting memiliki uang untuk membeli tiket, dan semua masalah menjadi beres.
Mauriel merasa bergairah sambil senyam senyum mengenang kenangannya bersama Nathan, lelaki yang pernah singgah di hatinya.
Tentu saja Leon bisa melihat perubahan wajah Mauriel, Ia tidak senang Istsrinya masih mengingat kenangannya bersama dengan pria lain.
Leon berteriak dengan suara yang datar," Kamu mau diam di situ seharian ? "
Aku mendengus mendengar perkataan Leon.
" Tunggu aku " Mauriel berlari mengejar Leon.
Karena tempat ini sudaj di sewa oleh Leon, mereka tidak perlu mengantri membeli tiket, dan petugas langsung menyuruh mereka masuk ke dalam.
Leon mengenggam tangan Mauriel, lagi-lagi Ia memaki dirinya sendiri yang tidak bisa mengkontrol emosinya. di dalam hatinya terasa ada lubang yang mengangga dan membuatnya merasa sakit, setiao kali gadis itu mengenang Nathan.
Jadi ini rasanya cara orang kaya bersenang-senang, mereka membuat tempat ini menjadi miliknya. Sesuatu yang tidak pernah Mauriel bayangkan.
Meskipun sejak kecil Mauriel kekurangan uang, tetapi hidupnya terbilang cukup bahagia, ada Ayah yang menyayanginya, dan ada Nathan yang akan selalu membahagiakannya, walaupun Nathan tidak sekaya Leon tapi bagi Mauriel semua itu sudah cukup.
Leon mengajak Mauriel untuk menaiki komidi putar, mereka berputar-putar di atas atas kuda di sertai dengan angin yang berhembus menerpa rambut mereka. Leon sangat menikmati permainan ini, sesekali bibirnya tersenyum melihat ke arah Mauriel yang tengah tertawa lepas.
Kali ini Mauriel yang menarik tangan Leon, Ia menunjuk ke arah kora-kora, perahu yang cukup besar, membawa mereka berayun tinggi ke depan dan ke belakang, pertama perahu akan bergerak lambat secara perlahan-lahan kemudian semakin tinggi, berayun dengan cepat.
Leon baru pertama kali naik kora-koea merasakan sensasi yang luar biasa, perutnya berasa di kocok-kocok, dan jantung terasa mau copot ketika perahu melambung tinggi, wajahnya pun berkeringat.
Ia melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya, wajahnya terlihat berani menaiki ini, Ia berteriak sangat keras di telinganya.
" Aaaaaaaaaaaaaa " Dengan mata yang berbinar-binar.
untuk menghilangkan rasa takutnya, Ia meletakan tangannya di atas tangan Mauriel, lalu mengikutinya berteriak sekencang mungkin.
" Aaaaaaaaaaaaaa "
Leon baru mau bernapas dengan lega karena sudah berhasil melewati permaianan itu, tapi sepertinya Mauriel tidak memberinya waktu untuk bernapas.
Gadis itu langsung duduk di atas bangku hysteria, Ia sebenarnya enggan untuk naik itu, tapi tidak mungkin membiarkannya menaiki hysteria sendirian. Di dalam hatinya Leon mengutuki orang yang membuat permainan ini.
__ADS_1
Hysteria adalah permaianan yang memacu adrenalin, kita seolah di lemparkan ke atas dalam waktu sekian detik, setelah itu langsung di hempaskan ke bawah dengan kecepatan yang tinggi.
Benar saja Jantung Leon seketika berhenti berdetak, Ia berdiri di tempatnya dengan tubuh yang bergetar.
" Kamu gapapa ? " Tanya Mauriel demgan wajah panik melihat sekujur tubuh Leon membiru.
" Ti-tidak apa-apa, cuma..... " Leon berlari ke arah rumput, di sana Ia mengeluarkan semua isi makanannya.
" Huueeekkkk "
Mauriel menepuk-nepuk tengkuk leher Leon dengan lembut, Ia sedikit menyesal mengajak Leon naik hysteria, sepertinya dulu Nathan juga muntah.
" Apakah cuma dia yang memiliki daya fisik yang kuat, Jadi Ia tidak merasakan apapun ? " Pikir Mauriel di dalam hatinya.
Mauriel memberikan sebotol air mineral kepada Leon, botol itu baru Ia minum sedikit tapi Leon sudah menghabiskannya sekali teguk.
" Sudah lebih enak ? " Tanya Mauriel sambil megelap keringat yang mengalir di wajahnya.
Leon mengangguk pelan.
Mereka duduk di bangku taman cukup lama, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, dan mataharipun sudah mulai terbenam.
" Maaf " Ucap Leon lemah.
" Padahal aku berharap kencan pertama kita menyenangkan, tapi aku malah mengacaukannya " Seru Leon dengan nada suara yang parau, merasa sudah gagal.
" Hahahahahahah " Mauriel tertawa terbahak-bahak, lalu menatap matanya dengan lembut.
" Seharusnya aku yang minta maaf, padahal kamu baru pertama kali main ke sini. Tapi aku langsung mengajak kamu bermain yang ekstream. "
Tiba-tiba Leon menanyakan sesuatu yang membuat Mauriel terkejut.
" A-apa dulu kamu sering kesini dengan Nathan " Tanya Leon menatap tajam mata Mauriel.
" Iya, tapi tidak terlalu sering kok " Jawab Mauriel sedikit canggung membicarakan mantan pacar di depan suaminya sendiri.
" Pasti sangat menyenangkan pergi bersama dengannya, tidak seperti aku memalukan " Kata Leon pesimis.
-
" Tidak juga kok ! Saat pertama kali naik hysteria dia muntah sama seperti kamu. tapi setelah itu dia jadi lebih beran-i " Mauriel menceritakannya dengan penuh semangat, Ia baru menghentikan perkataannya ketika melihat wajah Leon yang murung.
" Maaf " Ucap Mauriel sambil beranjak dari tempatnya, tapi tangan Leon menariknya.
__ADS_1
" Apa kamu masih mencintai dia ? " Gumam Leon dengan suara yang pelan.
Mauriel berdiri di bawah sinar matahari terbenam, pantulannya seperti seorang malaikat yang tengah turun dari langit, sambil tersenyum ceria, membuatnya jadi semakin bersinar.
" Sepertinya tidak " Sahut Mauriel.
Di satu sisi Leon senang mendengar pengakuan dari bibirnya, namun di sisi lain Ia takut gadis itu akan goyah.
Ia bisa melihatnya dengan jelas, pria yang bernama Nathan masih mencintai isterinya. dan Leon takut pria itu akan merebut Mauriel dari sisinya.
" Ayo, kita bermain yang lainnya ! kalau tidak nanti keburu malam. " Kata Maureil sambil berjalan ke arah istana boneka untuk merilekskan badan.
Mereka memainkan bombom car, saling menabrak satu sama lain sambil tertawa bahagia, mereka naik arum jeram yang membuat baju mereka basah, tapi keduanya tidak mempedulikan itu.
Mauriel juga mengajak Leon naik niagara-gara, wahana yang mirip dengan arum jeram tapi sedikit berbeda. Kita duduk di sebuah perahu lalu meluncur dari ketinggian beberapa meter lalu terjun kebawah kubangan air, dan otomatis baju kami basah kuyub. Padahal baru beberapa minggu yang lalu kami basah kuyub karena hujan.
Kami menggigil kedinginan tapi tidak membuat kami berhenti bermain.
Mauriel menatap wajah Leon dengan lekat, dan dia menyadari dirinya di liatin.
" Ada apa ? kamu mau mengatakan sesuatu ? " Tabya Leon sedikit salah tingkah.
Mauriel mendekatkan wajahnya ke wajah Leon, lalu ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi Ia lontarkan.
" Tidak jadi " Kata Mauriel sambil menjauhi wajahnya.
Sebenarnya Ia ingin sekali mengajak Leon menaiki permainan ekstream lainnya, tapi melihat kondisinya yang tidak memungkinkan, Ia mengurungkan niatnya.
Masih banyak permainan yang belum aku naiki, sangat di sayangkan, mungkin lain kali aku bisa mengajaknya lagi.
Ada satu wahana yang menarik perhatian Leon, lalu Ia mengajaknya untuk naik itu sambil mengenggam tangannya dengan erat
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1