BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 43 : CARI PERHATIAN


__ADS_3

...CARI PERHATIAN...


Leon tidak pernah mempedulikan kehadiran Mauriel, apalagi bersikap layaknya seorang suami. tiba-tiba Ia bersikap layaknya seorang suami.


" Sini aku bawain kopernya " Celetuk Leon mengambil koper yang di tarik oleh Mauriel.


Seluruh anggota keluarga memandangi perubahan sikap Leon yang begitu manis, tidak seperti biasanya.


" Tumben " Seru Mama heran.


" Kok di bilang tumben sih mam, aku kan mau bantuin isteriku yang mungil ini. " Kata Leon sambil tersenyum.


Mama menatap ke wajah suaminya yang berdiri di belakang Mauriel," Papa harusnya banyak belajar dari anak kita " Kata Mama sambil mendengus.


Papa cuma cengar cengir mendengar ocehan isterinya, Ia bukanlah tipe pria yang romantis, bahkan dulu yang mengajaknya pacaran adalah Livia, meski begitu Papa sangat mencintai Livia, isterinya yang bawel.


Mungkin itulah sebabnya Leon mencintai Rubia, sifat dingin Papa menurun kepada putra sulungnya, sedangkan sifat Mama yang selalu ceria nurun ke anak bungsunya, Lucas.


Aku memang belum pernah mendengar cerita percintaan Leon dengan Rubia, yang aku tahu adalah Ia sangat memcintai isteri keduanya selama bertahun-tahun.


Tapi hari ini, Leon mulai tertarik dengan wanita yang bernama Mauriel, gadis yang Ia beli dengan bayaran yang mahal.


Rubia tidak suka melihat kemesraan di anatara Leon dan Mauriel, dengan langkah yang manja Ia merangkul lengan suaminya.


" Kakak curang, masa cuma kopernya Mauriel yang di bawain " Seru Rubia.


" Dion " Kata Leon menoleh ke arah sekretarisnya.


" Iya Tuan muda "Jawab Dion datang menghampiri mereka bertiga.


" Tolong angkatin koper Rubia " Kata Leon sambil berlalu meninggalkan mereka.


" Baik Tuan muda " Sahut Dion.


Rubia memasang wajah tanpa ekspresi, " Leon benar-benar sudah berubah " Gumam Rubia.


" Kenapa liat-liat ? Jangan merasa senang dulu, Kak Leon tidak sungguh-sungguh mencintai kamu, dia hanya penasaran dengan mu. " Cibir Rubia dengan ketus.


" Kak Leon pasti segera mencampakanmu " Gerutu Rubia.


Mauriel memperhatikan langkah Rubia yang semakin menjauhinya," Wanita aneh " Kata Mauriel.


" Hahahahaha " Dion yang masih berdiri di situ ikut tertawa mendengar keluhan Mauriel.


... ...


...♡♡♡♡♡♡...


Suatu hari saat sedang makan malam bersama keluarga, tiba-tiba Leon mengagetkan semua orang dengan ucapannya.


" Minggu depan, Aku dan Mauriel akan merayakan bulan madu, kami. " Seru Leon sambil menatap semua anggota keluarganya.


" Uhhhukkkk.....uhhhukk....." Mauriel tersedak mendengar perkataan Leon, masalahnya Leon belum membicarakan hal itu dengannya.

__ADS_1


" Kakak mau bulan madu ? " Kata Rubia tidak setuju.


" Iya " Jawab Leon sambil menggenggam tangan Mauriel.


" kenapa, kalian kan bukan pengantin baru lagi " Celetuk Rubia sambil menatap sinis ke arah Mauriel.


" Karena kami belum pernah bulan madu " Seru Leon sambil tersenyum.


" Tapi......tapi.... " Nenek menyela perkataan Rubia.


" Nenek mendukung kamu, jika butuh sesuatu katakan saja " Kata Nenek sambil tersenyum.


" Kalau Papa sih terserah kalian saja " Ujar Papa tidak terlalu ikut campur kehidupan pribadi putranya.


" Gak boleh gitu donk Pa, Leon juga harus mengajak Rubia " Celetuk Mama tidak setuju.


Rubia senang ada orang yang mendukungnya, setidaknya Ia mendapat dukungan dari Ibu mertuanya.


" Masa bulan madu bertiga " Timpal Nenek.


" Ya gapapa donk Mam, kan sekalian bisa nunjukin ke dunia kalau Leon Alexander pengusaha muda yang memilili dua orang istri, hidup dengan sangat harmonis. " Kata Mama sambil senyam senyum.


" Aku tidak setuju " Teriak Nenek dengan tegas.


" Tapi Nek " Kata Rubia merengek.


" Kalau kamu mau bulan madu juga harus tunggu giliranmu, sekarang biarkan Mauriel pergi berdua dengan Leon. "


Semua terdiam dan tidak ada yang membantah perkataan Nenek, tidak ada satupun.


Tapi Ia tidak seperti Mama dan Rubia yang terang-terangan menunjukannya, Ia mau menyembunyikan perasaannya, apalagi Mauriel adalah kakak iparnya.


Setelah selesai makan, Mauriel langsung menarik tangan Leon ke taman belakang.


" Kenapa tiba-tiba mau bulan madu ? "


" Dan memutuskannya secara sepihak "


" Aku tidak pernah ingat kalau kamu mengatakan masalah ini " Kata Mauriel nyerocos banyak pertanyaan kepada Leon.


" Duduk dulu " Leon menuntun Mauriel ke bangku taman.


" Aku memang sengaja mengatakan semua itu di depan keluarga " Seru Leon menatap mata Mauriel yang bening.


" Kenapa ? " Tanya Mauriel balik menatap tajam wajah Leon.


" Pertama, kalau aku bilang dulu ke kamu otomatis kamu akan menolaknya mentah-mentah. "


" Kedua, aku ingin semua orang tahu kalau aku serius mau menjalin hubungan denganmu " Kata Leon percaya diri.


Walau sebenarnya Leon cuma mau menunjukannya kepada dua orang saja, Rubia dan Lucas.


Mauriel tidak bisa mengatakan apa-apa lagi semuanya sudah terjadi, dan Nenek sudah mendukungnya.

__ADS_1


" Dasar licik " Gumam Mauriel.


" Hahahhahaha " Meskipun pelan tapi tetap saja dapat dengar oleh Leon.


" Aku ingin bertanya sama kamu, kamu mau merayakan bulan madu, di mama ? " Giliran Leon yanv bertanya.


Mauriel malas menjawabnya, tapi Ia berpikir kalau Ia bilang ke luar negeri, mungkin saja Leon akan membatalkan rencananya.


" Korea " Jawab Mauriel dengan acuh tak acuh.


" Oke " Seru Leon.


" Apa ...kamu setuju begitu saja ? " Celetuk Mauriel membelalakan kedua matanya.


" Iya, apa ada masalah ? " Kata Leon menatap tajam wajah Mauriel.


" Tentu saja masalah, aku sengaja memilih ke luar negeri supaya kamu membatalkannya " Tanpa sadar Mauriel mengucapkan apa yang ada di kepalanya.


" Hahhahahahahha "


" Jadi itu alasan kamu pilih Korea, aku kira karena kamu ingin bertemu Lee min hoo " Gurau Leon.


" Lee min hoo gundul mu, kalau aku bisa ketemu dia, aku bakal ninggalin kamu " Gerutu Mauriel.


" Kalau gitu aku akan berdoa supaya kamu tidak bertemu dengannya." Kata Leon sambil senyam senyum melihat wajah Mauriel yang polos.


" Sudahlah aku mau tidur " Mauriel beranjak dari tempatnya, namun tangan Leon menahannya.


" Selamat malam, mimpi yang indah, ya " Ucap Leon seperti seorang kekasih yang lagi kasmaran.


" Selamat malam " Sahut Mauriel dengan ketus.


" Menarik, ternyata dia memiliki sisi yang lucu juga. " Kata Leon berbicara sendiri.


Tidak seperti Leon yang hatinya sedang berbunga-bunga, wajah Rubia tampak cemas dengan perubahan Leon yang begitu terang-terangan.


" Kalau di diamkan begitu saja, bisa-bisa aku di ceraikan. "


" Padahal susah payah aku mendapatkan Leon, bahkan aku rela mencampakan dia " Kata Rubia sambil menggigit jari-jari kukunya.


" Pokoknya aku harua cari cara untuk memisahkan mereka berdua " Celetuk Rubia mulai berpikir.


Mata Rubia bersinar seakan Ia mendapatkan hidayah dari sang Ilahi, bibirnya tersenyum dengan sinis.


" Mau merebut barang ku, suamiku yang sempurna, jangan mimpi kamu, Mauriel " Kata Rubia dengan wajah yang menyeramkan.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2