BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 70 : SIDANG PERCERAIAN


__ADS_3

...SIDANG PERCERAIAN...


Mauriel tersentak melihat ada Leon di depan gerbang dengan rahang yang mengeras, wajahnya begitu menyeramkan, bikin bulu kuduk merinding.


" Kalian berdua dari mana saja ? " Seru Leon menatap wajah adiknya, lalu lama menatap Mauriel.


Sedangkan Mauriel dengan Lucas saling berpandang-pandangan mencocokan jawaban mereka. tentu saja Leon memperhatikan gerak geriknya.


" Kakak jangan marah ! kami pergi untukmelihat-lihat kampus. " Ucap Lucas sambil menepuk bahu kakaknya, tapi Leon menepis tangan itu.


" Melihat kampus sampai selarut ini ? Memangnya kalian seharian di kampus ? atau sebenarnya kalian tidak pergi ke kampus tapi kalian pergi berkencan ? " Leon yang sejak tadi sudah cukup menahan kesabarannya, jadi meluap-luap ketika melihat mereka begitu akrab.


" Kalau kamu gak percaya dengan kami, ya sudah !! itu hak kamu, dan aku gak akan memaksa kamu untuk mempercayai aku. lagipula kita sebentar lagi bercerai, jadi kamu gak boleh ikut campur masalah pribadi ku." Kata Mauriel dengan nada yang tegas.


" Apa, kamu bilang ? Pengadilan belum memberikan keputusan, dan aku masih berstatus suami mu yang sah, otomatis aku berhak mengetahui kemana isteri ku pergi. " Leon mencekal tangan gadis itu hingga membuatnya merintih kesakitan.


" Sakit !!! Lepasin !!! " Mauriel berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan pria itu.


Leon mengendorkan genggamannya, Ia sadar telah menyakiti tangan Mauriel," Maaf !!! Aku tidak sengaja melakukan itu. " Serunya.


Mauriel memegangi pergelangan tanganya yang kemerahan sambil menatap tajam ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya.


" Kakak......" Lucas belum menyelesaikan perkataannya tapi Leon telah mendahuluinya.


" Aku tidak mengajak mu bicara, kamu jangan ikut campur, dan apalagi jadi orang ketiga di antara aku dengan Mauriel " Seru Leon dengan nada yang dingin.


Lucas hanya diam menatap wajah Leon, Ia mengepalkan kedua tangannya. Mau membantah tuduhan sang kakak, tidak akan ada gunanya, jadi dia menerimanya dengan lapang dada.


" Lucas bukan orang ketiga, hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik tidak lebih, semua yang kamu katakan tidaklah benar. " Kata gadis itu geram.


" Kamu lebih memilih membela Lucas dari pada suami mu sendiri ? apakah pria itu lebih penting ? " Leon sedikit menaikan nada suaranya.


" Sudahlah !!! Bicara dengan mu percuma saja, karena dirimu selalu merasa benar, dan di mata kamu, semua orang selalu salah." Mauriel tidak mau melakukan perdebatan yang begitu panjang dengan suaminya itu, dan memilih untuk meninggalkannya di sana.


" Mauriel, kamu harus ingat !! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa lepas dari tangan ku. Selamanya kamu tetap menjadi isteri Leon Alexander. " Tiba-tiba dengan suaranya yang lantang, pria itu membalikan tubuh menatap punggung yang semakin jauh meninggalkannya.


Mauriel tidak menghentikan langkah kakinya, Ia terus berjalan ke melangkah ke depan tanpa menoleh kebelakang. Perkataan Leon begitu jelas di telinganya.

__ADS_1


Leon mendorong bahu pria yang sedari tadi terus memperhatikannya,


sambil menatap sinis ke wajahnya," kamu pasti sangat senang melihat hubungan ku dengan Mauriel. Aku peringatkan pada mu, aku gak akan membiarkan kamu menyentuh milikku, sekalipun hanya seujung rambutnya. " Kata Leon setengah mengancam adiknya sendiri.


...♡♡♡♡♡♡♡...


Sepanjang malam Rubia tampak gelisah memikirkan sang peneror, malam itu memang Ia tersadar di sebuah hotel, dan Ia sama sekali tidak mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya.


Gadis itu menggigit jari kukunya, dan suhu badannya mendadak jadi panas dingin, Bagaimana jika Leon sampai melihat gambar tersebut ?


" Aku tidak mau bercerai dari Leon, anak ini adalah darah dagingnya, aku gak akan membiarkan semuanya menjadi kacau." Celetuk Rubia.


Di tengah kepanikan, ponsel yang ada di genggamannya berbunyi, ada sebuah telepon yang masuk membuyarkan lamunannya.


" Bagaimana ? Apa kamu suka dengan hadiah yang aku berikan pada mu ? Atau apakah kamu sudah ingat malam panas yang telah kita lalui bersama ? " Kata Seorang pria yang terdengar begitu familiar di telinganya.


" Tutup mulut mu atau aku bakal merobeknya " Teriak Rubia mengancam sang peneror.


" Hahahhahhahah " Pria tersebut justru senang bisa mendengar rasa takut yang keluar dari bibir gadis itu.


" Rubia sayang, aku juga seratus kali lipat lebih serius. Aku mau bertemu dengan mu " Pinta Pria itu sambil tersenyum.


" Kamu sungguh sudah gila, Aku tidak akan pernah sudi menemui mu walau hanya sedetik." Kata Rubia dengan nada yang sinis.


" Tentu saja pilihan ada di tangan mu, sayang. aku gak memaksa mu tapi jangan salahkan aku kalau suami mu melihatnya. " Pria itu mengatakannya dengan lembut namun terdengar menakutkan di telinga Rubia.


" Kau......"


" tuuuuut......tuuuuut......" Pria itu langsung mematikan sambungan teleponnya.


" Dasar brengsek " Rubia mengumpat dengan suara yang lantang.


...♡♡♡♡♡♡...


Dua minggu telah berlalu, dan hari ini sidang perceraian Mauriel dengan Leon yang pertama. Mereka semua hadir dalam persidangan, dan kalau tidak ada masalah maka prosesnya dapat berjalan lancar.


tampang Leon begitu tegang, lalu Ia menolehkan kepala ke wajah isterinya yang tampak tenang, gadis itu sadar di tatap oleh Leon terus menerus ikut memandanginya

__ADS_1


" Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin menyandang status janda, bahkan kau....." Leon melanjutkan kata-katanya di dalam hati. Kau berdandan begitu cantik di hari persidanganmu.


Mauriel menggelengkan kepalanya, sebegitu posesifnya kah pria itu sampai harus mengomentari riasan wajahnya.


" Terserah " Jawab Mauriel pendek.


Suasana bertambah panas ketika hakim serta jaksa memasuki ruangan, mungkin karena itulah kursi ini di namakan kursi panas. hakim menyuruh mereka berdua untuk bangkit berdiri, dan segera memulai sidang.


" Leon Alexander, Apakah kamu yakin ingin menggugat cerai isteri mu yang bernama Mauriel ? " Tanya Hakim sambil menatap wajah Leon.


Leon terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya Ia membuka mulutnya," I-iya aku menggugatnya. " Seru Leon melawan suara hatinya yang bertolak belakang dengan bibirnya.


Lalu hakim menoleh ke arah gadis yang berdiri di samping Leon, dan gilirannya yang akan di tanya oleh hakim," Bagaimana dengan mu, Mauriel ? Apakah kamu bersedia berpisah dari Leon Alexander ? "


" Iya " Jawab Mauriel begitu cepat sambil menghembuskan napasnya.


Hakim menganggukan kepalanya sambil menulis sesuatu di atas mejanya, suhu di ruangan pengadilan cukup dingin, namun semua orang yang ada di sini justru merasakan panas.


Leon bahkan berulang kali menyeka wajah, keringat terus membasahi keningnya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :


1. Anak Genius : Ayah sedingin es.


2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet


3. Paulina Menjadi Paula


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2