
...PESTA KEJUTAN...
Waktu berjalan sangat cepat, Jam dinding di kamar Mauriel menunjukan pukul lima lewat, Ia buru-buru pergi ke kamar mamdi.
Ini memang bukan pertama kalinya Mauriel jalan berdua sama Nathan, sejak pertemuannya yang tidak sengaja. Sampai akhirnya Nathan mengajaknya pergi untuk yang ketiga kalinya, Mauriel jadi deg-degan, Apalagi Nathan bukan sekedar teman biasa. Biar bagaimanapun, Nathan pernah tinggal di hati Mauriel cukup lama.
Aku sampai di gerbang sekolah, tempat yang penuh kenangan bersama Nathan. Untuk menuju taman sekolah, aku harus melewati kelasku yang dulu.
Aku berhenti di depan kelas, dan melihat ke bangku paling belakang. terlintas bayangan masa lalu. saat itu pelajaran sejarah, tapi Mauriel malah membenamkan kepalanya di tangannya yang di lipat di meja. Nathan melirik , dan menyenggol lengan Mauriel, tetapi Ia sama sekali tidak bergeming, justru semakin tertidur pulas.
Nathan yang duduk di sebelah Mauriel, ikut membenamkan kepalanya, ketika Pak Tama melirik ke arah mejanya. Memeajamkan kedua matanya sambil tersenyum.
Pak Tama adalah guru sejarah yang terkenal killer, melihat kedua muridnya sedang tertidur di dalam kelasnya , kemudian menghampiri meja Mauriel dan Nathan.
Pak Tama memukul meja cukup keras, mampu membangunkan Mauriel dan Nathan dalam sekejap.
Betapa terkejutnya Mauriel melihat Pak Tama berdiri di sampingnya dengan tampang yang sudah di tekuk, dan bola mata yang sebentar lagi akan lepas dari cangkangnya.
" Ma-Maaf, Pak....Saya tidak sengaja ketiduran " Seru Mauriel dengan muka bantalnya, dan ada butir-butir air yang sudah kering menempel di sekitar bibirnya.
" Sudah sampai mana mimpinya ? " Teriak Pak Tama dengan suaranya yang lantang sampai kedengeran keluar, siswa -siswi yang lalu lalang di depan kelas, ikut menonton dari luar jendela.
" Sampai Amerika, Pak " Celetuk Nathan, mencoba untuk menolong Mauriel, perhatian pak Tama beralih ke arah Nathan.
" Kalian berdua cuci muka ! setelah itu berdiri di lapangan, sampai pelajaran saya selesai. " Perintah Pak Tama memarahi Nathan dan Mauriel.
" Baik, Pak " Jawab Nathan dan Mauriel bersamaan, dan bergegas keluar kelas. tidak ada yang berani menyoraki mereka berdua. Kelas bertambah hening seperti kuburan.
" Hahaahah " Apa sih yang aku pikirkan, kenangan tentang Nathan, silih berganti menghantuinya. Mauriel melanjutkan perjalanannya menuju taman belakang.
Saat Aku sampai di taman belakang, ternyata Nathan sudah membuat pesta kejutan untuk merayakan ulang tahunku.
Di taman belakang sudah terpasang lampu kerlap kerlip yang tergantung di antara pepohonan, sedangkan di atas rerumputan sudah bertabur lilin yang menyerupai gambar hati, di bagian sebelah kiri ada papan bunga bertuliskan HAPPY BIRTHDAY MAURIEL.
Sementara Nathan dengan tenang berdiri di depan Mauriel, tersenyum dengan wajah yang ceria, sambil memegang setangkai mawar putih di tangannya.
Air mata ku berlinang, melihat semua kejutan yang sudah Nathan siapkan.
" Than, ini....." Kata Mauriel tidak sanggup berbicara, bibirnya seperti tersumbat saking terharunya.
" Surprise " Ucap Nathan lembut sambil menyerahkan bunga kepada Mauriel.
" Selamat ulang tahun, Mauriel " Bisik Nathan di telinga Mauriel, Ia masih membisu di tempatnya berdiri.
Nathan menarik tangan Mauriel, dan membantunya duduk di meja yang sudah, Ia siapkan.
__ADS_1
" Hey " Sapa Nathan memanggil Mauriel dari lamunannya.
" Kamu masih ingat, sedangkan aku...." Hanya itu yang keluar dari mulut Mauriel.
" Kamu memang tidak pernah berubah, masih saja tidak mengingat hari kelahiranmu, sendiri. " Seru Nathan sambil tertawa kecil.
Mauriel tidak hanya terharu dengan kejutan yang Nathan persiapkan, tapi jantungnya juga berdebar, ketika melihat penampilan Nathan.
Nathan terlihat imut, dengan mengenakan celana jeans hitam dengan, jaket hitam, dan kaos berwarna putih di dalamnya. Gaya standar remaja cowo kota, tapi bukan itu masalahnya, melainkan jaket yang Nathan kenakan adalah pemberian dari Mauriel.
" Kamu masih menyimpan itu ? " Seru Mauriel tidak percaya, jaket itu masih terlihat bagus walau sudah bertahun-tahun.
" Tentu saja ! jaket ini adalah salah satu harta karunku." Jawab Nathan sambil memegang jaket yang Ia kenakan.
Aku meminum segelas air untuk menghilangkan rasa canggung.
" Ah...tunggu sebentar " Kata Nathan beranjak dari kursinya, dan kembali membawa kue di tangannya sambil menyanyikan sebuah lagu untuk Mauriel.
Hari ini hari ulang tahunmu
Bertambah satu tahun usiamu
'Ku doakan bahagia selalu untukmu
Tercapai segala cita-citamu
Selamat ulang tahun, 'ku ucapkan untukmu
Semoga bahagia 'kan mengiringi langkahmu
Hanyalah doa dan rasa cinta
Yang tulus dariku 'tuk dirimu
Selamat ulang tahun, 'ku ucapkan untukmu
Semoga bahagia 'kan mengiringi langkahmu
Hanyalah doa dan rasa cinta
Yang tulus dariku 'tuk dirimu
Hanyalah doa dan cinta 'tuk dirimu
Aku menutup setengah wajah dengan tanganku, suamiku sendiri bahkan tidak tahu, hari ini aku berulang tahun, justru orang yang ingin aku lupakan, dia yang pertama kali memberikan aku ucapan. memang tidak mewah, tapi sesuatu yang sederhana terlihat istimewa di mataku.
__ADS_1
Nathan mendekatkan kue di wajahku, dan memintaku untuk meniup lilin.
" Tunggu....." Teriak Nathan sambil menjauhi kue dari wajahku.
" Apa ?" Sahut Mauriel menatap wajah Nathan.
" Make a wish, dulu " Ucapmya lembut.
Mauriel memejamkan matanya, dan berdoa kepada Tuhan, mengucapkan terima kasih, karena sudah di berikan kesempatan untuk terus hidup, di kelilingi orang-orang yang menyayanginya, tidak lupa Mauriel mendoakan hubungannya dengan Leon bisa semakin baik, mendoakan kesehatan Nenek, Kebahagian Papa dan Mama, mendoakan hubungan Mama dengan Lucas, dan mendoakan Rubia juga.
Dan juga berdoa untuk Nathan, semoga Nathan bisa melupakannya,memulai kehidupannya yang baru, dan menemukan gadis yang mencintainya. Amien.
" Fiiuuuuhhh " Mauriel meniup lilin dengan wajah yang cerah tanpa beban.
Nathan meletakan kue, dan bertepuk tangan layaknya anak kecil yang kegirangan.
" Nathan." Teriak Mauriel saat Nathan menowelkan kue di hidung Mauriel.
Mauriel mau membalasnya, namun Nathan keburu kabur, menghindari serangan Mauriel.
" Nathan, kemari " Teriak Mauriel mengejar Nathan.
" Tidak mau, coba saja kalau bisa ! bleeee " Sahut Nathan sambil menjulurkan lidahnya.
Nathan dan Mauriel saling mengejar satu sama lain, mereka tertawa lepas, seolah-olah mereka kembali ke masa lalu.
...♡♡♡♡♡♡...
Sementara di rumah, Lucas berhasil membuat kue untuk Mauriel, Ia melompat-lompat seperti kancil sambil mengenggam tangan sang koki yang mengajarinya.
" Aku berhasil.......aku berhasil....." Teriak Lucas kegirangan, lalu pergi meninggalkam dapur untuk bersiap-siap.
Kue dengan bentuk yang masih berantakan namun rasanya sangat terjamin, enak dan lembut. sama seperti sifat Lucas yang pecicilan namun hati'nya sangat hangat.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1