BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 24 : KEMBANG API


__ADS_3

...KEMBANG API...


Nathan menceritan sesuatu yang lucu, sehingga membuat Mauriel tertawa lepas.


" Hahahahaha.....masa, sih ? " Tanya Mauriel sambil menahan ketawa, perutnya sampai kram.


" Aduh.....duhh " Keluh Mauril memegangi perutnya


Nathan mendekati tubuh Mauriel, sehingga posisi mereka cuma berjarak satu jengkal, dan keduanya jadi salah tingkah.


Nathan membuang mukanya ke samping, sambim bertanya kepada Mauriel," Kenapa "


Mauriel belum sempat menjawab pertanyaan Nathan, karena tiba-tiba ada suara klakson mobil, dari belakang Nathan, spontan mereka berdua langsung menoleh ke arah mobil.


Seorang pria keluar dari dalam mobil, Mauriel menyipitkan matanya untuk melihat sosok yang menghampiri mereka.


" Leon " Ucap Mauriel nyaris tidak terdengar oleh siapapun.


" Kamu ngapain berdiri di luar ? sudah malam, bukannya tidur malah ketawa ketiwi. " Kata Leon dengan suara yang meninggi, dan rahang yang mengeras.


Baik Nathan maupun Leon, saling menatap dengan sorot mata yang sinis, dan dari mata mereka terpancar aliran listrik yang saling terhubung.


" Bzzzzttttt "


" Ka-kamu baru pulang ? " Seru Mauriel gugup seperti orang yang kepergok selingkuh.


" Iya " Jawab Leon singkat namun terdengar pedas.


Leon melirik sebentar ke arah Mauriel, lalu pandangannya kembali menatap wajah Nathan.


" Dia, siapa ? " Tanya Leon layaknya seorang suami yang menangkap basah selingkuhan sang isteri.


Mauriel baru mau membuka mulutnya, tapi Nathan sudah menikungnya," Aaaa "


" Nathan, man.....sahabatnya Mauriel." Sahut Nathan sambil mengulurkan tangannya.


" Leon, suamimya Mauriel " Kata Leon sengaja menekan kata suami, agar Nathan tidak menganggu isterinya.


Leon menyambut uluran tangan Nathan, dan memberikan tekanan yang keras saat keduanya saling berjabatan tangan. Tentu saja mata mereka juga saling beradu.


" Sayang....kok lama banget ? " Celetuk Rubia menyusul Leon.


" Kok, kamu keluar, Sayang " Seru Leon.


" Habis kamu lama banget, aku kan bosen " Ucap Rubia dengan suaranya yang manja.


" Sayang ? " Pikir Nathan sambil menoleh ke arah Mauriel, sorot matanya memancarkan sejuta pertanyaan.


" Kenapa, muncul seorang wanita "


" Kenapa, suaminya memanggil wanita itu dengan sayang "


" Apa hubungan mereka, sebenarnya ? mereka terlihat sangat intim "


Dan pertanyaan terakhir yang lebih membuatnya penasaran adalah, " Kenapa, reaksi Mauriel terlihat biasa saja. "


Mauriel tau apa yang ingin Nathan ketahui, tapi sekarang bukan waktu yang pas untuk menjelaskannya, Ia hanya menganggukan kepalanya kepada Nathan.


Rubia yang baru menyadari kehadiran Mauriel dan Nathan, " Sayang, itu siapa ? " Rubia menunjuk ke arah Nathan.

__ADS_1


" Oh.....Sa-ha-bat-nya Mauriel " Seru Leon dengan memperlihatkan wajah yang tidak enak di pandang.


"Hay ! Namaku Rubia, aku is...." Leon langsung menarik tangan Rubia ke dalam mobil.


" Than, aku masuk, ya. " Seru Mauriel buru-buru, namun Nathan mencengkram tangan Mauriel dengan erat.


" Nanti, aku jelasin " Kata Mauriel dengan wajah yang memohon, Nathan melonggarkan cengkramannya.


" Oke " Jawab Nathan pelan.


Mauriel membuka pintu gerbang, mobil Leon melintasi sosok Nathan yang masih berdiri di depan gerbang. tatapannya terus memandang wajah Nathan.


...♡♡♡♡♡♡...


Rubia menghentikan langkah Mauriel, " Riel, tolong bawain belanjaan donk. Soalmya badan aku udah lepek banget, mau segera mandi. " Kata Rubia, dan lansung menghilang begitu saja tanpa menunggu jawaban Mauriel.


" Hah " Mauriel menghela napas panjang, sambil berjalan menuju mobil, di sana Ia berpapasan dengan Leon.


Saat ini, wajah Leon tidak bisa di jelaskan. Tapi yang pasti Ia terlihat seperti seekor singa, yang siap menerkam mangsanya.


Leon menarik tangan Mauriel, lalu mencium bibirnya dengan paksa, ciumannya kasar dan penuh dengan nafsu.


Aku sekuat tenaga mendorong tubuh Leon, tetap saja masih kalah jauh, semakin aku menjauhinya, tangan Leon semakin menekan tubuh Mauriel. Tidak ada cara lain, selain menggigit bibir Leon.


" Auuwwww " Leon menjerit kesakitan sambil melepaskan tubuh Mauriel, bibirnya berdarah.


Mauriel menjatuhkan belanjaan Rubia, dan berlari meninggkan Leon, begitu saja tanpa menoleh ke belakang.


" Brengsek " Teriak Leon sambil menendang ban mobilnya, Ia tidak mempedulikan bibirnya yang terluka.


Leon marah bukan karena Mauriel sudah mengigitnya, tapi Ia marah dengan dirinya sendiri.


Leon tidak suka melihat Mauriel tersenyum dengan pria lain, apalagi dia belum pernah melihatnya sebahagia itu. dan yang membuat Leon semakin panas adalah, karena ini sudah yang kedua kalinya Ia memergoki Mauriel dengan Nathan, Rasanya Ia ingin menghajar pria, yang bernama Nathan.


...♡♡♡♡♡♡...


"Gak mau ilang, gak bisa ilang " Teriak Mauriel berulang kali sambil terus membilas bibirnya dengan air.


" Toookkk....toookkk..." Suara ketukan pintu mengagetkannya.


" Siapa ? " Teriak Mauriel dari dalam kamar mandi, kalau Leon masih berani datang menemuinya, Mauriel berjanji akan memukul kepalanya.


" Kakak ipar, ini aku " Sahut Lucas.


" Ada apa ? " Tanya Mauriel melupakan janjinnya dengan Lucas.


" Kakak ipar " Seru Lucas dengan mata yang hampir menangis.


" Apa ?" Bentak Mauriel.


" Kakak, melupakannya " Seru Lucas, padahal dia sudah susah payah membuat kue.


" Astaga " Pekik Mauriel sambil menepuk jidatnya.


" Maaf " Ucapnya dengan tulus.


Lucas menarik napas panjang, " Gapapa, masih kurang sepuluh menit, masih ada waktu " Kata Lucas sambil menutup mata Mauriel dengan sehelai kain.


Leon mau meminta maaf kepada Mauriel, tapi Ia satu langkah lebih lambat dari sang adik.

__ADS_1


Lucas mengandeng tangan Mauriel, dan membawanya ke taman belakang.


Diam-diam Leon mengikuti mereka ke taman belakang.


" Dalam hitungan ke tiga, Kakak ipar, boleh membuka mata " Seru Lucas sambil bersiap-siap menyalakan petasan


" Satu "


" Dua "


" Tiga "


DUARRRR.......


Di langit terlihat bintang -bintang yang bersinar bercampur dengan cahaya kembang api yang berwarna warni. pecah dan berpendar indah di langit yang hitam.


" Selamat ulang tahun, Kakak ipar " Ucap Lucas sambil tersenyum di bawah cahaya kembang api.


Mauriel terpesona dengan Lucas, sosoknya begitu berkilauan.


Yang tadinya, hatinya menghitam perlahan-lahan setitik cahaya warna warni menghiasi relung hatinya.


Sebelum kembang habis, Lucas mengambil kue yang Ia buat dengan susah payah. Mauriel sempat mengangkat kedua alisnya, ketika melihat bentuknya yang abstrak.


Lucas melangkah pelan-pelan mendekati Mauriel sambil bernyanyi, " Tiup lilinya, tiup lilinya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang ju-ga "


Mauriel memejamkan kedua matanya, doa yang sama dengan yang tadi di taman sekolah, cuma sedikit di revisi.


Perbedaannya cuma sedikit, Mauriel tidak menyebutkan nama Leon di dalam doa'nya.


" Fiuuuuh " Mauriel meniup kue ulang tahun yang kedua kalinya.


" Kakak, harus memakan kue ini " Celetuk Lucas tidak menepuk tangannya.


" Kue itu ?" Tunjuk Mauriel dengan ekspresi ragu untuk memakan kue.


" Iya, aku membuatnya sendiri " Ucap Lucas berbinar-binar.


" Tapi kue'nya tidak beracunkan " Canda Mauriel, sambil memakan sepotong kue.


" Bagaimana ? " Tanya Lucas dengan wajah yang tegang.


" Hmmmm.......luar biasa, sangat enyak " Ucap mauriel ketagihan dan memakan sepotong lagi. Saking senangnya, Lucas memeluk Mauriel dengan erat.


" Aku senang Kakak, menyukainya " Bisik Lucas di telinga Mauriel.


" Happy birthday, Mauriel " Lucas mengucapkannya sekali lagi.


Leon yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon, mengepalkan tangannya, hingga kuku'nya menembus kulitnya.


Semuanya mengetahui ulang tahun Mauriel, dia jadi semakin membenci dirinya sendiri tanpa alasan.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2