BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 25 : LIMITID EDITION


__ADS_3

...LIMITID EDITION...


Kehidupan penuh dengan berbagai macam rasa, ada manis, pahit, sedih, senang, dan duka bercampur menjadi satu rasa.


Sama seperti hari ini, Mauriel merasakan semua rasa kehidupan di hari ulang tahunnya, meski bukan hari kelahiran yang sesungguhnya tapi buat Mauriel, tahun ini begitu spesial, banyak orang yang mengingatnya.


Rasa manis karena kenangan masa lalu yang muncul kembali kedalam hidupnya, seperti makan coklat lembut dan bikin kecanduan.


Nathan dan Lucas ternyata memberikan kado yang serupa, sama-sama memberikan sebuah boneka.


Dari Nathan boneka sapi, sedangkan Lucas boneka beruang. Mauriel sedang rebahan di atas tempat tidurnya, sambil memandangi kedua boneka tersebut.


" Dua bodoh itu, di kira aku masih kecil yang suka main boneka. tapi di liat-liat mereka lucu juga " Gumam Mauriel, boneka yang lembut dan halus untuk menemani tidurnya.


Perlahan-lahan mata Mauriel terpejam sambil memeluk kedua bonekanya, seutas senyuman menghiasi bibirnya yang mungil.


...♡♡♡♡♡♡...


" Selamat pagi, Nenek " Sapa Mauriel dengan wajah yang ceria.


" Nenek, aku minta maaf karena semalam..."


" Gapapa, Nenek paham." Sahut Nenek memaklumi.


" Nenek memang yang terbaik ! Aku sayang, Nenek " Bisik Mauriel mendekap erat bahu sang Nenek.


Nenek mengambil kado yang sudah Ia persiapkan, sejak kemarin.


" Selamat ulang tahun, cucu ku sayang " Ucap Nenek sambil memberikan sekotak hadiah yang terbungkus cantik.


" Terima kasih, Nek " Kata Mauriel dengan air mata yang berlinang di wajahnya.


Air mata yang sejak semalam Ia tahan, Ia luapkan di hadapan Nenek, dan Nenek malah mengejek Mauriel.


" Sudah tua kok masih cengeng, jangan pernah menunjukan kelemahanmu, kamu harus tumbuh menjadi kuat, dan terus lah berdiri tegak walau kamu sering terjatuh. " Nenek menepuk-nepuk punggung Mauriel dengan lembut


" Iihhhh....Nenek !!! terima kasih, Nenek selalu ada untuk Mauriel "


Perasaan hangat yang belum pernah Mauriel rasakan, Ia temukan di dalam diri Nenek.


" Aku boleh membukanya ? " Tanya Mauriel setelah bebrapa saat mereka terdiam.


" Tentu boleh, sayang " Jawab Nenek, lalu Mauriel membukanya dengan hati-hati.


" Nenek ini...." Mauriel merasa tidak pantas menerima barang pemberian dari Nenek yang begitu mahal.


" Kalung ini pasti harganya sangat mahal, dengan mata yang tertutup saja pasti sudah tahu " Pekik Mauriel.


" Kalung ini tidak seberapa, Nak ! pengorbananmu jauh lebih mahal dari harga kalung ini " Seru Nenek.


Bagi Nenek memberikan seluruh harta warisannya tidak akan pernah cukup untuk membalas semua jasa Mauriel.


" Jangan menolak ! karena kamu layak, menerimanya "

__ADS_1


Nenek membantu Mauriel untuk memasangkan kalung di lehernya.


" Lihat, kalung ini sangat cocok " Nenek memuji penampilan Mauriel yang sangat cantik mengenakan kalung itu. Mauriel mencium Nenek berulang kali.


Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, hanya Mauriel dan Nenek yang belum datang.


" Maaf, kami terlambat. Kalian pasti lama menunggu " Seru Nenek dari atasa tangga.


" Gak kok, Mam " Jawab Mama sambil menarik kursi untuk Ibu mertuanya.


Mama yang tidak sengaja berpapasan dengan Mauriel, melihat kalung yang ada di lehernya.


" Ya....ampun itu kan " Teriak Mama heboh.


" Ada apa, Ma " Papa ikutan panik, sampai beranjak dari kursinya.


" Itu " Mama menunjuk ke arah Leher Mauriel. Papa yang tidak mengerti cuma menanggapinya biasa saja, I


" Cuma kalung, di kirain ngliat setan " Sahut Papa kembali duduk ke kursinya.


" Masih pagi begini, mana ada setan " Gerutu Mama.


" Percuma ngomong sama Papa, gak akan paham " Ujar Mama lagi, dengan bibir yang cemberut.


Rubia yang penasaran, ikut mendekati Mama dan Mauriel berada.


" Ada apa, mam ? " Tanya Rubia kepo.


" Ini lho, di lehernya Mauriel ada kalung, limited edition " Mama menunjukannya lagi.


" Riel, dari mana, kamu dapat kalug ini ? " Tanya Rubia sambil mengusap kalungnya.


" Oh....ini ? ini kado dari Nenek "Ucap Mauriel sambil tersenyum


" Apa ? " Mama dan Rubia berteriak secara bersamaan, dan semakin menggema keseluruh ruangan.


" Mami, membelikan kalung itu untuk Mauriel ? " Tanya Mama.


" Iya, memangnya ada masalah ? " Seru Nenek balik bertanya.


Mama mengelus kursi yang ada di depannya, sambil menggerutu," Gak ada sih, Mam. Cuma barang itu kan sangat mahal harganya, udah gitu cuma ada satu di dunia "


" Nenek curang masa cuma Mauriel yang dapat, padahalkan cucu menantu Nenek, gak cuma Mauriel.


Aku kan juga menantu, di rumah ini. " Rubia mengeluh tidak bisa menerima atau lebih tepatnya, di dalam hatinya timbul rasa iri dan dengki.


" Kalian ini " Seru Papa sambil menggelengkan kepalanya.


" Kemarin, ulang tahun Mauriel. Makanya aku membeli kalung itu sebagai kado " Nenek menjelaskannya.


" Jadi.....kemarin Mauriel, berulang tahun " Tanya Papa sambil menatap wajah Mauriel.


" Papa telat ngucapin donk " Papa merasa bersalah karena tidak mengetahuinya.

__ADS_1


" Gapapa kok, Pa " Sahut Mauriel dengan nada yang halus.


"Selamat ulang tahun, Mauriel. Semoga panjang umur, sehat selalu, semakin cantik, dan semoga cepat di berikan momongan " Kata Papa mendoakan menatunya.


" Uhhuukkk....uuhuuk " Leon terbatuk saat mendengar perkataan Papa.


Rubia segera menghampiri kursi Leon," Pelan-pelan donk, Kak. Gak ada yang minta " Celetuk Rubia sambil menuangkan air putih di gelas Leon.


" Terima kasih, sayang " Leon masih merasakan ada yang nyangkut di lehernya, karena Ia masih terbatuk-batuk.


" Duk " Mauriel memukul Punggung Leon, dan benar ada yang keluar dari mulut Leon.


" Te-ri -ma ka-sih " Gumam Leon canggung


Leon masih belum berani menatap wajah Mauriel, Ia sadar akan kesalahannya semalam, tidak seharusnya dia mencium Mauriel dengan paksa.


" Lusa, kita ada kan pesta ulang tahun, untuk Mauriel. " Papa memberikan usul.


" Boleh juga " Sahut Nenek.


"Aku sih terserah aja " Seru Mama acuh tak acuh.


" Aku juga sama, ngikut aja " Kata Rubia dengan wajah yang di tekuk.


" Aku setuju " Jawab Lucas dengan penuh semangat.


" Kalau di izinkan, aku yang akan membuatkan kuenya " Teriak Lucas.


Semua mata terfokus ke wajah Lucas, seakan mereka kompak mengatakan, " Kamu mau membunuh kami dengan masakanmu "


Maklum saja tidak ada yang tahu Lucas sudah bisa membuat kue yang super lezat namun dengan bentuk yang abstrak.


" Untuk kue, nanti aku yang akan membelikannya " Kata Leon menawari diri.


" Tidak bisa " Celetuk Lucas, tidak mau mengalah.


Nathan dan Lucas beradu mata, yang memancarkan aliran listrik.


" Sudah....sudah....jangan bertengkar " Kata Nenek melerai kedua cucunya.


Nenek membagi tugas kepada kedua cucunya," Leon yang akan bertanggung jawab atas kue, dan kamu yang bagian dari dekorasi "


Lucas sedikt kecewa dengan perintah Nenek, padahal Ia mau menunjukannya kepada Mama dan Papa.


Mauriel tersenyum bahagia karena memiliki keluarga yang menyayanginya, sementara Rubia merasa sangat iri dengan perlakuan keluarganya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2