
...SEBUAH PERINGATAN...
Mauriel duduk di taman belakang, sambil menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip. Tiba-tiba ada seseorang duduk di sampingnya.
" Hey " Sapa Seorang pria yang memakai topeng.
Mauriel meliriknya sekilas lalu menengadahkan kepalanya melihat bintang-bintang yang gemerlap di awan-awan hitam
Pria itu mengajaknya berbicara lagi," Kok yang ulang tahun malah duduk sendirian "
Mauriel menatap tajam wajah si pria bertopeng, baru kenal tapi udah sok akrab," Mas bawel banget deh "
" Hahahahahah "
Mauriel menatapnya dengan mengkerutkan keningnya, tuh orang di jutekin, tapi malah ketawa. pikir Mauriel di dalam hatinya
" Sorry....sorry..." Kata Pria bertopeng.
" Aku keluar karena mau menghirup udara segar, tapi malah di ganggu sama orang yang gak di kenal. " Gumam Mauriel di dalam hatinya. Mauriel baru mau beranjak berdiri, tapi tangan pria itu menahannya.
" Tunggu " Kata Pria bertopeng sambil bangkit berdiri dari tempatnya.
" Aku tahu kamu lagi sedihkan " Ucap si Pria itu mendekati Mauriel.
" Sok tahu " Gerutu Mauriel dengan nada yang pedas.
" Tentu saja, aku tahu " Kata Si pria bertopeng sambil mengenggam tangam Mauriel, namun Ia mencoba melepaskan tangan si Pria bertopeng.
" Lepasin " Bentak Mauriel.
" Ini aku, masa kamu gak ngenalin, aku " Seru Si pria bertopeng.
Mauriel mendekati Pria itu lebih dekat lagi, lalu melepaskan topeng yang melekat di wajahnya.
" Nathan " Teriak Mauriel membelalakan matanya, Ia tidak menyangka, Nathan sangat berani datang ke kediaman Alexander.
" Aku sedikit kecewa karena kamu lupa dengan suaraku " Bisik Nathan di telinga Mauriel.
" Ka-kamu ngapain datang, kesini ? " Tanya Mauriel tanpa basa basi.
" Mau ketemu sama kamu " Jawab Nathan sambil tersenyum.
" Kamu udah gila ya, Than " Mauriel mengecilkan suaranya.
" Kenapa ? Aku datang ke sini sebagai tamu " Ujar Nathan.
" Tapi kan gak ada yang ngundang kamu " Seru Mauriel
__ADS_1
" Aku datang karena kaki ini, yang melangkah dengan sendirinya " Sahut Nathan dengan santai.
" Nathan " Teriak Mauriel saking gemasnya.
" Sssttttt " Nathan menempelkan telunjuknya di bibir Mauriel.
" Aku tahu kamu terpaksa mengantikan Mariska, untuk menikah dengan Leon " Ucap Nathan.
" Ka-kamu tahu dari mana " Seru Mauriel dengan bibir yang bergetar.
" Gak penting aku tahu dari mana, sekarang aku mau tanya sama kamu " Kata Nathan dengan wajah yang serius sambil menyentuh kedua pipi Mauriel.
" Apa, kamu bahagia dengan pernikahanmu ? " Suara Nathan penuh dengan penekanan.
Mauriel menatap mata Nathan, mulutnya seperti tercekat, ada sesuatu yang menganjal di tenggorokannya.
" Jawab, Riel " Kata Nathan mendesak Mauriel.
Napas Mauriel sesak sampai-sampai Ia kehabisan oksigen, dan jantungnya berdetak dengan kencang,
Nathan mengusap pipi Mauriel dengan lembut, kali ini suaranya lebih halus mengulangi perkataannya namun sedikit berubah.
" Kamu mencintai dia ? "
Air mata menetes membasahi wajahnya, Ia menangis tanpa suara hanya terdengar isakan dari bibirnya yang mungil. Nathan memeluk gadis itu dengan erat, dan mengusap rambutnya, seakan Ia juga merasakan sakit yang sama dengan Mauriel.
Mauriel yang sudah menikah, dan Nathan masih menyimpan perasaannya untuk gadis yang sudah bertahun-tahun mengisi hatinya.
Pertemuan pertama mereka menjadi awal bagi Nathan untuk melepaskan gadisnya, namun saat kenyataannya terbongkar Ia enggan untuk menyerahkan Mauriel kepada pria lain.
Nathan mendekatkan bibirnya ke bibir Mauriel, lalu menciumnya dengan sepenuh hati, sehingga Mauriel tidak menyadari bahwa di belakang Mauriel ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan wajah yang membeku. Mauriel mendorong tubuh Nathan namun semuanya sudah terlambat.
" Mauriel "
Mauriel menoleh dengan wajah pucat pasi. Suaminya, Leon berdiri di belakang mereka, Mauriel pun terkejut melihat suaminya berdiri di sana.
Leon tidak menyangka kalau Mauriel akan berselingkuh, Hatinya panas dan emosinya teraduk dalam dadanya, kental dengan rasa sakit hati dan kemarahan.
" Brengsek ! Jadi ini yang kamu lakukan, pantas saja kamu selalu bersama dengan dia "
Leon menghampiri Mauriel, mencekal lengan isterinya. Mauriel mengaduh kesakitan.
" Dengarkan aku dulu, Kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu lihat " Teriak Mauriel sambil melepaskan tangan Leon yang menyakitinya.
" Salah paham katamu ? Apanya yang salah paham, jelas-jelas aku melihat kalian berciuman. " Kata Leon dengan suara yang membentak. Ini sangat mengejutkan dan membuat harga dirinya porak poranda. Ciuman Nathan yang di lihatnya tadi, sangat mesra, sangat hangat, dan orang bisa melihatnya kalau pria itu mencintai isterinya.
Tidak ada raut penyesalan di wajah Nathan, justru dia sangat berharap Mauriel pisah dengan Leon.
__ADS_1
Leon mendekati Nathan, dan menonjoknya tepat di rahangnya.
Brukkk.....
Nathan mengelus rahangnya yang sakit, dan membalas pukulan Leon.
" Jangan ! hentikan Than " Teriakan Mauriel membuat Nathann menghentikannya. hatinya panas karena Mauriel masih membela Leon. Padahal jelas-jelas Ia tidak bahagia dengan pernikahannya, dan pria itu sudah menyakiti hatinya.
Nathan tahu Leon memiliki isteri lain, dan Ia tahu suaminya sangat mencintai wanita yang bernama Rubia, karena saat Leon mencium Rubia di depan Mauriel, Ia berdiri di sana memperhatikan mereka.
Tapi yang Nathan tidak mengerti, mengapa Mauriel masih mempertahankan pernikahannya, dan tetap berada di dalam rumah itu untuk menyaksikan suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Leon yang tersungkur di tanah karena pukulan Nathan, ia bangkit berdiri sambil memegangi wajahnya yang bersimbah darah.
Leon mau memukul Nathan lagi, namun tangan Mauriel menahannya, Ia menatap dingin wajah sang isteri.
Tidak ada satupun orang yang mendengar pertengkaran mereka, suara musik terdengar sampai kehalaman belakang, namun suara hantam bagai angin lalu di kuping mereka.
" Sudah cukup, hentikan " Teriak Mauriel sambil menangis, Ia tidak mau melihat Nathan ataupun Leon saling menyakit satu sama lain.
" Kamu takut, aku menyakitinya " Teriak Leon.
" Ya, dan aku tidak mau melihat kalian saling menyakiti satu sama lain. " Seru Mauriel dengan mata yang berkaca-kaca.
" Ini bukan yang pertama kalinya aku melihat kalian bersama " Sahut Leon dengan rahang yang mengeras.
" Yang pertama, aku melihat kalian di bioskop, dan aku mengabaikannya "
" Yang kedua, saat dia mengantarkan kamu pulang, aku ingin sekali menghajarnya, namun aku tetap menahannya. "
" Dan yang ketiga, berani-beraninya kalian berciuman di rumah ku sendiri. Aku jadi menyesal telah mengabaikanmu, seharusnya aku memberimu peringatan " Kata Leon sambil menatap ke arah Nathan.
" Dan sekarang, aku memperingatimu jangan pernah mendekati isteri ku lagi. " Leon mengatakannya dengan tegas dan penuh penekanan.
Lalu Leon menarik tangan Mauriel, dan membawanya pergi dari tempat itu, membiarkan Nathan seorang diri.
Nathan mau mengejar Mauriel, tapi niat itu Ia urungkan, Dia sadar akan posisinya, tidak mempunyai hak untuk mengambil Mauriel dari dalam rumah, kecuali gadis itu sendiri yang datang menghampirinya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya.
__ADS_1