
...BOLEHKAN...
Rubia sampai di bandara internasional incheon, dan langsung pergi ke sebuah hotel bintang lima, Rosana boutique hotel.
Hotel yang terkenal karena memiliki pemandangan yang sangat indah. Pemandangan tersebut adalah pemandangan alam dan bunga Sakura yang dapat kita nikmati saat menginap karena hotel ini berada di sekitar danau Seokchon.
Di lokasi danau tersebut ada banyak sekali spot keindahan alam terbaik dan juga banyak tumbuh bunga Sakura.
Tanpa sepengetahuan Rubia, Lucas pergi pergi mengikutinya. lalu memata-matai gerak-gerik wanita itu yang mencurigakan.
Lucas curiga Rubia akan mengacaukan bulan madu Mauriel dengan Leon, meskipun dirinya juga sakit melihat mereka bersama tapi Lucas masih bisa bertahan.
Rubia pergi ke restoran terdekat untuk makan malam, Ia sengaja tidak memberitahu kedatangannya kepada Leon karena mau memberinya kejutan.
" Dasar rubah ! Kau mau menyakiti hati Mauriel lagi, aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya. " Seru Leon sambil memperhatikan Rubia.
" Mauriel.....Mauriel....karena dirimu aku sampai datang kemari " Celetuk Lucas sambil senyum senyum mengaduk gelas yang sudah kosong.
...♡♡♡♡♡♡...
Mauriel merasa malam ini begitu panjang, hatinya berdegup kencang mengingat perkataan Leon.
Dan ini adalah malam terakhir mereka di korea, rasanya jauh berbeda dengan malam sebelumnya.
Terdengar suara shower dari dalam kamar mandi, Mauriel menelan ludahnya sendiri saking gugupnya.
Mauriel menutupi seluruh tububnya dengan selimut, entah kenapa, Ia merasa seperti seorang pengantin baru.
" Tenang ! Jangan gugup, tidak akan terjadi apapun malam ini. " Mauriel menarik napas dalam-dalam.
" Semuanya akan baik-baik saja " Celetuk Mauriel.
" Apanya yang baik-baik saja ? " Tanya Leon yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Mauriel yang masih bersembunyi di dalam selimut, terkejut mendengar suara Leon.
Ia mengumpat dirinya sendiri sambil memejamkan kedua matanya.
" Dasar bodoh ! harusnya kau pura-pura tidur saja, seperti biasanya. "Gumam Mauriel di dalam hatinya.
Sekarang sudah terlambat bagi Mauriel untuk pura-pura tidur, Leon sudah menyadarinya.
Tak ada suara dari balik selimut, Leon memandangi gundukan di sebelahnya.
" Kamu sudah tidur ? " Suara Leon halus sambil membalikan tubuhnya ke arah Mauriel, lalu menarik selimuti itu perlahan-lahan.
Lagi-lagi Mauriel merasa jantungnya berdebar keras sambil menutup kedua matanya, namun tarikan napasnya mengebu-ngebu, sehingga membuat Leon tertawa kencang.
" Hahahhahahah "
Dengan sebelah tangan Leon mengangkat wajah Mauriel dengan lembut, sementara tangannya yang lain membelai rambutnya yang halus.
__ADS_1
" Kamu begitu cantik, dan membuatku sulit bernapas. setiap malam, aku jadi harus menahan diriku sendiri karena aku tidak ingin membangunkanmu " Kata Leon sambil mencium bibir Mauriel dengan lembut.
Disingkirkannya selimut ke seberang tempat tidur, dan Leon berada di atas tubuh Mauriel sampai mereka sama-sama sulit bernapas saat berciuman di rumah yang sepi itu.
Mauriel bisa merasakan hembusan napasnya yang begitu hangat di kulitnya, cara Leon menciumnya begitu lembut, dan begitu menggoda, aku jadi terhanyut karena kelembutannya.
" Ternyata benar kamu belum tidur " Seru Leon berbisik di telinga Mauriel. Pada saat itulah Mauriel menarik dirinya, sambil tersenyum malu.
" A-aku tadi sudah tidur tapi terbangun karena kamu menciumku " Kata Mauriel dengan wajah yang memerah.
"Jadi aku'lah yang sudah membangunkan mu " Perlahan-lahan di balikannya wajah Mauriel untuk menghadapnya, dan di lihatnya pipi yang bersemu merah.
Mauriel tak ingin Leon melihatnya, tapi Mauriel tak bisa mengelak dari tarikan tangannya yang kuat. Dengan lembut di kecupnya mata Mauriel, lalu di tekannya bibirnya ke bibir Mauriel, bibir mereka saling menempel cukup lama sehingga Mauriel harus berjuang mengatur napasnya.
" Leon.....jangan....tidak..." Kata Mauriel berjuang untuk mendorong tubuh Leon, tapi dia terlalu lemah, dan Leon bahkan mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi.
Mauriel bisa mencium bau aroma sabun buah-buahan dari tubuh Leon, dan merasakan belaian tangan yang menjalar keseluruh tububnya.
" Kenapa tidak ? " Diletakannya jarinya ke bawah dagu Mauriel, dan di angkatnya supaya Mauriel melihatnya lagi.
" Kita sudah menikah, dan tujuan kita adalah untuk berbulan madu "
" Kamu isteriku, Mauriel " Mauriel tak bisa berkata apa-apa lagi, dan Leon menciumnya sekali lagi, kali ini lebih dalam Ia ******* bibirnya.
Suaranya terdengar lembut di telinga Mauriel saat dia berbicara, dan Mauriel merasa jantungnya berdebar keras.
" Mauriel, aku menginginkan dirimu lebih dari pada yang kuinginkan dari perempuan manapun juga "
" Bagaimana dengan Rubia ? kamu menginginkan ku tapi kamu juga tidak bisa menceraikannya. "
Leon mengangguk perlahan-lahan, " Aku mengerti "
Lalu Leon cukup lama menatap wajah Mauriel dengan penuh perasaan hangat yang terpancar dari matanya.
" Tapi aku memang belum bisa menceraikannya, tapi sekarang aku menginginkan dirimu "
Mauriel tersenyum lembut, lalu menanyakan pertanyaan yang sama, " Kenapa tidak bisa ? "
" Karena......" Leon bimbang dengan sikapnya lalu tertawa kecil dengan suara yang halus.
Sejujurnya Leon hanya takut melukai hati dan perasaan Rubia jika dia menceraikan wanita itu, namun Leon juga tidak ingin kehilangan Mauriel.
Leon menyadari dirinya yang egois karena menginginkan keduanya ada di dalam hidupnya, tapi sudah lama sekali Ia tidak pernah menyentuh Rubia, bahkan untuk sekedar menciumnya.
Mereka berdua terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing, lalu Leon memandang wajah Mauriel.
" Jika besok, aku bisa menentukan pilihanku, apakah kamu akan menerima ku ? " Leon berbicara dengan halus, sambil mempermainkan bibirnya pada bibir Mauriel.
Jantung Mauriel berdebar kencang, dia penasaran mengapa dia sampai membiarkan Leon mencium bibirnya berkali-kali.
Leon terus menciumi bibi Mauriel dan tidak membiarkannya untuk bernapas, bahkan tangannya mulai memasukannya ke dalam baju Mauriel.
__ADS_1
Seketika Mauriel merasakan sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya, hatinya mau menolak pria itu namun tubuhnya bergerak sendiri, saling bertentangan.
Tidak ada lagi penolakan dari Mauriel, lalu Leon mulai melepas kain yang melekat di tubuh isterinya.
Kali ini Leon melakukannya begitu perlahan-lahan, dan iramanya begitu lembut seakan baru pertama kali mereka melakukan hubungan intim.
Sudah terlambat bagi ku untuk menghindarinya, dan aku sudah jatuh terlalu dalam sampai aku menyerahkan hal yang paling berharga untuk dirinya.
Walau kami melakukan hubungan suami-isteri untuk yang kedua kalinya, Leon tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta.
Memang Ia hanya bilang akan menentukan pilihannya, tapi tidak membahas persoalan untuk menceraikan Rubia.
Bagaimana kalau Leon melakukannya hal itu karena tidak bisa menahan birahinya, dan bukan karena dia mencintaiku ?
Apa yang harus aku lakukan, dan semua tindakan ku ini sudah benar atau salah ?
Aku harus bisa mengendalikan diriku, jangan karena terlena oleh cinta yang semu, aku harus kembali merasakan sakitnya yang membuatku menderita.
Aku merasakan tubuhku sangat lelah dengan semua yang ada didalam kepalaku, dan tertidur di dalam pelukan suami ku.
" Aku sepertinya sudah mulai mencintaimu " Bisik Leon di telinga Mauriel, namun sayang Mauriel tidak dapat mendengar perkataan Leon.
" Selamat tidur kelinci kecilku " Kata Leon sambil mengkecup kening Mauriel dengan lembut.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1