BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 61 : PROSES PERCERAIAN


__ADS_3

...PROSES PERCERAIAN...


" Mauriel " Leon mengetuk pintu kamar isterinya.


" Sebentar " Teriak Mauriel yang baru saja keluar dari kamar mandi, Ia habis mandi, dan air masih menetes di rambutnya.


" Leon ? Ada apa ? " Tanya Mauriel.


" Aku boleh masuk ? " Seru Leon sambil memperhatikan rambut Mauriel yang masih basah.


Mauriel tampak ragu untuk memasukan Leon ke dalam kamarnya, apalagi mereka akan segera bercerai.


" Tenang saja, aku gak akan melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. " Leon menyadari perubahan wajah Mauriel.


" Silahkan masuk " Pada akhirnya Mauriel mengizinkan pria itu masuk ke dalam kamarnya.


" Tadi habis pergi kemana sama Lucas ? " Leon ingin tahu apa yang akan di katakan oleh gadis itu.


" Ke dufan " Mauriel mengatakannya dengan jujur, meskipun mereka akan bercerai, gadis itu, tidak mau menyembunyikan apapun dari Leon.


" Lain kali kalau mau pergi ke dufan bilang saja ke aku, aku yang akan menemani mu bermain. " Seru Leon.


Mauriel mengernyitkan kedua alisnya, Ia kadang tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran suaminya.


" Oke " Jawab Mauriel, Ia tidak mau ambil pusing atau berdebat dengan Leon.


Keduanya kemudian terdiam, saling memandangi satu sama lain, lalu mereka terhanyut dengan pikiran masing-masing.


" Aku sudah menyerahkan berkas perceraian ke pengadilan. " Seru Leon agak terdengar sumbang.


" Oh.... " Mauriel gak tahu apa yang harus di katakannya setelah mendengar kabar mengenai perceraiannya, senang atau sedih untuk menunjukan ekspresinya.


" Sidang akan di laksanakan enam bulan lagi, dan kalau tidak ada masalah, maka prosesnya bisa berjalan dengan lancar." Kali ini, suara Leon terdengar sendu.


Mauriel menganggukan kepalanya, statusnya sebagai isteri Leon Alexander hanya tinggal hitungan hari saja.


" Oia......ada satu hal yang mau aku tanyakan " Celetuk Leon.


" Apa ? " Mauriel menatap wajah suaminya.


" Kamu menceritakan tentang perceraian kita kepada Lucas ? " Wajah Leon tampak tidak suka jika gadis itu memberitahu masalah perceraiannya kepada pria lain.


" Iya, memangnya kenapa ? " Seru Mauriel.


" Aku gak suka kalau orang lain ikut campur masalah kita berdua " Seru Leon.


" Tapi Lucas bukan orang lain, dia itu, adik kandung kamu, cepat atau lambat pasti dia akan tahu juga. "


Leon semakin kesal mendengar perkataan Mauriel, gadis itu bahkan membela Lucas. ada rasa cemburu yang menjalar kedalam hatinya.

__ADS_1


Dan dia sadar akan perasaannya terhadap gadis itu, rasa tidak ingin kehilangan Mauriel, dan perasaan cinta yang begitu menyakitkan.


Leon menarik pinggang gadis itu, dan memeluknya seerat mungkin. Ia tidak mau melepaskan Mauriel.


" Le-lepaskan " Mauriel berusaha untuk membebaskan diri dari pelukan Leon.


Sekuat tenaga Mauriel mendorong tubuh Leon, tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan suaminya.


Semakin dia berusaha menyingkir dari Leon, semakin kencang pria itu mengencangkan dekapannya, sampai membuat Mauriel tidak bisa bernapas.


" A-aku....gak bisa bernapas " Dengan tersengal-sengal.


Leon menglonggarkan pelukannya, meletakkan kedua tangannya di wajah sang isteri, dan menatapnya dengan tatapan yang menyedihkan.


" Aku cemburu " Leon mengakui perasaannya secara terang-terangan.


" Aku sangat cemburu melihat kamu dekat dengan Lucas !! "


" Tapi......" Leon menempelkan jari manisnya di bibir Mauriel.


" Aku tidak peduli, meski dia adalah adik ku sendiri. aku gak akan tinggal diam. " Kemudian Leon mencium bibir Mauriel begitu dalam.


Mauriel menampar wajah Leon dengan tatapan yang dingin Plakkk !!!!


Wajah gadis itu tampak merah padam karena amarah memenuhi kepalanya," Jaga sikapmu !! Sebentar lagi kita akan segera bercerai " Sembur Mauriel.


Leon diam saja sambil memegang pipinya yang pedas kena tamparan. sakitnya tidak seberapa bila di bandingkan dengan hatinya yang sakit melihat gadis yang di cintainya tersenyum dengan pria lain.


" Kamu mempermainkan perasaanku, Leon. Apakah kamu tidak tahu bahwa....." Mauriel terdiam, dan tidak melanjutkan kata-katanya.


Mauriel mengambil sesuatu dari dalam lacinya, sebuah kotak yang berisi foto mereka berdua di depan lampu yang bertuliskan I Love You.


" Kamu saja yang simpan sebagai kenang-kenangan, karena aku sudah terlalu bodoh mencintai dirimu. " Sambil mendorong Leon keluar dari kamarnya.


Mauriel menutup pintu, dan membantingnya dengan pandangan kosong, sekosong hatinya.


" Aku harus mengluarkannya dari sini " Gumam Mauriel sambil menyentuh dadanya, tubuhnya bergetar, dan air mata membasahi wajahnya.


" Sudah selesai " Ucap Gadis itu dengan berurai air mata.


Sementara itu, Leon kembali ke dalam kamarnya, dan menendang kaki ke arah tembok. Meluapkan seluruh perasaannya.


" Harusnya tidak begini " Teriak Leon dengan wajah yang keruh.


...♡♡♡♡♡♡...


Pagi itu, suasana di ruang makan begitu tegang. Papa dan Mama terkejut mendengar kabar perceraian Leon dengan Mauriel.


Apalagi Papa tidak setuju dengan keputusan putranya, walau dia terkesan cuek terhadap menantunya, tapi beliau begitu menyayangi Mauriel.

__ADS_1


" Jadi kalian akan bercerai ? " Pekik Papa dan Mama bersamaan, hanya Lucas, Nenek, dan Rubia yang tampak tenang karena mereka sudah mengetahuinya.


" Kenapa ? " Seru Papa sambil memandangi Leon, kemudian melirik wajah Mauriel.


Baik Leon maupun Mauriel tidak ada yang menanggapi kata-kata Papa. keduanya sibuk dengan pikirannnya masing-masing.


" Papa tahu kamu mencintai isterimu, tapi mengapa harus bercerai ? " Papa mengkerutkan kedua alisnya, sementara Mama tidak terlalu menyayangkan kandasnya hubungan Mauriel-Leon.


" Sudahlah, Pa. Mungkin memang itu yang terbaik buat mereka." Ucap Mama sambil menenangkan suaminya.


Rubia mendekati Mauriel, dan memeluknya seakan Ia sedang bersimpati dengan gadis itu.


" Kak Leon begitu kejam padamu, mentang-mentang kamu tidak bisa memberikannya seorang anak, lalu dia langsung mencampakan dirimu " Ujar Rubia sambil menghapus air matanya.


" Apa ? Jadi Mauriel tidak akan bisa memberikan garis keturunan kepada keluarga kita ?" Kali ini Mama berteriak lebih kencang dari Papa.


" Jadi itu alasan mu, Leon ? " Seru Papa.


" Keputusan yang tepat " Mama yang tadi hanya diam, ikut mengomentari perceraian mereka, dan bahkan ikut mendukung keputusan putranya.


" Mama " Teriak Papa sambil menatap wajah isterinya.


"Sudah hentikan perdebatan kalian. " Nenek tidak setuju dengan keputusan cucunya, tapi Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


" Mauriel sayang, cucu ku yang malang " Nenek memeluknya begitu lembut.


" Tidak apa-apa, Nek. Sungguh " Bisik Mauriel sambil mengusap punggung wanita tua itu.


" Aku tahu kamu adalah gadis yang kuat, dan aku juga mau minta maaf " Ujar Nenek tersedu-sedu.


Mauriel tertawa kecil," Kenapa Nenek harus meminta maaf ? Semua ini bukan kesalahan Nenek "


Nenek meminta maaf karena dia merasa bersalah karena sudah membuatnya berada di dalam situasi seperti ini, dan juga menyembunyikan rencana Leon.


" Nenek boleh meminta sesuatu dari mu, untuk yang terakhir kalinya " Kata Nenek, dan tentu saja Mauriel tersentak mendengar perkataan wanita tua itu.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :


1. Anak Genius : Ayah sedingin es.


2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet


3. Paulina Menjadi Paula


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2