BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 34 : AKU AKAN MENUNGGU KAMU


__ADS_3

...AKU AKAN MENUNGGU KAMU...


" Aku akan memberi kamu waktu untuk berpikir, tolong di pikirkan dengan matang " Kata Leon.


Leon tidak mau terlalu membebani Mauriel dengan permintaannya, seandainya cuma ada satu cara untuk menahan Mauriel untuk tetap di sisinya, maka Ia akan melakukannya meski dengan cara yang kotor.


Leon memandangi jam dinding di kamar Mauriel, dan melihat ke sekelilingnya, tidak ada satupun yang berubah sejak Ia memutuskan pindah kamar.


" Tampaknya kamu menyukai kamar ini, ada untungnya kan kamu mengalah pada Rubia. "


" Hahahahah....kalau berdua itu lucu, saling memperebutkan kamar seperti anak kecil " Celetuk Leon tidak sanggup menahan tawanya.


" Tapi pada akhirnya, kamu membiarkan Rubia memiliki kamar kita. " Sahut Mauriel pedas.


" Usia kamu lebih setingkat dari dia, jadi aku harap kamu bisa mengalah dari Rubia " Leon mengucapkannya dengan santai tanpa ada perasaan bersalah ataupun memikirkan bagaimana perasaan Mauriel.


" Hanya karena aku lebih tua, aku harus memakluminya. Mau sampai kapan, kamu terus memanjakan dia." Ucap Mauriel ngbatin.


Mauriel tidak menanggapi perkataan Leon, tidak ada gunanya mengeluh kepadanya. Di dalam hidupnya Rubia akan tetap menjadi nomer satu di hatinya.


" Sudah larut malam, lebih baik kamu kembali ke kamarmu. nanti isteri mudanya nyariin, lho. " Kata Mauriel mengusir Leon secara halus.


Leon enggan untuk kembali ke kamarnya, Ia ingin tidur di kamar lamanya, atau sebenarnya Ia mau menghabiskan malam ini bersama dengan Mauriel.


Namun tampak Mauriel tidak menginginkan hal yang sama dengan dirinya, buktinya dia sudah membuka pintu kamar padahal aku belum menjawabnya.


Leon melangkahkan kakinya ke arah ambang pintu, dan menghentikan langkahnya tepat di depan Mauriel, dan menatap wajahnya dengan lembut.


" Kamu benar ini sudah malam, selamat beristirahat, dan..... "


Mauriel menatapnya sambil mengkerutkan kedua alisnya, Ia masih menunggu perkataan Leon.


" Aku akan menunggu jawabanmu, kalau kamu menganggap pernikahan kita tidak berarti coba pikirkan perasaan Nenek. Nenek sangat berharap kita bisa seperti pasangan suami isteri yang sebenarnya."


Leon mengucapkan kalimat terakhirnya sambil membelai rambut Mauriel. Lalu berdiri di depan pintu dalam waktu yang lama.


Sementara Mauriel terduduk lemas di belakang pintu, Ia menyenderkan kepalanya di pintu. Ia memikirkan semua perkataan Leon.

__ADS_1


Sebenarnya Mauriel tidak masalah menjalani pernikahan di atas kertas, kalau suatu saat Ia tidak sanggup mempertahankan pernikahannya, Ia bisa dengan mudah melepaskan statusnya sebagai isteri Leon Alexander.


Tetapi Leon malah meminta sesuatu yang tidak mungkin, mana ada wanita yang mau tinggal satu atap dengan wanita lain sebagai selirnya. Kalau mau seperti itu, seharusnya dia jangan memaksa Mauriel untuk mencintai dirinya, apalagi jika cinta itu hanya akan membuatku sakit.


" Lelaki yang licik, dia membawa nama Nenek untuk memaksaku mengikuti permainannya, aku tidak akan pernah bisa menolak Nenek. " Gumam Mauriel sembil memejamkan kedua matanya, tanpa di sadarinya, Ia sudah terlelap di bawah lantai.


Satu setengah jam sudah Leon di sini, pandangannya menerawang lurus ke depan. entah apa yang ada di dalam kepalanya, hanya menatap kosong ke arah pintu .Tatapannya seakan sedang memandangi kekasihnya yang akan pergi meninggalkannya.


Tap....tap.....


Leon melangkah kakinya perlahan-lahan menuju kamarnya bersama dengan Rubia. di kamarnya sendiri Ia harus mengendap-endap, Leon tidak ingin membangunkan isteri kedua yang sudah terlelap.


Saat Leon merebahkan dirinya ke atas tempat tidur, tiba-tiba terdengar suara dari sampingnya.


"Kakak baru pulang ? " Kata Rubia melirik ke arah Leon yang membelakanginya.


" Iya, kamu kok belum tidur ? " Jawab Leon tetap pada posisinya.


" Semalaman aku nungguin, Kakak. " Rubia membalikan tubuhnya menghadap Leon.


" Maaf " Ucap Leon datar.


" Mendadak ada pekerjaan yang harus di selesaikan "


" Oh.....jadi itu alasannya, penyebab Kakak pulang terlambat " Bisik Rubia di telinga Leon sambil menatapnya dengan tajam. Leon hanya diam membisu.


Rubia membalikan tubuh Leon, mata mereka saling bertatapan. Lalu Rubia mendekatkan bibirnya kepada bibir suaminya, namun tangan Leon mendorong tubuh Rubia, hingga tubuh mereka berjauhan.


" Ada apa ? Kakak tidak seperti biasanya ? sebelumnya, Kakak tidak pernah menolak ciumanku. " Terlihat rasa kecewa yang begitu besar di wajah Rubia.


" Kakak tidak mau aku cium, apa karena ada wanita lain di hati, Kakak ? " Kata Rubia penuh dengan penekanan.


" Kamu ngomong apaan, sih ? Sudah malam, lebih baik kita tidur. " Leon menarik selimut dan memejamkan matanya.


Leon sendiri tidak mengerti dengan reflek tubuhnya, untuk pertama kalinya, Ia menolak berciuman dengan Rubia.


Apakah, karena di dalam matanya sudah ada Mauriel ?

__ADS_1


Ia tidak bisa mengyingkirkan pikirannya, Ia tidak bisa melupakan rasa manis dari bibir Mauriel, seperti aroma strowberry di dalam mulutnya.


Leon tidak menyadari Rubia sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam siap menusuk kapanpun dia mau.


Jangan panggil Rubia kalau Ia tidak bisa mendapatkan yang dia mau. bukannya tidur seperti yang di perintahkan Leon, Ia justru menarik wajah Leon dan me*×ciumnya dengan paksa, Leon membelalakan kedua matanya saking terkejutnya.


Rubia menekan bibir Leon dengan erat, sebelah tangannya menarik tangan Leon, lalu meletakannya di d*danya, membiarkan suamimya untuk menyentuh kulitnya.


Rubia semakin agresif, terlihat lebih liar, Ia naik ke atas tubuh Leon, dan melepas pakaiannya sendiri, m*ncium bibir Leon dengan penuh nafsu, sampai membuat suaminya kesulitan bernapas.


Tangannya yang berada di d*d* sang isteri, berusaha untuk mendorong tubuh Rubia, Leon tidak menyangka Rubia akan memaksanya untuk berhubungan intim.


" Le-lepaskan " Kata Leon dengan napas yang tersengal-sengal.


" Ada apa ? apakah tubuh ini sudah tidak menarik lagi untuk, Kakak ? " Rubia memasang wajah polosnya sambil membusurkan kedua da*danya yang sudah tidak memakai sehelai benang pun.


" Bu-bukan begitu " Seru Leon memalingkan wajahnya, Ia tidak sanggup melihat wajah Rubia yang sedih karena mendapat penolakan.


" Lalu, kenapa " Rubia memasukan tangannya ke dalam kaos Leon, dan mengusapnya dengan lembut.


" Hari ini, aku sangat lelah, lagipula besok masih ada pekerjaan yang belum di selesaikan " Kata Leon mencari alasan yang masuk akal.


" Baiklah.....baiklah....aku berhenti sampai di sini, tapi Kakak jangan menyesalinya. kalau adik Kakak bangun aku tidak mau melayanimu " Ucap Rubia sambil menyentuh area sensitif Leon, Ia memakai kembali piyama tidurnya tapi dengan sengaja tidak memakai pakaian dalamnya.


Leon mengusap kepala Rubia, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


Yang di lakukan Rubia bahaya sekali, untung Leon bisa menahannya, dan sepertinya Ia harus ke kamar mandi untuk menidurkan kembali adik kecilnya.


" Lagi-lagi wajah itu " Gumam Leon di bawah Shower


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya.


__ADS_2