BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 41 : PELANGI DI UJUNG JALAN


__ADS_3

...PELANGI DI UJUNG JALAN...


Lucas memeluk Mauriel dengan erat sambil membelai rambutnya yang halus, Ia ikut menangis bersama Mauriel.


Mauriel baru menyadari tindakannya, tanpa pikir panjang Ia memeluk Lucas, lalu melepaskan diri dari pelukan adik iparnya.


" Maaf " Kata Mauriel sambil menundukan kepalanya.


" Tidak apa-apa. Aku senang kalau Kakak ipar mengandalkan ku, dan mempercayaiku " Seru Lucas sambi mengangkat dagu Mauriel.


" Seharusnya aku tidak boleh terlalu mengandalkan mu, kalau nanti kamu punya pacar, pacarmu akan cemburu padaku." Celetuk Mauriel sambil tertawa kecil.


" Kalau begitu aku tidak akan pernah pacaran, dan gak mau ada wanita lain di sampingku " Kata Lucas dengan tegas.


" Kenapa ? Aku rasa di luar sana ada banyak wanita yang ingin jadi pacarmu, lagipula wajahmu tidak terlalu buruk " Mauriel memandangi Lucas dengan teliti, seperti sedang memberi nilai untuk wajah Lucas.


" Karena aku ingin menjadi tempat untuk kakak bersandar. Kakak boleh mengandalkanku kalau kakak ingin menangis, dan aku siap untuk memberikan bahuku " Kata Lucas dengan wajah yang serius.


" Kata siapa aku menangis di depan mu, aku cuma numpang nglap ingus di bajumu " Gerutu Mauriel sambil memalingkan wajahnya.


" Jadi tadi yang aku dengar bukan suara isakan mu tapi suara ingus mu yang meler. "


" Ternyata Kakak gadis yang jorok, pantas saja Kakak ku tidak pernah memalingkan wajahnya sedetik pun dari si rubah " Lucas ingin mengerjai kakak iparnya.


Wajah Mauriel memerah saking malunya, seharusnya Ia tidak mengatakan itu, tapi sudah telanjur Ia lontarkan, tidak mungkin juga di tarik.


" Sudah hentikan jangan mengolok-olok ku, aku memang tidak bisa di sandingkan dengan Rubia, dia adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku lihat. " Ujar Mauriel.


" Tapi di mata ku Kakak tetap yang paling cantik, Kak Leon bodoh sekali tidak menyadari kecantikan Kakak."


" Kakak itu seperti buah rambutan dari luar tampak aneh tapi ketika di makan akan terasa manis di mulutnya, begitu juga dengan Kakak dari luar tampak sederhana tapi kalau sudah tersenyum kakak terlihat manis " Kata Lucas menguarkan seluruh hatinya.


" Hahahahahaha.......dari mana kamu belajar gombal kaya begitu ? " Mauriel menahan tawanya sampai perutnya sakit.


Tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, dan menepuk pundak Mauriel.


" Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu " Seru Leon dari belakang Mauriel.


" Mau ngomong, apa ? katakan saja di sini " Mauriel enggan berbicara berdua dengan Leon.


" Tidak bisa ! aku tidak ingin ada orang luar yang mendengarnya, lagipula ini masalah suami-isteri jadi orang luar tidak boleh ikut campur " Kata Leon sengaja memprovokasi, dan menekan hubungannya dengan Mauriel sambil menatap Lucas dengan dingin.


" Kakak benar, aku cuma orang luar yang tidak berhak ikut campur tapi orang luar ini tidak mau melihat wanita yang di ci.....sahabat terbaiknya menangis "

__ADS_1


Lucas yang terprovokasi hampir mengucapkan sesuatu yang tidak boleh di katakannya.


Nalurinya sebagai laki-laki tidak ingin kalah, tapi Ia sadar akan statusnya, hubungannya tidak akan mungkin bisa berubah, Mauriel hanya menganggapnya seperti adiknya sendiri.


Lucas mendekati Mauriel, merangkul pundak gadis itu ddengan mesra, sorot matanya menatap Leon dengan tajam.


Leon memperhatikan tangan Lucas yang melekat di pundak isterinya, rahanya mengeras, dan wajah di penuhi amarah.


" Lebih baik aku pergi saja, sepertinya Kak Leon tidak suka dengan kehadiranku. " Lucas lebih mengencangkan rangkulannya.


" Aku pergi Kak, ingat jangan ingusan lagi " Gumam Lucas sambil mengelus rambut Mauriel.


Mauriel tertawa mendengar perkataan Lucas, Ia melupakan rasa malunya tentang ingus.


" Kau....." Kata Leon melangkahkan kakinya ke wajah Lucas, tapi kemudian Ia menahan emosinya yang sudah meluap.


" Aku tidak tahu apa yang ingin kakak katakan dengan kakak ipar, tapi bicaralah baik-baik jangan membuatnya menangis, kalau tidak mau kehilangan Mauriel " Seru Lucas sambil berlalu meninggalkan mereka berdua.


Lama sekali mereka berdua terdiam dalam pikirannya masing-masig, hanya berdiri tapi tidak saling memandang.


" Di mana Rubia ? " Tanya Mauriel memecahkan kesunyian.


" Aku sudah menyuruhnya tidur " Jawab Leon memalingkan wajahnya.


" Itu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan " Kata Leon sedikit meninggikan suaranya.


Leon melangkahkan kakinya mendekati Mauriel, tapi Ia justru menghindarinya dengan melangkah mundur.


" Su-sudah malam, besok saja kita bicara lagi. Hari ini aku sangat lelah. Jam delapan tiga puluh di tempat yang sama " Seru Mauriel sambil berlari meninggalkan Leon, Ia lari sekencang mungkin supaya Leon tidak dapat mengejarnya.


Leon menatap punggung gadis itu dengan tatapan penuh penyesalan. untuk yang kedua kalinya Ia membiarkan Mauriel pergi dari pandangannya.


" Brengsek " Teriak Leon sambil menendang pasir.


...♡♡♡♡♡♡...


Malam terakhir mereka di pantai di rayakan dengan meriah, seperti menyalakan kembang api, barbekqu di pinggir pantai, dan membuat kenangan dalam bentuk foto.


" Mauriel, Leon, Nenek ingin memotret kalian berdua, berdiri di sana " Seru Nenek memanggil kedua cucunya.


Mauriel dan Leon berdiri di tempat yang Nenek tunjuk, berdiri bersama seperti itu jadi mengingatkan kenangan mereka di dufan.


" Aduh....kalian itu udah kaya lagi musuhan aja, masa jaraknya jauh banget " Gerutu Nenek sedikit geregetan melihat tingkah mereka berdua.

__ADS_1


Leon melirik ke arah Mauriel, lalu menggeserkan tubuhnya ke samping gadis itu sehingga tangan mereka saling menempel.


" Aduh.....Kenapa canggung begitu, kalian berdua udah kaya orang asing aja. " Nenek menghampiri mereka berdua.


" Leon rangkul pinggang isterimu, dan Mauriel senderkan kepalamu di pundak suami mu. nah begini baru benar, kalian kan sepasang suami isteri jadi harus mesra donk " Kata Nenek berlagak layaknya seorang fotografer profesional.


" Lihat ke kamera dan senyum " Seru Nenek ikutan tersenyum.


" Jepret " Suara bidikan kamera berbunyi, Mauriel baru ingin mengangkat kepalanya, tapi Nenek keburu memberinya aba-aba.


Leon memanfaatkan kesempatan ini dengan merangkul pinggang Mauriel dengan erat, lalu Ia mengkecup kening isterinya dengan penuh kasih.


Mauriel tersentak melepaskan tubuhnya dari tubuh Leon, tapi Ia tersenyum menatap wajah isterinya yang terkejut.


" Bagus sekali " Teriak Nenek sambil menatap mereka berdua.


Mereka tidak menyadari ada dua orang yang memperhatikan dengan memasang wajah cemburu.


Di luar dugaan ternyata acaranya berlangsung lama, jam dua belas malam baru selesai setelah acara api unggun.


Nenek, Ayah, Ibu, Lucas, dan juga Rubia sudah kembali ke kamarnya masing-masing, hanya tinggal Leon dan Mauriel yang masih berdiri di pinggir pantai. Mauriel menepati janjinya kepada Leon.


Semakin malam udara semakin dingin tapi tidak sedingin hubungan Leon dengan Mauriel.


" Cepat katakan, apa yang ingin kamu sampaikan " Seru Mauriel sambil membentangkan kedua tangannya di depan api unggun.


Leon duduk di samping Mauriel sambil melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya di tubuh isterinya, dan mengatakan dengan tegas sebelum Mauriel menolaknya.


" Pakailah anginnya semakin kencang "


Mauriel menuruti perkataan Leon, tidak ada salahnya memakai jaket dari suaminya, kebetulan Ia juga merasakan kedinginan.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2