
...NOMER YANG TIDAK DI KENAL...
Lucas melihat jam di pergelangan tangannya, masih jam emapt sore," Kakak ipar mau langsung pulang atau kita pergi nonton, dulu ? " Tanyanya
Mauriel terdiam sambil mempertimbangkan perkataan Lucas, jarang-jarang Ia bisa keluar seperti ini, tidak ada salahnya menghabiskan waktu untuk menyenangkan diri sendiri.
Gadis itu menganggukan kepalanya.
" Kalau begitu mari kita bersenang-senang " Seru Lucas menarik tangan kakak iparnya agar mengikutinya. Mauriel mengkerutkan keningnya.
" Kita mau kemana ? " Seru Mauriel.
" Kita akan menghabiskan malam ini berdua. Siapa tau besok aku tidak bisa bertemu dengan kakak lagi. "
" Jangan bicara yang bukan-bukan " Celetuk Mauriel sambil masuk kedalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh Lucas.
" Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Kita mau nonton di mana ? " Kata Mauriel menatap mata adik iparnya.
" Margo city " Sahut Lucas menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah jalan margonda raya nomer 358, kota depok.
Lucas membawanya ke sebuah bioskop twenty-one.
" Kakak ipar suka nonton film horor atau suka yang romantis ? " Tanya Lucas ketika merek sudah tiba di antrian.
Mauriel memandang sekelilingnya, terus terang sudah lama sekali tidak pergi nonton, terakhir saat dia masih di bangku SMA, itu pun pergi bersama dengan Nathan.
Tapi karena dia sudah tidak percayaagi dengan cinta, rasanya enggan melihat adegan romantis, jadi dia lebih memilih nonton film horor.
" Film horor saja " Jawab Mauriel sambil menunjuk papan iklan yang ada di depannya.
" Scream 5 " Ucap Lucas membaca judul film yang ada di depannya.
Mauriel menganggukan kepalanya sambil tersenyum, pria itu sebenarnya agak penakut tapi demi gadis yang di cintainya, apapun akan Ia lakukan.
Ia membeli dua tiket untuk mereka, sebuah film yang berjudul Scream, seri kelima dalam franchise slasher. tidak lupa membeli dua pack pop corn, dan dua gelas coca cola untuk mereka berdua.
Mereka masuk ke gedung bioskop yang sudah gelap karena film akan segera di mulai. Lucas memilih kursi di tengah, dan paling pojok.
Ketika mereka berjalan menuju kursi, nyaris saja gadis itu tersandung karena gelap, untung Lucas memegang pinggangnya.
Saat mereka sudah duduk, Lucas menyodorkan pop corn, dan coca cola yang Ia beli tadi.
Lucas menatap ke layar lebar, dan mencoba menonton film itu, meski dia sendiri takut melihat layar yang lebar itu. belum lagi dengan volumenya sangat kencang.
__ADS_1
Sedangkan Mauriel sendiri tidak merasa takut sama sekali, Ia duduk dengan nyaman sambil minum coca cola, dan memakan pop cornnya.
Saat ada adegan pembunuhan, dan berlumuran darah di mana-mana, peristiwa tersebut tidak tampak mengerikan bagi gadis itu.
Keringat dingin mengucur dari wajahnya yang pucat, Ia terlihat seperti mayat hidup. Pria itu meletakan pop cornnya diantara kedua pahanya, dan untuk mengusir rasa takutnya Ia terus menerus memakan pop corn.
Di dalam hatinya Ia terus mengumpati makian kepada pembuat film horor, kenapa mereka bisa membuatnya begitu menyeramkan.
Film baru berlangsung setengah jalan tapi pop cornnya sudah habis, tidak ada lagi yang bisa mengalihkan perhatiannnya.
Ia melirik ke arah pop corn gadis itu yang isinya masih penuh, tanpa rasa sungkan Lucas mengambil pop corn yang ada di pangkuan Mauriel.
Tiba-tiba tangan mereka saling bertautan, dan mata mereka saling memandang satu sama lain. gadis itu tidak merasakan apapun, tapi jantung pria itu berdebar sangat kencang.
Film yang tadi terasa begitu menakutkan, dan suara terdengar menyeramkan, dalam waktu satu detik telah berubah menjadi menyenangkan, bahkan terlihat seru di mata pria itu.
" Maaf " Kata Mauriel dengan memelankan suaranya agar tidak menganggu penonton lain.
" Iya, aku juga minta maaf " Seru Lucas, wajahnya jadi merona. Lalu pandangan mereka kembali ke layar lebar.
...♡♡♡♡♡♡...
Leon menunggu mereka berdua di depan gerbang, dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi tidak ada tanda-tanda keduanya akan terlihat.
Leon memandangi Rubia dengan wajah yang di tekuk, tadi lagi gadis itu sudah membuatnya kesal, Apakah Ia datang untuk membuatnya marah lagi.
" Lagi nunggu seseorang " Jawab Leon mendengus.
" Memangnya kakak gak capek berdiri terus di situ ? kan bisa nungguinnya di dalam aja. " Celetuk Rubia.
" Gak " Sahut Pria itu pendek.
Rubia sudah bisa menebaknya, siapa orang yang telah membuat pria itu rela berdiri berjam-jam hanya untuk menunggu gadis itu, Mauriel.
Yah cuma Mauriel yang bisa membuat Leon Alexander menjadi gila dan tak berotak. gadis itu sudah berhasil merebut tempatnya di hati pria itu.
Dan Rubia sudah tidak sabar menunggu perceraian mereka berdua di sah kan, dengan cara seperti itulah dia bisa memiliki hati pria itu kembali.
" Kamu masuk saja ke dalam, angin malam tidak baik untuk wanita yang sedang hamil ! Tolong tinggalkan aku sendirian, saat ini aku sedang tidak mood untuk bicara apalagi bertengkar dengan mu. " Pinta Leon menatapnya dengan sinis.
" Baiklah kalau begitu, aku akan masuk ke dalam saja, dan tidak akan menganggu mu lagi. " Seru Rubia meninggalkan pria itu dengan amarah yang di tahan.
...♡♡♡♡♡♡...
__ADS_1
Lucas akhirnya bisa bernapas dengan lega ketika film sudah berakhir, wajahnya baru kembali normal tidak pucat lagi.
Sebelum pulang, pria itu menanyakan sesuatu kepada gadis itu," Kakak ipar mau makan lagi atau langsung pulang ? " Tanya Lucas sambil berjalan menjauhi pintu bioskop.
Mauriel melihat jam di pergelangan tangannya, tentu saja hari sudah larut, dan kalau mereka tidak segera pulang maka akan panjang masalahnya.
" Pulang saja, lagipula aku masih kenyang " Seru gadis itu.
Lucas menganggukan kepalanya, Lucas mengerti apa yang di maksud oleh Mauriel. Lalu mereka berjalan menuju bassement.
Mereka baru sampai di rumah hampir jam sebelas, dan tidak di sangka akan bertemu dengan Leon dengan tampang membeku.
...♡♡♡♡♡♡...
Tring.....
Rubia menerima sebuah pesan dari nomer yang tidak Ia kenal, " Hai......lama tidak bertemu " Dan gadis itu langsung menghapus pesan tersebut, tapi tiba-tiba ada banyak pesan yang masuk.
Pesan kedua terdengar seperti sebuah ancaman bagi gadis itu," Aku tahu kamu pasti akan mengabaikan ku begitu saja, sama seperti waktu kita bertemu kembali. tapi setelah melihat gambar dan video ini, Apakah kamu masih tetap cuek pada ku "
Rubia tersentak dari atas ranjang, dan membuka pesan yang ada gambar dirinya bersama dengan seorang pria, di dalam foto itu terlihat keduanya tidak memakai sehelai benangpun, dan hanya di tutupi oleh selimut.
Ia langsung melempar ponselnya ke lantai, tubuhnya bergetar ketakutan, dan Ia belum sempat membuka video tersebut.
" Tidak......tidak....!!! Itu pasti cuma editan dari pria bajingan tersebut. Aku tidak mungkin tidur dengan dia. Pria itu sengaja melakukannya untuk menghancurkan hubungan ku dengan Leon. " Gumam Rubia sambil menutup mulutnya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
1. Anak Genius : Ayah sedingin es.
2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
3. Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1