BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 42 : KESEMPATAN TERAKHIR


__ADS_3

...KESEMPATAN TERAKHIR...


" Sangat tidak pantas aku mengatakan ini, tapi tidak ada lagi kata-kata yang bisa ku ucapkan selain maaf. "


" Maaf....maaf.....dan maaf " Seru Leon berulang kali sambil menundukan kepalanya, Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya.


Mauriel hanya memperhatikan tubuh Leon yang bergetar, Ia tidak mengatakan sepatah katapun.


Mereka kembali membisu tanpa ada suara sedikitpun, sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tiba-tiba Leon mengatakan sesuatu yang membuat Mauriel terkejut.


" Sudah sebulan, aku tidak pernah menyentuh Rubia "


" Maksudnya ? " Kata Mauriel sambil membelalakan kedua matanya.


" Kamu salah paham, bukan aku yang mencium Rubia tapi dia yang menciumku duluan " Gerutu Leon.


Mauriel menggelengkan kepalanya, Ia tidak habis pikir Leon bisa mengatakan semua itu hanya salah paham.


" Aku tidak peduli mau kamu atau Rubia yang mencium duluan, tapi yang aku tidak suka untuk apa kamu menunjukannya. "


" Ngajak ketemuan cuma untuk memperlihatkan kemesraaan kalian ?


" Kamu mau membuatku cemburu ? "


" Selamat, kamu telah berhasil, tapi dengan begitu aku semakin sadar kalau kamu mungkin gak akan pernah bisa aku gapai. " Kata Mauriel dengan sorot mata yang tajam.


" Sungguh, aku gak ada maksud seperti yang kamu pikirkan. Malam itu, aku benar-benar ingin ketemu sama kamu, bukan Rubia. "


" Aku lagi nungguin kamu, tapi tiba-tiba Rubia datang, lalu....seperti yang kamu lihat "


" Aku.....a-ku " Kata Leon putus asa.


Keduanya kembali termenung, yang terdengar hanya ada suara gemuruh ombak.


" Bagaimana caranya supaya kamu mempercayaiku ? "


" Aku harus melakukan apa ? " Ucap Leon dengan suara yang pilu, Ia berlutut di hadapan Mauriel.


Entah mengapa Mauriel tidak merasa senang dengan yang di lakukan Leon.


Leon di mata Mauriel adalah sosok yang penuh percaya diri, dan tidak akan merendahkan dirinya di depan orang lain.


"Berdiri " Teriak Mauriel dengan dingin.


Namun Leon tak bergeming dari tempatnya, Ia membasahi pasir dengan air matanya.


" Cepat berdiri " Teriak Mauriel lebih kencang lagi.


" Aku bilang berdiri "


Mauriel memandangi Leon yang masih berlutut di kakinya.


" Kasih aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya, aku akan membuktikan keseriusanku " Seru Leon.


Mauriel menghela napas dalam-dalam, dan menghembuskannya.

__ADS_1


" Aku juga minta maaf karena sudah berkata kasar padamu, dan aku akui tindakan ku terlalu berlebihan "


" Aku sangat marah karena melihat kedekatan kamu dengan Lucas, dan melampiaskannya begitu saja."


" Untuk kali ini......kali ini saja, kasih aku kesempatan terakhir " Kata Leon.


" Aku mungkin bisa memaafkan kamu, dan memberikan kamu kesempatan, Tapi....." Mauriel menghentikan perkataannya sejenak.


" Tapi aku tidak tahu, apakah aku masih bisa mencintai kamu lagi. " Seru Mauriel sambil meninggalkan Leon, Ia masih berlutut , dan menangis tersedu-sedu, menyesali perbuatannya.


" Jangan menoleh kebelakang dan teruslah berjalan. kamu harus kuat tidak boleh goyah " Gumam Mauriel melawan hatinya sendiri.


Leon termenung di tempatnya, Ia gak tahu harus senang atau sedih mendengar jawaban dari Mauriel, yang jelas hatinya sakit mendengar kalimat terakhirnya.


...♡♡♡♡♡♡♡...


Mauriel sudah berusaha untuk memejamkan kedua matanya namun tetap saja Ia tidak bisa tidur, entah apa yang ada di dalam kepalanya.


Menyesalkah ?


Ah tapi sepertinya tidak sama sekali, atau Ia merasa kasihan melihat Leon harus merendahkan dirinya sendiri ?


Tik.....tok.....tik....tok....


Waktu sudah menunjukan pukul empat pagi, dan Mauriel baru bisa menutup kedua matanya.


Tokk.....tokkk.....tookkkkk....


" Kakak ipar "


" Kakak ipar "


" Kakak ipar "


" Baguslah anak itu sudah pergi, aku masih mengantuk dan tidak mau ada yang menganggu lagi. "


Baru mau memejamkan kedua matanya, sudah ada seseorang yang mengetok pintu.


Toookkk....tooookkk....


" Lucas " Teriak Mauriel dari dalam pintu


" Kalau kamu datang cuma untuk menganggu, aku lempar pake send....al " Ternyata yang ada di depan pintu bukan Lucas melainkan Leon.


" Leon " Seru Mauriel.


" Hai....maaf mengecewakan kamu " Kata Leon sambil tersenyum.


" Ada perlu apa datang kemari ? " Sahut Mauriel jutek.


" Aku cuma mau memberikan ini untuk kamu " Leon membawakan nasi goreng yang Ia buat sendiri.


" Aku yang buat sendiri " Seru Leon.


" Kamu serius, ini kamu yang masak ? " Tanya Mauriel.


Leon menganggukan kepalanya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


" Tenang saja rasanya tidak terlalu buruk kok, mungmin cuma sedikit asin " Celetuk Leon malu-malu.


Mauriel mengambil piring yang ada di atas tangan Leon, dan langsung menutup pintunya tanpa mengucapkan terima kasih.


" Terima kasih " Kata Leon bergumam sendiri.


Mauriel duduk sambil memperhatikan nasi goreng yang di buat oleh Leon, bentuknya memang sangat aneh, terlalu banyak kecap sehingga warna nasi jadi menghitam, dan telurnya agak sedikit hitam.


" Aku memang sedang marah dengan orang yang membuat nasi goreng ini, tapi tidak baik jika harus membuang makanan, mubazir. " Mauriel bisa melihat ada ketulusan pada nasi goreng.


Mauriel mencicipi nasi goreng buatan Leon, lalu menyendokan nasi sekali lagi.


" Kata Leon rasanya asin, tapi menurutku malah gerasa manis " Celetuk Mauriel.


Mauriel memghabiskan nasi gorengnya tanpa tersisa, perutnya begah saking kekenyangan.


" Lumayan tidak terlalu buruk " Kata Leon sambil tersenyum.


...♡♡♡♡♡♡...


Siang harinya Leon membawakan nasi bakar, kali ini Ia menambahkan jus mangga kesukaan Mauriel.


Toookkk....tokkkkk.....


Mauriel baru saja selesai mandi dengan rambut yang masih basah, menetes membasahi jidatnya.


" Siapa ? " Kata Mauriel dari dalam kamar lalu membuka pintu.


" Leon " Seru Mauriel.


" Ada apa ? " Tanya Mauriel sambil melihat piring yang ada di atas tangannya.


" Layanan kamar " Ucap Leon.


Mauriel diam seribu bahasa.


" Aku bawain nasi bakar dan jus mangga yang biasa kamu beli. " Sahut Leon sambil tersenyum.


Ini adalah cara Leon untuk membuktikan keseriusannya, Ia sungguh menyesal perbuatannya, segala macam cara akan Ia tempuh, meski harus menjadi pembantu sekalipun.


Mauriel tidak akan sanggup untuk membuang makanan ke tempat sampah, mengingat akan masa kecilnya, Kehidupan Mauriel sangat sederhana.


Bahkan bisa makan dua kali dalam sehari saja sudah lebih dari cukup, kalau ada uang lebih barulah Ia bisa makan daging ayam.


" Kita lihat, sampai kapan Ia mampu bertahan " Ucap Mauriel sambil meletakan piring di atas meja, meski tidak langsung Ia makan.


Sementara itu di luar kamar Mauriel, Leon masih berdiri di depan pintu sambil senyam senyum, walau tak banyak berkomunikasi tapi setidaknya sudah ada kemajuan.


Leon akan membuktikan keseriusannya untuk mengejar Mauriel sambil menata hatinya sendiri.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2