BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 32 : ( REVISI ) BAYANG-BAYANGAN MU


__ADS_3

...BAYANG-BAYANGAN MU...


Seperti biasanya Mauriel duduk di bangku taman menatap bintang-bintang di langit, namun sayangnya tidak ada bintang yang berkelap kelip seakan sinarnya meredup, bulanpun ikut tertutup awan. Mereka seperti mengerti apa yang di rasakan oleh Mauriel.


Malam semakin larut, ketika Leon melihat Mauriel duduk di taman sendirian.


Leon melepaskan jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Mauriel. Ia tersentak seseorang menyentuh pundaknya, dan menatap mata pria itu dengan dingin.


" Udara di luar sangat dingin, dan sepertinya akan turun hujan " Ucap Leon buru-buru menjelaskan maksudnya.


Mauriel melepaskan jaket itu, dan menyodorkannya ke dada Leon, " Aku tidak membutuhkannya, mau aku kedinginan atau tidak, itu bukan urusan kamu " Kata Mauriel ketus.


Leon menolaknya, memakaikan kembali jaket itu ke tubuh Mauriel," Aku berhak atas hidup kamu, jangan lupa kamu adalah isteriku. Dan aku tidak mau kamu jatuh sakit " Leon bersikeras memberikan jaketnya untuk Mauriel.


Mauriel menghela napas panjang, berdebat dengan Leon memang tidak ada gunanya, sampai kapanpun dia akan terus merasa berkuasa.


Kami duduk tanpa bersuara, pandangan mata Leon tertuju kepada langit, melirik ke wajah mauriel, Lalu beranjak dari tempat duduknya seakan teringat sesuatu.


" Oh iya, sampai lupa. Ada sesuatu yang mau aku berikan, kamu tunggu di sini sebentar " Kata Leon buru-buru, Ia berlari ke arah mobilnya.


Ia kembali menghampiri Mauriel, sambil membawa rangkaian bunga yang cantik.


Leon berlutut di depan Mauriel, menatap matanya dengan serius sambil menyerahkan bunga ke wajah isterinya.


" Apa ini ? " Tanya Mauriel sambil mengkerutkan kedua alisnya.


Leon tersenyum," Untuk kamu "


" Unt...tukku? "


" Aku benar-benar menyesal atas semua yang sudah aku lakukan, dan aku tidak bisa melupakan kejadian itu begitu saja atau menganggapnya angin lalu, membuatku menjadi seperti pria brengsek " Kata Leon dengan bibir yang bergetar.


" Bayang-bayangan dirimu selalu hadir di kepala ku, dan aku selalu mendengar suara kamu " Untuk sesaat Leon menghentikan perkataannya.


" Dan yang lebih gilanya aku masih terus merasakan hembusan napas mu yang hangat, matamu yang indah saat menatapku, dan rasa manis dari bibirmu masih tertinggal di sini " Leon menempelkan jari di bibirnya.


" Semakin aku berusaha untuk melupakannya, namun kenangan itu justru semakin kuat menghantuiku. "


" Aku sungguh-sungguh minta maaf " Kata Leon dengan tulus.

__ADS_1


Mauriel bisa merasakan ketulusan dari mata Leon, Ia menatap bunga yang ada di depannya, bunga mawar putih bercampur dengan bunga tulip, di tengahnya ada sebuah boneka.


Bunga tulip putih merupakan simbol dari ketulusan, kemurnian, harapan dan pengampunan. Oleh karena itu, pelayan toko memilih bunga tulip putih.


Pelayan toko melihat penyesalan yang tulus di mata Leon, dan mengharapkan di berikan kesempatan kedua dari orang yang di cintainya, meskipun Ia bisa mengetahui kalau pria itu belum menyadari perasaannya sendiri.


Mawar putih sering dijadikan sebagai ungkapan pengampunan atau meminta maaf pada seseorang, karena jenis tersebut menyimbolkan kemurnian hati, niat yang baik dan kedamaian.


Leon sangat berharap bisa mendapatkan pengampunan atas perbuatannya yang hina.


Tangan Mauriel tampak ragu untuk mengambil bunga yang ada di depannya atau lebih tepatnya untuk memaafkan Leon, tapi Ia merasakan ketulusan hatinya yang membuat Mauriel menerima bunga itu.


" Harum " Mauriel memejamkan mata, dan mencium bunga itu.


" Kamu mengambil bunganya, berarti kamu menerima permintaan maaf ku ? " Tanya Leon untuk meyakinkan hatinya. Mauriel menganggukan kepala sambil tersenyum.


" Terima kasih " Gumam Mauriel, semula Ia ingin pergi meninggalkan Leon di sana, tapi entah mengapa kakinya tidak mau bergerak.


" Tidak ! Akulah yang seharusnya berterima kasih "


Leon mendekati Mauriel perlahan-lahan, dan memeluk tubuh isterinya yang mungil. Air matanya membasahi pundak Mauriel.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh seakan merestui hubungan mereka, dan hujan pun turun membasahi tubuh mereka berdua.


Leon melepaskan pelukannya, menatap wajah Mauriel, kedua tangannya mengusap lembut pipi gadis itu.


" Aku boleh meminta sesuatu ? " Ucap Leon.


" Apa ? " Jawab Mauriel yang mulai menggigil.


" Kalau kamu tidak suka, kamu boleh menolaknya " Seru Leon dengan bibir yang mulai membiru.


" Hah ? " Mauriel tidak mengerti perkataannya, tapi melihat wajah Leon yang semakin mendekati wajahnya, Ia tau apa yang mau di lakukannya.


Untuk sesaat Leon menghentikan gerakannya, menunggu jawaban dari Mauriel, tapi melihatnya tidak bereaksi, Ia menganggap Mauriel telah mengizinkannya untuk mencium bibirnya.


Leon mendekatkan bibirnya pada bibir Mauriel, dan mencium bibirnya dengan lembut, dengan sepenuh hati, kali ini Ia tidak memaksakan kehendaknya.


Mauriel tidak mendorong tubuh Leon, malah melingkarkan tangannya ke leher Leon, lalu menyambut bibir itu dengan hangat.

__ADS_1


Mereka berciuman di tengah hujan, untuk pertama kalinya mereka menikmati semua itu, begitu manis, dan begitu indah. pantas saja orang yang berpacaran sering menempelkan bibir mereka ke orang yang di cintainya.


Leon jadi lebih agresif, semakin dalam Ia **********, sehingga membuat Mauriel kesulitan bernapas.


" hah..hah "


Leon melepaskan bibirnya, dan menempelkan keningnya di kening Mauriel sambil tersenyum.


Jika setahun yang lalu menikah tidak saling mengenal, tapi setahun kemudian mereka baru saling membuka diri dan mencoba untuk menjalini pernikahan yang telah mereka bangun.


" Ajari aku untuk mengenal dirimu " Bisik Leon lembut di telinga Mauriel.


Kata,kata manis yang keluar dari bibir Leon begitu merdu di telinga Mauriel, wajahnya jadi bersemu merah saking malunya.


Selama satu jam mereka berdiri di tengah hujan, tidak menyadari bahwa di balik jendela ada seseorang yang memperhatikan mereka dari kejauhan dengan sorot mata yang menyala seperti api.


" Wanita j*lang " Ucap Rubia sambil mengepalkan tangannya.


Hatinya panas melihat Leon mencium Mauriel dengan begitu mesra, Ia tidak pernah melihat Leon seperti itu.


Cara Leon mencium Mauriel sangat berbeda dengan yang Leon lakukan pada dirinya.


Apakah suami yang Ia dapatkan dengan susah payah, mulai tertarik dengan wanita lain ?


Tentu saja Rubia tidak akan membiarkan Leon berpaling darinya, apalagi sampai mencintai wanita lain.


" Aku tidak sudi harus berbagi suami ku dengan kamu, jangan pernah bermimpi, kamu bisa memiliki Leon. "


" Leon hanya boleh menjadi milik ku seorang "


" Mauriel tunggu saja, aku akan memisahkan kalian berdua " Teriak Rubia dengan senyum liciknya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya.


__ADS_2