
...MATAHARI TERBIT...
Meski pun dalam mata terpejam air matanya mengalir membasahi wajahnya, Ia tak pernah membayangkan akan sesakit ini rasanya.
Mauriel terus menggigau, wajahnya penuh dengan keringat dan air mata. Ia gelagapan sampai menggapaikan tangannya ke atas.
" Jangan....Leon jangan pergi ! Jangan pergi....."
" Kakak ! Bangunlah ! Mauriel, kau mengigau " Lucas mengenggam tangan Mauriel sambil menggoyang-goyangkan bahu gadis itu hingga Mauriel terbangun.
Mauriel melihat Lucas di depannya, dan kali ini Ia benar-benar sudah sadar. Matahari sudah tinggi dan sinarnya menyorot masuk ke kamar itu.
Mauriel langsung duduk sambil menyandarkan punggungnya ke tempat tidur, tapi Ia menyadari sesuatu.
Mauriel melihat pakaiannya telah berubah, Ia sangat yakin kemarin malam, dia belum mengganti bajunya yang basah.
" Bagaimana baju ku bisa berubah ? Ka-kamu yang menggantinya ? " Wajahnya memerah karena malu, seluruh tubuhnya terasa panas. Apakah Lucas yang mengganti pakaiannya ?
Mauriel melirik ke arah pakaian kotor, dan melihat semua pakaian yang Ia pakai kemarin sudah ada di dalam keranjang.
Lucas menyadari perubahan wajah Mauriel, lalu Ia iseng untuk menggoda kakak iparnya.
" Kakak ipar demam, aku mengkompres dahi mu dengan air hangat.dan......" Lucas sengaja menghentikan perkataannya sambil tersenyum menggoda.
" Dan apa ? " Seru Mauriel membayangkan Lucas melihat seluruh tubuhnya tanpa rasa malu sedikitpun.
Apakah dia sadar dengan perbuatannya ? Bagaimana bisa seorang pria asing melihat tubuhnya, apalahi pria itu adik iparnya sendiri.
Tampang Mauriel sudah ketakutan setengah mati, bercampur dengan rasa malu yang begitu dalam.
" Oh....My God......kenapa bisa jadi seperti ini ! " Gumam Mauriel tidak percaya dirinya bisa begitu bodoh.
Tiba-tiba Lucas tertawa terbahak-bahak melihat ekspersi Mauriel, gadis itu sudah masuk ke dalam kebohongannya.
Mauriel memandangi Lucas sambil mengangkat kedua alisnya, penuh dengan kebingungan.
" Menurut mu itu lucu ! " Sergah Mauriel dengan marah.
" Maaf ! Aku hanya tidak menyangka kakak ipar akan percaya dengan kata-kata ku " Ucap Lucas berusaha menahan tawanya.
" Maksudnya ? " Tanya Mauriel semakin tidak mengerti perkataan adik iparnya.
" Aku ini, pria yang menghormati perempuan, mana mungkin aku melepaskan pakaian kakak. tadi aku menyuruh pembantu yang melakukannya. "
Mauriel mendengarkannya dengan serius dari setiap kata yang terlontar dari mulut Lucas.
" Aku minta maaf sudah membuat kakak terkejut, aku cuma mau ngerjain, kakak " Seru Lucas menghampiri Mauriel, kemudian duduk di pinggirnya.
" Dasar nyebelin, jadi dari tadi cuma ngprank, pasti kamu seneng banget sudah berhasil mempermainkan perasaan ku " Mauriel memasang wajah yang di tekuk, rasanya ingin sekali memukul kepala Lucas, dan memarahinya habis-habisan.
__ADS_1
Tapi niat itu di urungkan ketika melihat baskom serta handuk kecil yang berada di sampingya. Wajar saja Ia terkena demam tinggi, satu jam lebih berdiri di tengah hujan, udah gitu membiarkan bajunya yang basah sampai kering.
" Dasar bodoh " Kata Mauriel di dalam hatinya.
" Terima kasih " Mauriel tersenyum tapi nada bicaranya terdengar pilu, dan Lucas bisa merasakan kesedihannya.
" Kalau ingin mengucapkan terima kasih lakukan yang benar, Kakak harus segera pulih " Lucas memegang Kening Mauriel untuk memeriksa suhu badannya.
" Sudah tidak panas " Gumam Lucas sambi tersenyum.
Lucas melihat Mauriel dengan penuh arti, dan Ia sadar apa yang ingin di ketahui oleh adik iparnya.
" Leon mau menceraikanku " Kata Mauriel sambil menahan air matanya.
" Apa ? " Lucas membelalakan matanya, mendekatkan telinganya seakan ada yang salah dengan pendengarannya.
Mauriel mengulangi kalimatnya," Kami akan segera bercerai."
" Kenapa ? Bukankah kalian habis bulan madu ? dan sepertinya Leon begitu mencintaimu. "
Itulah yang Mauriel tidak habis pikir, dan sampai sekarang Ia tidak mengerti alasan Leon.
Mengapa cinta bisa goyah hanya karena pasanganmu tidak sempurna ?
Cinta itu seharusnya bisa saling menerima kelebihan dan kekurangan dari orang yang kita cintai. Atau hanya dirinya saja yang terlalu naif.
" Entahlah, aku juga tidak mengerti " Jawab Mauriel lebih santai, berbicara dengan Lucas bisa membuat Mauriel melupakan rasa sakit di hatinya.
" Aku juga tidak tahu, aku harap...... " Leon menggengam tangan Mauriel, Ia tahu perasaan gadis itu sangat rapuh, dan sedang berusaha memendam semuanya sendirian.
Seharusnya Lucas tidak boleh merasa senang mendengar perceraian mereka, tapi tetap saja, separu hatinya gembira.
" Setelah bercerai, kamu mau melakukan apa ? Apakah kamu akan pergi dari rumah ini ? " Ia tidak ingin gadis itu pergi meninggalkannya, tapi tidak mungkin juga menahannya di sini.
" Mungkin, aku bakal menikah lagi dengan pria yang mau menerima diri ku, apa adanya" Celetuk Mauriel sambil ketawa kecil.
" Hey....masa secepat itu mau nikah lagi " Kata Lucas dengan tatapan cemburu.
" Hahhaahha......aku cuma bercanda ! Memangnya ada laki-laki yang mau menerima kekuranganku " Mauriel terlihat murung, Ia sengaja tidak memberitahu Lucas mengenai kemandulannya.
" Dasar....aku sampe kaget setengah mati, ternyata kamu lagi balas dendam. " Lucas mengacak-ngacak rambut Mauriel.
Untuk pertama kalinya, Mauriel bisa tertawa lepas, dan Lucas sangat senang melihat gadis itu bisa kembali ceria.
" Kak " Lucas memanggil Mauriel dengan nada yang serius.
" Ya " Sahut Mauriel sambil merenggangkan tangannya keatas.
" Apakah kita masih bisa tetap berhubungan ? " Lucas tidak ingin hubungannya berakhir karena perceraian mereka.
__ADS_1
" Dasar bodoh ! Kalau itu, tidak perlu di tanyakan, kamu akan tetap menjadi adik kecilku. " Kata Mauriel sambil mengelus rambut Lucas.
" Adik ? " Gumam Lucas kecewa.
...♡♡♡♡♡♡...
Sudah seminggu berlalu, dan Leon belum membahas persoalan tentang perceraian, atau mungkin, dia sudah mendaftarkannya ke pengadilan.
Ada banyak hal dalam perkawinan mereka yang tak di lihatnya, yang tak ingin di lihatnya, karena dia begitu mencintai Leon.
Ia bahkan menutup kedua matanya, dan menerima segala perbuatan Leon terhadap dirinya. tapi kini, Ia harus bangkit dari bayang-bayang Leon.
Kata-kata Lucas terus teringang-ingang di dalam kepalanya," Setelah bercerai, kamu mau melakukan apa ? Apakah kamu akan pergi dari rumah ini ? "
Tentu saja dia harus keluar dari rumah ini, dan mulai memikirkan hal yang harus di lakukannya.
Mungkin Mauriel bisa kembali bekerja di tempatnya yang dulu, atau mencari pekerjaan baru.
" Menikah lagi ? " Kalimat itu terlintas di dalam hatinya, dan dia jadi takut membayangkan.
Untuk saat ini, pernikahan tidak masuk kedalam daftar masa depannya. bercerai ! Haruskah Ia meminta harta gono-gini seperti yang di lakukan para artis.
Sejak tadi Lucas terus memperhatikan Mauriel, gadis itu senyam-senyum sendiri dan membuatnya takut.
" Kakak " Lucas mendekatkan wajahnya ke kuping Mauriel.
" Hmmmm "
" Perceraian tidak membuat mu jadi gila kan ? " Seru Lucas.
" Hahahha....Ya, gaklah " Gerutu Mauriel sambil memuku pundak adik iparnya.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua dengan tatapan cemburu.
Leon terbakar api cemburu melihat kedekatan mereka, semakin dekat.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
1. Anak Genius : Ayah sedingin es.
2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
3. Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
__ADS_1
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍