
...LANGIT PUN IKUT MENANGIS...
Dan kini ada sesuatu yang lebih penting untuk di urus, dia yakin masalah cinta bisa di selesaikan belakangan.
Rubia tengah mengandung anaknya, itulah yang paling di butuhkan keluarga Alexander, seorang anak yang tidak bisa di berikan oleh Mauriel.
" Apa kamu benar-benar ingin mengakhirinya ? " Seru Mauriel memaksaka dirinya sendiri, tapi dia harus menanyakannya, harus melupakan semua janji-janji suaminya, dan dia masih tidak mengerti apa arti cinta untuknya.
Leon terdiam sambil memandangi wajah Mauriel yang sembab, hatinya ikut sakit karena harus meninggalkan wanita yang sangat di cintainya.
Tapi semua itu cuma masalah waktu, Ia hanya perlu bersabar untuk mendapatkan tujuannya, cinta serta anak yang akan mereka miliki.
Meskipun mulutnya ingin mengatakan jangan pergi, aku tidak mampu melepaskanmu, aku tidak bisa hidup tanpa dirimu, namun semua itu cuma bisa diucapkan di dalam hatinya.
Dengan suara yang berat, bibir bergetar, dan mata yang memerah, " Aku akan mengurus perceraian kita, dan mungkin akan memakan waktu. jadi bersabarlah sampai hari itu tiba "
Mauriel mendengus sambil menggerutu, " Kamu mau aku sabar melihat kamu bermesraan dengan Rubia "
" Atau kamu ingin menunjukan ketidaksempurnaan diriku, dengan membanggakan pelac*r itu ? "
" Maaf....aku tidak bisa, lebih baik aku pergi dari rumah ini, dan melupakan semua rasa sakit yang sudah kamu tancapkan di hatiku."
" Tolong jangan pergi dari sini " Kata Leon dengan wajah yang memelas.
Mauriel tampak kesal mendengar permintaan laki-laki egois itu, setengah mati dia memohon untuk tidak di ceraikan, tapi sekarang kata itu berbalik dari mulutnya.
Suara Mauriel mulai melengking lagi dan membuat Leon jadi merasa bersalah dengan perkataannya barusan.
Leon memang berniat untuk menceraikan Mauriel, tapi dia tidak ingin wanita itu pergi dari pandangannya.
Kalau bisa, Ia ingin mengurung Mauriel di dalam hatinya, dan membiarkannya tetap terkunci, tak ada seorang pun yang akan mengambil Mauriel dari hidupnya.
" Tentu saja, aku harus pergi ! lagipula, aku sudah tidak di butuhkan di rumah ini." Kata Mauriel dengan ketus.
" Nenek membutuhkan mu " Celetuk Leon dengan sengaja menyebut nama Nenek.
Mauriel memandanginya dengan mulut terbuka karena begitu terkejut, jadi dia selalu berlindung di belakang Nenek untuk menekannya.
Pria itu tahu kelemahannya, lalu dengan sengaja menjadikannya sebuah perisai.
" Memangnya kamu siapa ? mengatur kehidupan ku setelah bercerai. Setelah palu di ketuk, kita akan jadi orang asing yang tak saling mengenal. "
" Aku tidak perlu menuruti permintaan dari orang asing, mantan suamiku " Kata Mauriel dengan sorot mata yang dingin.
__ADS_1
" Tapi aku masih suami mu " Leon kelihatan kusut, dan kacau, sementara Mauriel mendongak padanya sambil tertawa kecil dengan berurai air mata.
" Suami ? Suami yang akan meninggalkan ku demi seorang anak, dasar bodoh, itu cuma masalah waktu sampai perceraian kita di sahkan oleh pengadilan. "
Leon tidak tersenyum atau pun marah atas perkataan Mauriel. Dia hanya memandangi Mauriel dengan raut wajah yang sedih, dan kemudian meninggalkan wanita itu di taman.
Mauriel menatap punggung itu di tengah kegelapan, dan menangis sambil menenggelamkan kepalanya.
Mauriel memicingkan matanya menahan angin kencang, dan tiba-tiba hujan turun dengan rintik-rintik, yang dengan cepat berubah menjadi deras.
Air hujan menghantam wajahnya, dan terasa perih saat menusuk matanya, namun tidak sesakit hatinya yang terluka.
Akhir tahun di laluinya dengan begitu kelam, Tuhan memberikannya dua pukulan dalam sekali serang.
Yang pertama, Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya seorang wanita mandul, dan yang kedua, suami yang di cintainya menggugat cerai.
Apakah ada hal yang paling menyakitkan dari pada ini ?
Mauriel menertawai dirinya sendiri, meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan. Langit pun sepertinya ikut berduka cita dengan takdir hidupnya.
...♡♡♡♡♡♡♡...
Satu Januari tahun dua puluh ribu dua puluh dua, menjadi awal bagi Mauriel, meskipun belum ada surat perceraian yang sah dari pengadilan.
Kehidupan adalah campuran dari terang dan gelap.
Tapi Mauriel harus ingat, matahari selalu bisa menembus awan. Cahayanya akan kembali bersinar dan kamu harus bangkit meski sudah terjatuh di tempat yang gelap.
Karena kebahagiaan menanti dirimu.
" Selamat tahun baru, Kakak ipar " Teriak Lucas masuk kedalam kamar Mauriel.
Lucas berharap bisa menjahili kakak iparnya, namun tubuh itu tetal meringkuk di dalam selimut, bahkan terdengar suara napasnya yang tersengal-sengal.
Tentu saja Lucas langsung memeriksa keadaan kakak iparnya, membuka selimut dan menyentuh keningnya.
" Panas sekali " Gumam Lucas, Kemudian Ia membawa baskom serta handuk kecil untuk di letakan di kening Mauriel.
" Apa yang terjadi, mengapa kamu tiba-tiba demam tinggi " Lucas terus mengusap tangan Mauriel dengan lembut.
Nenek mengajak kami semua pergi merayakan malam tahun baru di luar, awalnya aku tidak mau ikut, dan ingin menghabiskan waktu bersama Kakak ipar.Namun Nenek memaksa.
Kata Nenek, ada sesuatu yang harus di katakan oleh Leon pada mu.
__ADS_1
Kenapa malah jadi seperti ini ?
Mata Mauriel bergerak, tubuhnya mengeliat, keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya, dan detik berikutnya matanya telah terbuka, memandang Lucas di depannya.
Mauriel tidak sadar bahwa Lucas yang sudah merawat dirinya, dan menyangka itu adalah Leon.
" Jangan pergi......jangan..... " Mauriel kembali memejamkan kedua matamya, dan tertidur.
Lucas mengulurkan tangannya, dan mengelus pipi gadis itu dengan lembut. Membenahi anak rambut yang jatuh ke wajah Mauriel.
" Jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Mauriel ku " Bisik Lucas di telinga Mauriel.
Kata-kata Lucas bagai sebuah jimat untuk Mauriel, terasa hangat dan begitu lembut.
Saat tahun baru, Lucas sudah bertekad untuk kepada dirinya sendiri untuk melupakan perasaannya kepada Mauriel.
Membiarkan gadis itu hidup bahagia dengan cintanya, bersama Leon. Tapi melihatnya seperti ini, hatinya terasa sakit.
Lucas sadar gadis itu adalah kakak iparnya, cinta yang tidak boleh di nyatakan, sesuatu yang tidak pantas untuk di lakukan.
Tapi cintanya kepada Mauriel begitu tulus, Ia tidak mengharapkan apapun dari gadis itu, dia hanya mau melihat Mauriel bahagia.
Tetap berada di sisi Mauriel sebagai adik ipar, sudah membuatnya bahagia. dan menjadi tempat untuk dia bersandar.
Lucas akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Kakak iparnya, seorang wanita yang sudah mengisi kekosongan hatinya.
Lucas juga rela terus di andalkan oleh mauriel, meski gadis itu tidak pernah membalas cintanya.
Cinta yang suci dan tulus, cinta tanpa syarat, terpancar dari bola matanya yang berwarna biru.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
1. Anak Genius : Ayah sedingin es.
2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
__ADS_1
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍