BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 28 : TIGA ORANG PANGERAN


__ADS_3

...TIGA ORANG PANGERAN...


Nenek memanggil Mauriel ke kamarnya, dan memberikan sepasang sepatu kaca yang indah untuk di kenakan cucu menantunya.


" Sepatu ? " Kata Mauriel sambil mengangkat sepatu kaca yang berkilauan.


" Iya, cucuku. Gak mungkin kan, kamu turun kebawah dengan memakai sendal jepit, karena kamu adalah bintang utamanya. " Seru Nenek merangkul pundak Mauriel dengan tangannya yang sudah mulai keriput.


Mauriel memeluk Nenek, sambil bergurau," Terima kasih, Nek. Tapi aku takut kaki ini tidak akan bertahan lama. "


" Hahahaahhah " Nenek tahu maksud perkataan Mauriel.


" Aku yakin kamu bisa, sepatu ini tidak terlalu tinggi " Bisik Nenek menyemangati cucunya.


" Baiklah, karena aku adalah cinderella, aku akan memakai sepatu kaca, siapa tahu, di sana ada pangeran yang tampan "


Mauriel memakai sepatu kacanya, lalu bercermin. Kakinya belum mampu untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


" Nenek, sulit sekali " Seru Mauriel sambil berjalan perlahan-lahan, Ia takut membuat kesalahan. Mauriel memanjatkan doa, supaya Ia jangan sampai terjatuh.


Nenek megulurkan tangannya, lalu mereka berjalan bersama.


Aula yang tadinya berisik dalam sekejap menjadi hening, saat mereka melihat Mauriel di atas tangga, pandangan semua tamu undangan termasuk Nathan dan Lucas tidak berkedip sama sekali.


Tangan kirinya berpegangan dengan tangga, sedangkan tangan kanan mengenggam erat tangan Nenek.


Mata mereka seperti tersihir, tiba-tiba kakinya bergerak sendiri, mendekati Mauriel.


Di bawah tangga sudah ada dua orang pangeran, menanti kedatangan sang putri raja.


Nathan berdiri di sebelah kanannya, sedangkan Lucas berdiri di samping kirinya, keduanya membungkukkan badan sambil mengulurkan tangan.


Tap.....tap...


Langkahnya terhenti di pijakan tangga terakhir, Nenek meninggalkan Mauriel, lalu membiarkannya untuk memilih salah satu di antara, Mereka.


Saat semua orang tengah asyik memperhatikan sang putri, namun ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu, berkali-kali matanya melirik ke arah jam.


" kamu dimana, Leon " Gumam wanita itu yang tak lain adalah Rubia.


" Salah satu dari pria bodoh itu, pasti Lucas. dia seperti seekor anak anjing yang selalu mengikuti, kemanapun gadis kampungan itu pergi " Rubia mengumpat sambil menatap sinis ke arah Mauriel.


Mauriel mendekati Nathan, mencoba melihat wajahnya dari dekat, karena dia memakai topeng, Mauriel tidak dapat mengenalinya, namun ada perasaan tidak asing pada diri, pria asing itu.

__ADS_1


Deg ...deg....


Jantung Nathan berdebar kencang, Ia tidak dapat mengontrol perasaannya, ingin rasanya langsung memeluk Mauriel, sekarang juga. hanya tinggal selangkah lagi, tapi Ia mengurungkan niatnya untuk menhampiri Nathan, lalu menjauhinya sambil sempoyongan.


Mauriel yang belum terbiasa memakai sepatu high hells, kakinya menginjak ujung gaunya, sehingga hampir membuatnya terjungkir ke bawah, beruntung Nathan segera berlari untuk menolong Mauriel.


Dengan sebelah tangannya, Nathan menahan punggung Mauriel, wajah mereka yang saling berdekatan membuat mata mereka saling bertaut, dan degup jantungnya semakin berdebar kencang.


Pas sekali saat Mauriel hampir terjatuh dan Nathan merangkul pinggangnya dengan erat, saat itu juga, Leon muncul di depan mereka.


Terlihat dengan jelas keringat yang mengucur dari wajahnya, tanda Ia habis berlari sangat jauh, pakaiannya pun ikutan basah.


Dan betapa terkejutnya Leon melihat Mauriel berada dalam dekapan pria asing, Ia bahkan sampai mengabaikan Rubia yang menunggunya di depan pintu .


Leon mengcengkeram erat bungkus kue, yang Ia beli dengan penuh kasih sayang.


" Maaf " Ucap Nathan sambil membantu Mauriel berdiri.


" Te-terima kasih " Jawab Mauriel merasa canggung, di tambah lagi ada Leon yang berdiri di depan mereka.


Leon mendekati Mauriel, menghentikan kakinya di depan matanya, dan menatap wajahnya dengan sinis, lalu pergi meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Sejak tadi, Lucas memperhatikan Kakak iparnya dengan pria asing yang tidak Ia kenal.


Dari matanya terpancar rasa kecewa karena terlambat untuk menolong Mauriel, langkahnya kurang cepat, satu detik dari Nathan.


" Tadi kita sudah bernyanyi, meniup lilin, memotong kue, dan sekarang saatnya untuk bersenang-senang " Teriak Lucas merangkap sebagai pembawa acara.


Tepuk tangan meriah dari para tamu undangan memenuhi seluruh ruangan, semua orang bergembira, dan cuma Leon yang menyendiri di pojokan.


" Selanjutnya ada acara, apa ? " Tanya salah satu teman Leon yang bernama Benny.


" Berdansa ! Dj, putar musiknya " Teriak Lucas lebih kencang lagi, Nenek menggelengkan kepalanga melihat tingkah konyol cucu bontotnya, dia salah memilih orang untuk mengatur acara.


Nenek sudah menduganya, akan jadi seperti ini jika di tangani oleh Lucas. Untuk memaklumi untuk hari ini.


Lucas menghampiri Mauriel yang sedang duduk bersama dengan Nenek.


" Kakak ipar, Ayo kita dansa " Lucas menarik tangan Mauriel, Ia tidak mau di dahului oleh pria lain.


Lucas menyentuh pinggang Kakak iparnya, sementara Mauriel ragu-ragu untuk melingkarkan tangannya di leher Lucas. dan dia sendiri yang menarik tangan Mauriel ke lehernya.


" Bocah sialan " Gumam Leon sambil meminum wine'nya, entah sudah berapa botol yang Ia minum.

__ADS_1


" Sudah cukup, Sayang " Seru Rubia melarang Leon.


" Kamu cemburu dengan, dia " Kata Rubia sambil menunjuk ke arah Mauriel.


" Cemburu ? Apa, kamu sudah gila. Mana mungkin aku cemburu dengan gadis itu " Teriak Leon sambil menghabiskan botol wine terakhirnya.


Rubia terus mengoceh di telinga Leon, membuatnya menarik tangan isterinya, lalu mengajaknya berdansa di sebelah Mauriel dan Lucas.


Suasana mencekam di anatara mereka berempat pun terjadi, Mauriel tadi bisa melepas senyumannya, sekarang Ia harus merasakan perih di hatinya, ketika melihat Leon memeluk pinggang Rubia.


" Cuupp " Leon sengaja mencium bibir Rubia di depan Mauriel, dan Rubia menyambut bibir suaminya dengan **********.


Mauriel melepaskan diri dari tubuh Lucas, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Lucas mau mengecar Mauriel, namun Leon menahan tangannya.


" Tunggu " Seru Leon melepaskan bibirnya dari bibir Rubia.


Lucas menarik napasnya, Ia ingin sekali meninju Kakaknya, sekarang juga.


" Kenapa ? " Jawab Lucas. dingin.


" Nenek harus meminum obatnya, kamu jangan sampai melupakan kewajibanmu " Ucap Leon sambil menepuk bahu sang adik lalu pergi mencari Mauriel.


"Aaarggggg " Teriak Rubia penuh emosi di tinggalkan Leon begitu saja.


Lucas melirik ke arah Rubia, dan mencibirnya dengan pedas," Kasihan "


" Kau ? " Teriak Rubia sambil menatap mata Lucas seakan mau menantangnya duel, namun Ia mengabaikan Rubia dan bergegas untuk menemui Nenek, setelah itu baru mencari Kakak iparnya.


Seseorang menghampiri Rubia yang masih mematung di tempatnya, lalu berbisik di telinganya sehingga bibirnya menyentuh kulit Rubia," Lama tidak bertemu, sayang "


Rubia menoleh ke sampingnya, dan bibirnya menempel di bibir pria itu, karena jarak keduanya yang terlalu dekat.


" Kamu " Sahut Rubia sambil menjauhi wajahnya.


" Rasanya masih sama " Ucap Pria itu mengusap bibrnya sambil tersenyum.


" Aku sudah menikah, dan jangan pernah ganggu aku lagi ! " Kata Rubia sebelum Ia meninggalkan Pria itu.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉

__ADS_1


sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya.


__ADS_2