
...Seberkas pelangi di balik bayangan awan kelabu, mengantarkan bulir-bulir gerimis yang telah usai....
...Sang senja mulai menepi dan tersenyum sendu....
...Merangkul erat sang bumi mewarnai alam semesta...
...E.S...
Segala sesuatu telah berubah, empat tahun sudah berlalu begitu cepat tetapi perasaan cintanya kepada Mauriel tidak pernah hilang dari hatinya, Ia masih sangat mencintai gadis itu.
Aku masih belum menemukan gadis yang bisa membuat hati ini berhenti berdetak.
Kemana lagi aku harus pergi mencari dia ?
aku masih mengingat wajahnya yang sendu saat kami harus berpisah, dan rasa sakit serta penyesalan karena melepas tangannya yang terasa begitu hangat di kulit ku.
" Papa.....papa...." Suara anak perempuan menyadarkannya kembali ke dunia nyata.
" Papa bangun " Serunya kembali sambil mengguncang pundak sang Ayah.
" Sudah jam berapa sekarang ? " Tanya Leon sambil mengusap dahinya.
Dengan bertolak pinggang, Ia berteriak memperhatikan sekeliling kamar lalu matanya menatap tajam kepada Leon," Jam sepuluh kurang sepuluh, dan apa ini ? Tadi malam, Papa mabuk-mabukan lagi ? "
" Maafkan Papa, Lean " Leon meraih pundak seorang anak perempuan berusia lima tahun, kemudian memeluknya dengan erat. Air mata Leon membasahi bajunya.
" Papa masih merindukan dia ? " Tanya Lean sambil mengusap punggung Leon.
Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Leon, hanya ada keheningan di antara mereka berdua, kali ini Lean bertanya lebih serius," Papa masih mencintai dia ? "
Terdengar suara isakan dari bibirnya, tubuhnya bergetar, dan semakin memeluk erat tubuh mungil Lean sehingga gadis kecil itu mengerang kesakitan.
" Aaaargggg " Leon melepasnya dan menatap mata gadis itu, sambil berkata dengan suara yang sangat pelan.
" Maaf, Papa menyakiti mu " Sambil mengusap pipi Lean.
" Tidak apa-apa, rasa sakit ku tidak sebanding dengan rasa sakit yang papa rasakan. " Ucap Lean sambil memeluk ayahnya dengan lembut.
__ADS_1
Dalam hati Leon berkata," Tidak nak, seandainya saja kamu tahu kebenarannya, mungkin saja rasa sakit mu jauh lebih sakit. "
...♡♡♡♡♡♡...
Leandra seorang gadis kecil yang cantik berusia lima tahun dan tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu, tetapi banyak mendapatkan cinta dan perhatian dari Ayah, Kakek, Nenek dan nenek buyutnya.
Lean memandangi sebuah foto dirinya bersama dengan Ayah dan Ibunya. Ada rasa rindu yang mendalam pada sosok perempuan tersebut.
" Seandainya mama masih hidup, Papa tidak perlu merasakan kesepian, dan setiap malam Papa tidak akan mabuk-mabukan." Kata Lean dengan mata berkaca-kaca.
" Apa yang harus aku lakukan supaya papa tidak bersedih lagi ? " kemudian Lean meletakan foto tersebut , dan mengambil satu lembar foto perempuan cantik yang Ia simpan di balik bantal.
" Mengapa kamu menghancurkan hubungan Papa dan Mama ? Kalau saja Papa bisa melupakan mu, Mama tidak akan bunuh diri " Ucap Lean menatapnya dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.
Lean mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat, buru-buru menyembunyikan foto itu.
" Lean....Lean " Seru Nenek memanggilnya.
" Iya, Nek " Jawab Lean berteriak.
" Ayah baru saja pergi " Sahutnya.
Kali ini giliran Lean yang bertanya kepada Neneknya, " Mauriel gadis yang seperti apa ? kenapa Ayah sangat tergila-gila pada rubah itu ? "
" Apakah Ayah mu mabuk lagi ? " Nenek tidak menjawab pertanyaan Lean dan balik bertanya kepada cucunya, Lean mengganggukan kepalanya.
Nenek menggeleng-gelengkan kepalanya, Ia sudah menyerah dengan kelakuan Leon, Putra sulungnya.
" Nenek " Kata Lean setengah berteriak.
" Iya sayang " Sambil mengusap dagu cucunya.
Lean ingin bertanya sekali lagi kepada neneknya, tapi Ia mengurungkan niatnya untuk mengetahui Mauriel lebih dalam. Seperti biasa Nenek pasti akan mengalihkan pertanyaannya.
" Teman ku baru saja membeli boneka baru, aku juga mau memilikinya " Seru Lean sambil mengandeng tangan Neneknya.
" Ayo kita pergi ke mall, dan membeli boneka yang kamu inginkan " Kata Nenek sambil menghela napas, Ia bersyukur cucunya tidak lagi bertanya tentang Mauriel.
__ADS_1
" Apapun yang di minta oleh Lean, cucu ku satu-satunya pasti akan aku berikan asalkan jangan bertanya tentang Mauriel, menantu yang tidak bisa memberikannya seorang cucu. " Kata wanita paruh baya itu di dalam hatinya sambil tersenyum tipis.
...♡♡♡♡♡♡...
...l****************...
Hallo aku kembali, maaf kalau terlalu lama tidak update dan Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1