BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 46 : AKU MAU CICIT


__ADS_3

...AKU MAU CICIT...


" Kamu sudah selesai mandi ? " Seru Leon dari arah dapur begitu mendengar suara langkah kaki Mauriel.


" Iya " sahut Mauriel sambi menarik kursi.


" Kamu sedang, apa ? " Kata Mauriel mencium aroma lezat dari arah penggorengan.


" Aku membuatkan nasi goreng untuk kamu, seharian kamu belum makan kan. " Ucap Leon sambil meletakan piring berisi nasi goreng ke atas meja.


" Makanlah " Celetuk Leon sambil tersenyum.


Mauriel memperhatikan nasi goreng yang di masak oleh Leon, bentuknya tidak terlalu buruk tapi bagaimana dengan rasanya ?


" Jangan takut, aku tidak menaruh racun di dalamnya tapi mungkin rasanya agak....." Leon belum menyelesaikan kalimatnya tapi Mauriel sudah memakan nasi goreng buatannya.


" Terlalu banyak garam, dan lada jadi rasanya agak aneh " Tutur Mauriel berkata jujur.


" Benarkah ? " Leon mencicipi nasi goreng yang Ia biat sendiri.


" Kamu benar, rasanya memang aneh " Gumam Leon lalu Ia minum air putih untuk menetralisir lidahnya yang keasinan.


" Tapi tidak terlalu buruk " Kata Mauriel sambil menyendokan nasi dan memasukannya ke mulut, namun Leon segera menghentikan Mauriel.


" Jangan " Terial Leon.


" Kamu jangan memakannya lagi. aku akan pergi membelikan sesuatu untuk kamu makan " Seru leon sambil mengambil piring yang ada di hadapan Mauriel.


Leon membuang semua nasi goreng ke tempat sampah, tidak ada satupun yang berhasil untuk menyenangkan Mauriel.


Leon memakai jaketnya, lalu bersiap-siap untuk pergi ke kafe terdekat.


" Kamu tunggu saja, aku akan segera kembali " Kata Leon di depan wajah Mauriel, Ia terdiam sambil menatapnya.


Leon mau mencium kening Mauriel tapi Ia takut gadis itu akan menolaknya lagi, Ia memutuskan untuk membelai rambut Mauriel dengan lembut.


" Aku cuma pergi sebentar jadi kamu jangan rindu pada ku, tapi kalau kamu merindukan ku, aku sangat senang " Kata Leon berbisik di telinga Mauriel.


Mauriel menatap wajah Leon dengan aneh sambil bergumam di dalam hatinya.


" Siapa juga yang akan rindu sama kamu "


Mauriel duduk di balkon sambil memandangi laut, pemandangannya begitu indah, udaranya pun sangat sejuk, tempat ini benar-benar cocok untuk sepasang kekasih yang memadu cinta, tapi sayangnya Ia dan Leon bukanlah sepasang kekasih. Mereka menjalin hubungan karena sebuah ikatan yang membelenggu hidipnya.


Kriing....kriiing....


Tiba-tiba ponsel Mauriel berdering, Nenek menghubunginya lebih dulu. Ia bahkan sampai melupakan Nenek.


" Hallo ? Nenek ? " Seru Mauriel dari ujung sebrang.

__ADS_1


" Iya, ini Nenek. Maaf Nenek menganggu bulan madu mu, aku cuma ingin tahu kamu sudah sampai atau belum " Tanya Nenek


" Nenek tidak menganggu sama sekali, aku justru senang dapat telepon dari Nenek. Kami baru saja sampai, bagaimana kabar Nenek, Papa, Mama, Lucas, dan Rubia ? " Tanya Mauriel, dan sebenarnya Ia malas menyebutkan nama Rubia dari bibirnya.


" Kami semua baik, syukurlah kalau kalian sudah sampai. Nenek mau meminta sesuatu, boleh ? " Kata Nenek dengan suara yang lembut.


Mauriel terdiam memikirkan apa yang akan di kayakan oleh Nenek, jarang-jarang Nenek meminta tolong kepada dirinya.


" Nenek mau di bawakan apa dari sini " Mauriel menebak-nebak permintaan Nenek.


" Bukan, aku tidak ingin apapun " Jawab Nenek dengan nada yang tegas.


" Lalu ? " Sahut Mauriel Dengan wajah yang bingung.


" Nenek cuma mau bilang, tolong jangan terlalu keras pada Leon, kasih dia kesempatan untuk mendekatimu, kalau kamu tidak bisa membuka hatimu untuknya, tolong jangan tolak usahanya untuk memenangkan hatimu " Ucap Nenek


Mauriel tersentak mendengar perkataan sang Nenek, Ia ingin menceritakan apa yang tadi Ia lihat, apakah Nenek masih mendukung cucunya seperti itu ?


Ia menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.


" Baiklah, Nek " Kata Mauriel pada akhirnya, Ia tidak mau membuat Nenek khawatir, apalagi sampai jatuh sakit gara-gara dirinya.


" Syukurlah, kamu masih mau mendengarkan permintaan Nenek. Maaf kalau menyusahkanmu, Nenek cuma tidak ingin kalian berpisah. Nenek berharap pernikahan kalian langgeng, dan bisa segera memberikan cicit sebelum Nenek pergi jauh " Kata Nenek sambil tersenyum bahagia.


Pas sekali saat itu Leon sudah kembali, Ia memberikan ponselnya kepada suaminya, dan Ia bisa pergi ke kamar mandi untuk mengluapkan semua perasaannya.


Bagaimana bisa Nenek mengharapkan dirinya mengandung anak dari Leon, sementara Leon saja belum bisa mencintainya setulus hati.


Beberapa tahun yang lalu Ia menikah dengan Leon Alexander tanpa cinta, begitu pula dengan pria itu yang sama sekali tidak mencintainya. dan sekarang Ia harus terjebak dalam sebuah hubungan yang rumit.


" Mauriel ! Mauriel ! " Terdengar suara pintu kamar mandi di ketuk dari luar dan suara Leon memanggilku.


Mungkin Leon khawatir karena aku terlalu lama berada di dalam kamar mandi.


" Kenapa lama sekali tidak keluar ? Apakah Kamu tidak apa-apa ? " Tanya Leon sekali lagi


" Aku tidak apa-apa cuma sedikit mual " Kata Mauriel berteriak dari dalam kamar mandi.


Mauriel bisa bernapas dengan lega ketika tidak ada lagi suara dari luar, Ia mengatur kembali perasaannya yang meluap-luap.


Leon meletakan ponsel Mauriel di atas meja, ketika itu Lucas menghubunginya namun tidak di angkat oleh Mauriel.


" Mauriel telepon mu berdering " Teriak Leon sambil menyiapkan makanan yang tadi Ia beli.


Ponsel Mauriel kembali berdering, dan membuat Leon penasaran dengan si penelepon yang menghubungi isterinya berkali-kali.


Leon terkejut saat membaca nama yang tertera di layar ponsel, " Si konyol Lucas " begitu nama yang tersimpan di ponsel Mauriel.


Leon baru mau mengangkat telepon itu tapi sudah keburu di matikan, tiba-tiba ada sebuah pesan baru yang masuk ke ponsel Mauriel.

__ADS_1


Tentu saja Leon langsung membuka isi pesan tersebut, dan benar saja pesan itu dari Lucas.


Dear Mauriel


Kakak ipar, kamu sudah sampai ?


Sepertinya aku menganggu bulan madumu, maaf jika aku menghubungimu. hanya saja aku merasa kesepian sejak kakak pergi, tidak ada orang yang bisa ku jahili.


Kalau begitu selamat bersenang-senang, dan jangan lupa belikan oleh-oleh yang banyak buatku.


Dari Adik Ipar mu yang tampan.


Leon membaca pesan itu dengan pandangan cemburu, Ia tidak suka melihat Lucas begitu akrab dengan Mauriel.


Apalagi kalau hubungan mereka adalah saudara ipar, Leon bisa melihat ada ketertarikan dari mata adiknya itu sejak mereka pertama kali bertemu. Ia sudah memperhatikan Lucas dan Mauriel, tapi tidak di sangka Lucas berani mendekati isteri kakaknya sendiri.


Mauriel muncul dari belakang Leon dan bertanya siapa yang menghubunginya, mungkinkah Lucas atau Mama atau Papa mertuanya, tapi sepertinya bukan mertuanya karena selama ini mereka jarang berkomunikasi lewat telepon. dan satu-satunya yang mungkin adalah cuma Lucas ataupun Nathan.


Leon menghapus pesan dan juga panggilan tidak terjawab dari Lucas, lalu membalikan tubuhnya sambil tersenyum licik.


" Cuma seseorang yang menawari asuransi, bukan telepon yang penting "


" Sudahlah lupakan masalah telepon, dan sekarang kamu harus makan setelah itu istirahat karena nanti malam kita akan pergi jalan-jalan." Kata Leon sambil menarik kursi untuk Mauriel, lalu memberikan makanan yang tadi Ia beli di kafe terdekat.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :




Anak Genius : Ayah sedingin es.




Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet




Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2