
Hallo semua 😊😊
selamat tahun baru, dan maaf kemarin tidak bisa up karena kodisi badan sedang tidak enak 😭, dan semoga kalian semua tetap sehat 😊😊😊
...----------------...
... TEMANI AKU BERMAIN...
Lucas tidak tega melihat Mauriel terus bersedih memikirkan perceraiannya, meskipun di luar tampak baik-baki saja, tapi Ia paham betul apa yang di rasakan oleh gadis itu.
" Ayo, kita bersenang-senang " Lucas menarik tangan Mauriel dan membawanya pergi dari rumah itu.
" Kita mau kemana ? " Tanya Mauriel sambil memperhatikan jalanan yang masih renggang. Jarang-jarang Jakarta bisa sepi, efek libur panjang jadi banyak warga kota yang pergi ke kampung halamannya.
" Dufan " Jawab Lucas dengan senyumannya yang khas.
" Dufan ? " Mauriel mengulangi perkataan adik iparnya. Mendengar kata Dufan mengingatkan kenangannya bersama dengan Leon.
Lucas sangat berbeda dengan Leon, Ia tidak menyewa Dufan seperti yang di lakukan suaminya.
Untunglah suasana agak sepi karena ini adalah hari libur panjang, orang-orang lebih memilih pulang kampung dari pada menghabiskan waktu ke taman bermain, maklum sudah dua tahun pemerintah melarang rakyatnya mudik.
Mereka masuk kedalam gerbang untuk menuju dunia fantasi yang terletak di dalam kawasan Ancol.
Lucas membeli dua buah tiket masuk, Mauriel merasa begitu bergairah, meski dia belum lama kesini, tapi membayangkan bisa menaiki semua wahana sudah membuatnya gembira.
" Ayo kita masuk, kita harus bersenang-senang dan melupakan segala beban yang ada " Lucas mengajak Mauriel untuk bergembira.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Ia baru menyadari kehadiran Lucas sangat berarti, Mauriel bersyukur bisa memiliki seorang adik ipar yang begitu perhatian kepadanya.
" Kita bermain-main sementara Leon sedang sibuk mengurus perceraian. " Seru Mauriel.
" Biarkan saja dia yang membereskan semua, Ayo " Lucas mengulurkan tangan kepada Mauriel, Ia pun menyambutnya dengan senang hati.
Petugas membukakan pintu masuk, tangan mereka di cap biru bergambar kepala kera, yang merupakan maskot dari dufan.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, Suasana di dalam agak sepi sehingga mereka bisa puas bermain.
" Tunggu " Mauriel menghentikan langkahnya, dan Lucas memandanginya dengan menaikan kedua alisnya.
" Kamu gak takut ketinggian dan semacamnya kan ? " Tanya Mauriel kepada Lucas, Ia tidak mau kejadian serupa terulang kembali.
" Aku kira ada apa, ternyata pertanyaan yang tidak penting. " Lucas tertawa kecil.
" Aku ini bukan penakut, apapun yang ingin kamu mainkan, aku kan mengikutinya. Kamu tenang saja. " Jawab Lucas sambil mengelus rambut Mauriel.
Mauriel merasa lega segala ketakutannya bisa terpecahkan, Ia mau bermain sepuasnya, dan menaiki semua wahana yang ada.
__ADS_1
Ternyata Lucas lebih antusias daripada Mauriel, pria itu langsung mengajaknya naik halilintar, wahana yang dulu belum sempat Ia naiki sewaktu pergi bersama dengan Leon.
Wahana pertama yang memacu adrenalin, dan menjadi tantangan buat olah raga jantung,
Halilintar adalah sebuah kereta biasa dengan jalur rel yang berbentuk bulat sehingga pada saat melintasinya seolah tubuh kita terbalik, dan juga jalur yang berupa turunan maupun tanjakan yang sangat tinggi, bahkan ada juga jalur yang menukik.
Lucas tidak merasa takut sama sekali, Ia justru sangat menikmati setiap jalur yang kami lewati, berteriak begitu kencangnya.
" Kakak, kenapa ? " Tanya Lucas kepada Mauriel yang sejak turun dari wahana halilintar terus memperhatikannya.
" Hah... ! Oh.... ! Gapapa " Jawab Mauriel jadi malu sendiri karena ketahuan sedang memandangi wajah Lucas.
Kali ini Lucas yang bergantian bertanya ke Mauriel," Kakak masih kuatkan kalau kita naik Tornado ? " Lucas menantang Mauriel sambil menunjuk ke arah barisan orang-orang yang sedang mengantri di depan pintu tornado.
" Siapa takut " Jawab Mauriel ikut masuk kedalam barisan.
Lucas mengikuti gadis itu dari belakang sambil, senyum-senyum sendiri. Tornado termasuk wahana paling ekstrem untuk memacu jantung.
Kini tiba giliran mereka naik, Lucas duduk di samping Mauriel, dan orang lain duduk membelakangi mereka.
Petugas memberikan aba-aba kepada para penumpang untuk bersiap-siap, karena tornado siap untuk menjungkirbalikkan ke atas udara. dan begitu pula saat turun.
Bukan wajah tegang yang mereka tunjukkan, Mauriel dan Lucas justru saling melempar tawa satu sama lain.
" Hahahhaah "
" Senang, gak ? " Tanya Lucas dengan mulut penuh dengan hamburger.
" Senang banget soalnya waktu pergi bersama dengan Leon, aku tidak sempat naik halilintar dan tornado karena Le-on......." Mauriel yang tadinya bercerita dengan antusias tiba-tiba menghentikan perkataanya.
" Hahahaha......baguslah aku bisa membuatmu senang. " Seru Lucas santai seolah-olah tidak mendengar nama Leon.
Mauriel sedikit merasa bersalah karena terus mengingat Leon, padahal tujuan mereka datang kemari adalah untuk melupakan pria itu.
Untuk menebus rasa bersalahnya, Ia mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
" Ku dengar dari Papa, kamu bersikeras tidak ingin masuk ke perusahaan, dan malah mendaftarkan diri ke universitas kedokteran ? "
Lucas tidak merasa heran jika seisi rumah tahu tentang jalan yang di pilihnya.
" Iya.....benar....karena dari dulu aku selalu kalah dengan Kakak, bahkan sebelum kakek meninggal, Ia sudah menyerahkan perusahaan itu kepada Kakak. "
" Di mata keluarga, Kakak akan selalu tampak bersinar, dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa menggapai, kakak. "
" Karena itulah aku memutuskan untuk memilih jalan hidup ku sendiri. " Lucas sudah lelah selalu di bandingkan dengan Kakaknya.
Wajah Mauriel tampak serius memandanginya, dan merasa Lucas sangat keren bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.
__ADS_1
Mauriel jadi malu dengan dirinya sendiri yang belum bisa menemukan jalan hidupnya, selama ini dia selalu menuruti perkataan orang lain untuk hidupnya.
" Aku sangat iri pada mu, bisa memilih jalan yang kamu sukai." Kata Mauriel.
" Kamu tidak perlu iri karena kamu masih bisa menentukan sendiri masa depanmu, tidak ada kata terlambat selagi kita berusaha." Ucap Lucas sambil menepuk bahu gadis itu.
Semua yang di katakan oleh Lucas benar, dia masih bisa menata masa depannya, setelah perceraian, Ia bisa bebas memilih arah hidupnya, tidak perlu terikat dengan orang lain.
Kebetulan......Impiannya sama dengan Lucas, sejak dulu, cita-cita Mauriel adalah menjadi seorang dokter.
" Kamu mendaftar ke universitas, mana ? "
Mungkin saja mereka bisa satu universitas yang sama, sehingga mereka bisa saling mendukung.
" Di Universitas Indonesia, memangnya kenapa ? kamu mau ikut mendaftar ? "
" Hmmmmm..... sebenarnya cita-cita ku dulu mau jadi dokter, tapi tidak kesampaian karena biayanya sangat mahal " Sahut Mauriel.
" Woow,....benarkah ? Sepertinya kita memang berjodoh " Lucas tampak sangat bahagia bila mereka bisa terus bersama-sama.
Mauriel menganggukkan kepalanya.
" Kalau gitu, kamu harus segera mendaftarkan, sebelum terlambat. " Desak Lucas.
Mauriel menghela napasnya," Akan aku pertimbangkan "
Karena masih banyak hal yang harus Ia pikirkan selain masalah biayanya.
Mauriel menghela napas lagi, tentu saja Ia harus pulang kerumahnya dan menceritakan tentang masalah perceraian kepada kedua orang tua angkatnya, apalagi statusnya akan berubah menjadi seorang janda.
" Baiklah aku akan menunggu mu. Ayo, kita main lagi " Ajak Lucas, dan Mauriel menyambut ajakan itu dengan gembira.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
1. Anak Genius : Ayah sedingin es.
2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
3. Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
__ADS_1
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍