BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 73 : PERTEMUAN YANG TIDAK TERDUGA


__ADS_3

...Manusia hanya merencanakan masa depannya namun Ia tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan membuat nasib seseorang berubah 180 derajat....


" Aduh " Keluh Seorang anak kecil yang terjatuh karena tertabrak oleh seorang perempuan.


" Maafkan saya. Saya tidak sengaja menabrak, kamu " Jawab Perempuan itu sambil mengelus lengannya.


Lean tidak menghiraukan ucapan perempuan yang telah menabraknya, bahkan Ia tidak melihat wajah perempuan itu sama sekali.


" Lean.....Lean.... " Teriak Nenek dari kejauhan sambil berlari mendekati cucu kesayangannya.


Lean berusaha untuk bangkit berdiri namun Ia hampir saja terjatuh, perempuan yang menabraknya menopang tubuh Lean, " kamu, tidak apa-apa ? " Serunya sambil menatap wajah Lean.


Deg....Deg.....


Jantung Lean berdebar kencang saat melihat wajah perempuan itu, tangannya pun ikut bergetar, " Wanita ini " Ucap Lean di dalam hatinya.


" Mauriel " Seru Nenek memanggil nama perempuan itu.


...♡♡♡♡♡♡...


FLASH BACK


" Tidak ! Jangan ! Tolong jangan masukan, saya ke penjara " Ucapnya memohon kepada Leon sambil berlutut.


" Kamu, Wanita jahat ! kamu, bukan hanya menipu saya tapi kamu juga telah membunuh ayah kandung dari anak ini " Leon membentak Rubia dengan suara lantang.


" Pak ! Bapak " Panggil seseorang sambil mengguncang tangan Leon.


Leon tersadar dari mimpi buruknya, sudah lima tahun berlalu namun Ia masih saja di hantui peristiwa yang ingin di lupakannya.


" Rapat akan segera di mulai, Pak. Semua orang sedang menunggu Kehadiran, Bapak " Seru sekretaris Leon.


" Sepuluh menit " Jawab Leon sambil mengusap dahinya yang mengkerut.


" Baik, Pak ! " Sekretaris Leon mengerti maksud dari ucapan Atasannya, dan pergi meninggalkan Leon seorang diri.


" Si Bos, mimpi buruk lagi " Kata Diana bertanya kepada Lylia yang baru saja keluar dari ruangannya Leon.


Lylia menganggukan kepalanya sambil menatap Leon dari balik pintu, " Kasihan, Pak Leon "


" Iya kasihan. " Celetuk Diana dengan muka sedihnya.


" Sejak bercerai dari isterinya, Pak Leon jadi sering terlihat murung dan tidak bersemangat. Tapi ketampanannya tidak memudar sama sekali " Seru Diana lagi dengan penuh semangat.


Lylia berjalan menjauhi Diana, Ia menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Diana yang bawel kaya burung beo.


" Eh,Lyl ! Tungguin " Teriak Diana berlari menghampiri Lylia.


...♡♡♡♡♡♡...


" Mauriel " Seru Nenek dengan wajah yang terkejut melihat Mauriel ada di depan matanya.


Lean menatap wajah Neneknya, lalu menatap mata Mauriel dengan penuh kebencian.


" Lepaskan " Gerutu Lean sambil mendorong tubuh Mauriel hingga terjatuh ke lantai.


" Awww " Gumam Mauriel tidak mengerti, kenapa anak itu membencinya.

__ADS_1


" Lean " Ucap Nenek setengah berteriak, Nenek membantu Mauriel untuk berdiri.


" Terima kasih " Sahut Mauriel hendak pergi meninggalkan mereka, namun tangan Nenek menahan Mauriel.


" Jangan Pergi " Wajah Nenek memohon kepada Mauriel.


Lean tidak menyukai semua itu, Ia bahkan tidak sudi untuk melihat wajahnya.


...♡♡♡♡♡♡...


Nenek dan Lean duduk bersampingan, sedangkan Mauriel duduk di depan Lean. tidak ada yang bersuara dalam waktu yang lama. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hampir satu jam mereka berdiam diri, tidak ada satu orang pun yang meminum minuman yang telah mereka pesan, Ice cream coklat vanilla dengan taburan keju di atasnya sudah meleleh, padahal itu adalah kesukaan Lean.


" Mauriel " Kata Nenek memanggilnya dengan wajah sayu, mata penuh kerinduan yang mendalam.


Mauriel memaksakan bibirnya untuk tersenyum, " Nenek, apa kabar ? " Tanya Mauriel memecahkan keheningan.


" Sangat Baik " Sela Lean dengan ketus. Mauriel menatap gadis kecil itu dengan senyuman.


Nenek bisa merasakan ketidaksukaan cucunya terhadap Mauriel, cucu menantu yang sangat Ia sayangi.


" Bagaimana dengan mu ? " Nenek ingin tahu segalanya tentang gadis itu, selama inj Ia tinggal di mana, bagaimana sekolahnya, dan apakah gadis itu sudah menikah lagi atau belum. begitulah yang ada di pikiran Nenek.


" Baik juga Nek, Bahkan saya sudah meraih gelar spesialis dokter anak. " Jawab Mauriel dengan penuh semangat.


Nenek tampak ragu-ragu untuk menanyakan sesuatu kepada Mauriel, " Setelah bercerai dari Leon, saya belum ada kepikiran untuk menikah kembali " Kata Mauriel seakan-akan mengerti yang ada di pikiran Nenek.


" Baguslah " Gumam Nenek pelan.


Tanpa basa-basi Lean melontarkan ucapan yang begitu pedas, " Kamu masih mencintai Ayahku kan, makanya belum menikah ? "


" Dan berharap bisa menikah kembali dengan Ayah " Kata Lean dengan tatapan mata yang sinis.


Mauriel meminum Coffe, kemudian tersenyum tipis," Maaf adik kecil, mungkin kamu akan kecewa dengan jawaban saya, Atau bisa jadi kamu akan senang mendengarkannya. "


" Saya tidak pernah ada niatan untuk kembali ke rumah itu apalagi berpikir untuk menikah dengan Leon, Karena saya sudah tidak mencintainya. " Mauriel mengucapkannya dengan nada yang bergetar.


Lean bukanlah gadis kecil yang bodoh, percaya dengan semua ucapan Mauriel. Lean bisa melihat Mata Mauriel yang berbohong, meskipun bibirnya mengatakan tidak lagi mencintai ayahnya, namun jauh di dalam hatinya, masih ada cinta untuk ayahnya.


" Amat sangat senang " Seru Lean meninggikan suaranya.


" Lean " Tanpa sengaja Nenek membentak Lean, dan ini adalah pertama kalinya bagi Lean. Nenek yang sangat sabar menghadapi sikapnya, bisa memarahinya di depan orang banyak.


Lean terkejut mendengar suara Nenek yang begitu keras, dan hampir saja air mata menetes di pipinya.


" Maafkan Nenek, Nenek ti.... " Lean berlari keluar tanpa menengok kebelakang. Ia bahkan tidak ingin mendengar perkataan Nenek lagi.


Lean berlari tanpa tujuan dengan berurai air mata, Ia tidak sanggup lagi menahan tangisannya. Nenek ingin mengejar Lean tapi usianya yang sudah lanjut membuat dirinya tersengal-sengal.


" Nenek tunggu di sini saja, Saya yang akan mengerjar Lean " Kata Mauriel.


...♡♡♡♡♡♡...


Leon menghela napas panjang, " Rapat yang sungguh melelahkan " Sambil memejam kan kedua matanya.


Tiba-tiba saja Leon teringat dangan Lean, rasa rindu menjalar ke seluruh hatinya.

__ADS_1


" 50 kali Missed Call "


Leon khawatir terjadi sesuatu pada Neneknya setelah melihat ada lima puluh kali panggilan tidak terjawab. Ia menghubunginya kembali.


" Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan setelah mendengar nada ini "


"Ada apa dengan Nenek ? Mengapa teleponnya tidak bisa di hubungi " Leon terus menghubungi nomer tersebut berkali-kali.


Tanpa membuang-buang waktu, Leon segera bergegas pulang kerumahnya.


...♡♡♡♡♡♡...


" Lean " Teriak Mauriel mengejar Lean.


Lean tidak mempedulikan Mauriel mengejarnya dan terus memanggil namanya, kakinya terus berlari dan lari, Ia bahkan tidak menoleh kebelakang.


" Nenek sudah tidak menyayangi ku, Ayah juga hanya memikirkan perempuan itu, Aku sangat membencinya. " Gumamnya dengan mata berkaca-kaca


" Seandainya Ibu ada di sini " Tangisannya semakin kencang, membuat orang-orang heran melihat anak kecil berlari sambil menangis.


Tiiiiiiiinnnnnnnnnnnnn


Lean tidak menyadari lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, Sebuah mobil besar menghampirinya dengan laju yang cukup kencang.


" Aarrggggggggg " Teriak Lean, kakinya tidak mampu bergerak untuk menghindari mobil tersebut.


...♡♡♡♡♡♡...


Hallo aku kembali, maaf kalau terlalu lama tidak update dan Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :




Anak Genius : Ayah sedingin es.




Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet




Paulina Menjadi Paula




Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2