
...LOVE IN KOREA...
Ketika supir mulai menjalankan mobilnya memasuki tol menuju bandara soekarno hatta, langit mulai gelap
dan warnanya yang keperakan membuat ku takjub melihat keindahannya.
Ada garia-garis berwarna biru dan putih yang begitu indah kelihatannya, kedua cahaya itu berubah warna menjadi orange, dan bercampur pink, serta warna ungu yang sangat indah.
Semua orang suka melihat senja, dan mereka akan mengabadikannya kedalam sebuah foto, atau ada pula yang melukiskannya di atas sebuah kanvas menjadikanya sebuah mahakarya yang menakjubkan.
Aku membuka jendelaku setengah dari atas. Angin semilir masuk kedalam mobil, menerpa rambut ku yang terurai, sejuk dan tenang.
Aku memejamkan kedua mataku merasakan angin menembus kulit, dan terasa dingin di tubuh, lalu membiarkan angin berhembus tuk menghapus luka hati ku.
Begitu banyaknya mobil yang menemani kami, bagi warga jakarta kepadatan adalah hal yang lumrah, sudah seperti makanan sehari-hari.
Supir menginjak pedal gas, melaju kencang membuat pagar jalan tol seperti bergerak menjauhiku.
Ada banyak hal di dunia yang bisa membuat kita terpesona karena mata kita tertipu. Dari luar tampak indah namun di dalamnya belum tentu baik, dan sesuatu yang kelihatan buruk mungkin jauh lebih manis dari yang kita pikirkan.
Sepanjang perjalanan Mauriel dan Leon tak saling bersuara, Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Leon tidak memiliki muka untuk menatap wajah Mauriel, kenapa dia selalu menyakiti hati Mauriel.
Supir yang duduk di depan pun merasakan hawa dingin dari kursi belakang, sambil mengintip dari kaca.
Kami tiba di bandara soekarno hatta pukul delapan malam, ternyata ada banyak turis yang datang ke indonesia, dan orang-orang indonesia justru pergi liburan ke luar negeri.
Karena ini bertepatan dengan libur natal dan tahun baru, jadi wajar saja jika ada banyak orang yang ingin menghabiskan malam tahun baru bersama dengan orang terkasih di tempat yang mereka impikan.
" Kamu sudah pernah ke luar negeri ? " Kata Leon tiba-tiba menyapa Mauriel yang berdiri di sampingnya.
Mereka sedang menunggu antrian untuk chek in.
" Belum " Jawab Mauriel singkat tanpa menoleh ke wajah Leon.
" Bagus, ini berarti akan menjadi liburan yang pertama buat kamu, kita bisa membuat kenangan yang indah bersama-sama " Celetuk Leon dengan nada yang lembut.
" Semoga " Sahut Mauriel dengan wajah yabg datar.
Mauriel bahkan tidak yakin Ia bisa bersenang-senang setelah Ia melihat kejadian yang terjadi di antara Leon dengan Rubia.
__ADS_1
Leon ingin mengatakan sesuatu, tapi seperti ada yang mengganjal di tenggorokannya, sehingga tidak dapat mengeluarkan suaranya.
Mauriel tidak pernah membayangkan bisa naik pesawat, sewaktu kecil Ia hanya bisa berpura-pura sedang berada di atas pesawat.
Ayah menggendongnya, lalu Mauriel duduk di pundak Irawan, berlari kesana kemari sambil membentangkan kedua tangan putrinya seolah-olah dia sedang terbang di atas langit.
Siapa sangka sekarang Ia duduk di atas burung raksasa yang akan membawanya menembus langit.
Ayahnya pernah berkata kalau suatu hari nanti dia akan bertemu dengan seorang pangeran yang membawanya ke angkasa, dan mencintai Mauriel dengan segenap hatinya.
Mauriel mendengus sambil bergumam kecil," Ayah pembohong, aku memang terbang tinggi namun dia tidak memcintaiku dengan segenap hatinya "
Ia melihat awan menghitam dari balik jendela pesawat, begitu pula dengan rumah penduduk semakin mengecil dan hanya terlihat lampu berwarna warni, pemandangan yang cantik dan sangat indah.
...♡♡♡♡♡♡...
Mereka tiba di Seoul Incheon Internasional, duduk di dalam pesawat selama tujuh jam membuat tubuhnya tidak enak, apalagi dengan perbedaan waktu yang membuatnya jadi mengantuk padahal Ia sudah tidur seharian di dalam pesawaat.
" Kita makan dulu setelah itu baru istirahat, wajar kalau kamu merasa lelah karena ini pertama kalinya kamu melakukan perjalanan yamg jauh. " Seru Leon dengan suara yang begitu lembut di telinga Mauriel.
Leon menuntun Mauriel dengan mengandeng tangannya, Ia membawa isterinya ke Hallagung Hanok Hotel yang berada di Jeju Island, tepatnya di Jeongbangyeon-ro, Seogwipo, Pulau Jeju, Korea Selatan.
Hallagung ini merupakan sebua hanok atau rumah tradisional Korea yang namun dalam versi mewah layaknya hotel berbintang.
Leon sengaja memilih rumah tradisional untuk tempatnya menginap supaya tidak asa orang lain yang menganggu mereka.
Meskipun tersedia dapur di dalam rumah, mereka masih bisa berwisata kuliner di restoran-restoran sekitar hotel yang bisa dicapai dengan berjalan kaki.
Salah satunya adalah Sin Dragon Hardwood Charcoal Ribs yang merupakan restoran barbeque paling terkenal di Pulau Jeju.
" Bagaimana ? kamu suka tempat ini kan, aku sengaja memilihnya supaya bisa berdua dengan, kamu " Seru Leon sambil memeluk Mauriel dari belakang.
Mauriel risih dengan pelukan Leon, Ia berpura-pura berbalik ke samping sehingga pelukannya terlepas dari pinggangnya.
Secara halus Ia menolak kontak fisik yang terjadi karena Mauriel tidak mau di sentuh oleh Leon, suaminya sendiri.
" Suka, aku bisa melihat laut dari sini. Kamu lelaki yang benar-benar bisa membuat semua wanita terpikat, pantas saja Rubia begitu tergila-gila pada mu " Kata Mauriel dengan nada yang pedas.
" Ayolah ini bulan madu kita, jangan membawa nama wanita lain di sini. Aku dan kamu, cuma ada kita tidak ada yang lain " Seru Leon sambil melangkah mendekati Mauriel dan menyentuh bahunya.
Lagi-lagi Mauriel menghindari Leon dengan beralasan Ia mau mandi, dan meninggalkannya di luar sendirian.
__ADS_1
" Maafkan aku Mauriel sudah menyakit hatimu, tapi aku aku tetap menunggu sampai kamu mau membuka hatimu untukku " Gumam Leon sambil memandangi punggung Mauriel yang perlahan-lahan menjauhi dirinya.
Leon sadar sudah melakukan kesalahan sebelum mereka berangkat, tapi jika dia tidak mencium Rubia, gadis itu akan merengek dan menganggunya, karena itu Leon terpaksa untuk menyenangkan isterinya yang lain, agar mereka tidak saling cemburu.
Siapa yang dapat menduga bahwa perbuatannya justru menyakiti perasaan isterinya yang lain.
...♡♡♡♡♡♡...
Lucas sedang duduk di taman sambil mengadahkan kepalanya ke langit, melihat cahaya bintang yang bersinar cerah.
Wajahnya terlihat sedih melihat bangku di sebelahnya kosong, tidak ada Mauriel yang menemaninya.
Baru sehari di tinggal Mauriel tapi rasanya sudah setengah abad, Ia rindu melihat senyum gadis itu, sangat merindukan kehadirannya.
Betapa berartinya Mauriel di dalam hati Lucas, ternyata dia begitu besar mencintai kakak iparnya sendiri.
" Dasar bodoh, Pasti mereka sekarang sedang bersenang-senang " Kata Lucas sambil tertawa kecil.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
__ADS_1
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍