
... PONDASI SEBUAH PERNIKAHAN...
Lucas duduk manis seperti seekor anak anjing yang sedang menunggu di berikan tulang oleh majikannya, tentu saja wajah polos Lucas membuat Mauriel tertawa terbahak-bahak.
" Hahahahhaha "
Ia mengernyitkan dahinya melihat Mauriel tertawa memandanginya.
" Ayolah, aku datang kesini bukan untuk mendengar tawa mu. " Seru Lucas sambil mengguncang bahu Mauriel.
" Tunggu sebentar.....a-hahhahaha.....aku gak bisa menghentikan tawaku " Ucap Mauriel semakin terpingkal-pingkal.
Lucas mengembungkan kedua pipinya seolah Ia mau menunjukan kemarahannya. bukannya membujuk adik iparnya, Mauriel justru menepuk pipinya hingga kempas. Sontak saja Lucas langsung membalasnya dengan mengelitiki perut Mauriel.
" Hahahahahahha "
" Sudah cukup, hentikan " Kata Mauriel merasa geli di bagian perutnya.
Pintu kamar sengaja terbuka setengah supaya tidak ada orang yang salah paham.
Leon yang kebetulan melewati kamar Mauriel, mendengar suaranya sedang tertawa dengan seseorang, Ia pikir itu adalah Nenek yang membuat Mauriel tertawa, namun langkahnya terhenti ketika Ia mendengar hanya ada suara Lucar dari dalam kamar.
Tanpa mengetuk pintu Leon langsung membuka, Tiba-tiba mereka berdua kaget karena ada orang yang masuk ke dalam kamarnya.
" Leon "
" Kakak "
Celakanya posisi mereka berdua sedang tidak enak di lihat, tubuh Lucas seakan sedang memeluk Mauriel. tentu saja keduanya langsung menjauhkan diri.
Leon mendekati adik kandungnya sendiri, dan menamparnya," Plak "
Mauriel dan Lucas sangat kaget melihat perbuatan Leon terjadi begitu cepat.
Wajah Leon tampak merah padam karena api cemburu terpancar dari matanya.
" Kalian berdua sedang melakukan apa di belakang ku ? Kamu benar-benar tidak tahu malu ! Aku mempercayaimu sepenuh hatiku tapi kamu malah mempermainkan ku " Sembur Leon sambil memandang rendah ke arah Mauriel.
" Kak, kamu salah paham. ini tidak seperti yang kamu lihat. " Ujar Lucas berusaha membela kehormatan kakak iparnya.
" Salah paham ? Aku melihat dengan kedua mata ku, adik ku sendiri sedang memeluk kakak iparnya yang tak lain adalah isteri kakaknya. Di mana letak salah paham yang kamu maksud ? " Cibir Leon dengan penuh amarah.
Mauriel diam saja memandangi wajah Leon, tapi hatinya sakit mendengar ucapan Leon yang menilainya serendah itu. kejadian ini seperti de ja vu bavi dirinya.
__ADS_1
" Kamu mempermainkan perasaan ku, Mauriel. Apakah kamu sedang membalaskan dendam kepada ku ? padahal aku sudah mulai...... " Leon terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya. Ia mengambil sesuatu dari dalam dompetnya dan mengeluarkan foto mereka berdua di depan lampu yang berbentuk hati.
" Sepertinya aku tidak perlu menyimpan foto ini lagi, lebih baik kamu simpan sebagai kenang-kenangan atau kamu boleh membakarnya. " Seru Leon sambil menyerahkannya ke tangan Mauriel. Ia lalu keluar meninggalkan kamar itu.
Mauriel menatap punggung Leon yang semakin menjauh, dadanya sesak setelah Leon meninggalkannya.
" Maafkan aku ! gara-gara aku kalian jadi salah paham, padahal hubungan kalian baru saja membaik. " Gumam Lucas dengan nada yang pilu.
Mauriel tidak menanggapi kata-kata Lucas yang masih berdiri di depannya, Ia memandangi foto mereka berdua saat di dufan, meski keduanya tidak tampak tersenyum tapi mereka terlihat bahagia.
Kejadian ini sama seperti saat Ia bersama dengan Nathan, Leon sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya.
Katanya suami isteri itu harus saling percaya, dan saling mendengarkan satu sama lainnya, tapi kenapa hanya pernikahannya yang tidak ada pondasi kepercayaan.
Mengapa cuma menyimpulkan secara sepihak, dan menganggap lawannya tidak ada ?
Mauriel terduduk di lantai sambil menenggelamkan kepalanya ke tangannya, air matanya tidak mau keluar, namun hatinya tetap merasakan sakit yang teramat dalam. Sayup-sayup Ia bisa mendengar suara Lucas.
" Maaf " Ucap Lucas lirih.
Nenek baru saja mendengar kabar baik dari Leon, ingin segera menemui cucu menantunya, akan tetapi Ia malah menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak boleh Ia lihat.
...♡♡♡♡♡♡...
Hatinya puas telah mengatakan itu, tapi entah kenapa Ia merasa menyesal sudah menyakiti Mauriel, bahkan Ia pergi begitu saja tanpa mendengarkan penjelasannya.
Hari ini, tidak ada yang Ia lakukan dengan baik, Ia sudah menampar adiknya sendiri, padahal selama puluhan tahun Leon belum pernah memukul adiknya, dan menyakiti perasaan Mauriel untuk yang kedua kalinya.
" Hah " Leon menghembuskan napas panjang.
...♡♡♡♡♡♡...
Nenek mengumpulkan semua anggota keluarganya di ruang tamu, ada sesuatu yang ingin Ia sampaikan kepada seluruh keluarganya.
Mauriel duduk di antara Lucas dan Rubia, Meja yang bundar tepat memisahkan Mauriel di ujung satu, sedangkan Leon pada ujung yang lainnya sehingga mereka saling berhadapan muka secara langsung.
Leon bisa memandang Mauriel secara langsung, sesekali mata mereka saling berpapasan saat keduanya melirik satu sama lain.
" Aku sengaja mengumpulkan kalian semua karena ada hal yang ingin aku katakan." Seru Nenek memulai pembicaraan.
" Apa terjadi masalah, Nek ? " Tanya Lucas.
Nenek hanya menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
__ADS_1
" Memang pernah tidak ada masalah di keluarga ini ? " Kata Nenek sambil menatap ke arah Rubia dengan sinis.
Semua terdiam mendengar perkataan orang yang lebih tua di rumah ini.
Nenek menghela napas panjang sambil menundukan kepalanya.
" Tentu saja ada, masalah pertama yang menganggu kedamaian di keluarga ini adalah kedatangan Rubia ke dalam rumah ini, dan yang kedua adalah hubungan Lucas dengan Mauriel, cucunya selalu menempel pada Mauriel. " Gumam Nenek di dalam hatinya.
" Terus untuk apa kami semua berkumpul di sini ? " Seru Rubia memecahkan keheningan.
" Tentu saja untuk membahas.....liburan. " Kata Nenek dengan tegas.
" Liburan ? " Kata semua orang sambil salig bertatapan satu dengan yang lainya.
" Iya, sudah lama sekali, keluarga kita tidak liburan bersama-sama " Ucap Nenek.
" Nenek benar " Celetuk Lucas dengan nada yang ceria.
" Tapi kita mau kemana ? " Kata Mama ikut menyuarakan suaranya.
" Ke pantai " Seru Mauriel dan Rubia saling bersautan.
Mereka semua memandangi Mauriel dan Rubia, tidak seperti biasanya mereka bisa kompak, apa karena memiliki suami yang sama maka tercipta ikatan batin yang sangat kuat.
" Hari sabtu kita akan pergi ke pantai. " Ucap Nenek.
Mama menatap wajah suaminya sambil tersenyum, begitu pula dengan Rubia terlihat senang di wajahnya, namun Leon dan Mauriel saling memasang wajah yang datar. Entah apa yang mereka pikirkan.
Nenek berharap dengan pergi ke pantai hubungan Leon dengan Mauriel kembali membaik.
Dan juga mengharapkan segera mendapatkan cicit dari cucu sulungya dengan cucu menantu kesayangannya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1