
...CINDERELLA SENDAL JEPIT...
Semua orang yang ada di salon tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Mauriel, mata mereka terus menatapnya tanpa berkedip.
" Itu serius si upik abu kan ? " Celetuk Rubia takjub melihat metamorfosa dalam diri Mauriel.
" Cantik, sangat cantik " Gumam Mama ikutan terpesona melihat penampilan Mauriel.
" Bagaimana ? hasil karyaku, sempurnakan. " Seru Tante Susan memuji dirinya sendiri.
Mauriel yang tidak biasa memakai make up, ,dan merasa risih dengan gaun yang belahan atasnya terbuka, tangannya berkali-kaki menaikan bajunya ke atas untuk menutupi dadanya yang terlihat menonjol.
Dengan bantuan tangan emas tante Susan, Muariel si upik abu berubah menjadi cinderella hanya dalam hithngan detik.
Semuanya mengagumi penampilan Mauriel, tidak ada yang menyadari kakinya masih menggunakan sendal jepit.
Kriiiiing......
" Hallo, Ma " Sapa Papa dari ujung telepon.
" Kenapa, Pa " Tanya Mama.
" Gaun yang di kirim oleh Ibu, untuk Mauriel sudah di terima ? " Papa langsung menanyakan Mauriel.
" Sudah " Jawab Mama ketus, Mama sedikit jengkel karena suaminya cuma menanyakan gaun bukan menanyakan dirinya.
" Kapan kalian pulang ? " Seru Papa sambil memasang lampu hiasan di dinding.
" Ini sudah mau pulang " Gerutu Mama langsung mematikan sambungan teleponnya.
" Lah, kok langsung di matiin " Sahut Papa dengan raut wajah yang bingung, dan langsung melakukan pekerjaannya kembali.
" Kurang geser sedikit lagi " Kata Papa kepada Lucas yang memasang lampu di sebelah kanan.
" Sudah selesaikan ? Kita pulang " Kata Mama dengan wajah yang cemberut.
" Kenapa, Say ? " Tanya Tante Susan.
" Biasalah, San " Gerutu Mama.
" Hahahhaha " Tante Susan tertawa kecil.
Meskipun Mauriel sudah merubah penampilannya, tetap saja yang di gandeng Mama adalah Rubia, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Rubia di hati Mama, sebagai menantu kesayangannya.
Di dalam perjalanan, Rubia masih menatap wajah Mauriel dengan penuh kedengkian. Rubia tidak suka melihat wajah Mauriel yang terlihat cantik, namun juga cemburu dengan gaun yang di pakai Mauriel.
Satu Jam Sebelumnya
Seorang kurir datang ke salon Susan untuk mengantarkan paket. Nenek mengirimkan gaun dari perancang internasional, yang cuma ada satu di dunia.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Rubia melihat Gaun yang jadi incarannya, ternayata di pakai oleh Mauriel.
Rubia menahan amarahnya terhadap Nenek yang lebih dominan memihak Mauriel ketimbang dirinya, Ia bahkan membandingkan dirinya sendiri dengan Mauriel. Gadis kampungan itu bukanlah tandingannya, tapi kenapa, Nenek selalu menyayanginya.
Rubia tidak mengerti, apa yang ada di dalam kepala Nenek, dan Bagaimana cara Mauriel untuk menghasut wanita tua itu.
...♡♡♡♡♡♡...
Nenek, Lucas dan Papa menunggu kedatangan Mauriel, mereka sengaja berdiri di depan pintu masuk.
Begitu melihat ketiga wanita itu berjalan mendekat, mereka mengambil posisi untuk menyambutnya.
" Selamat datang, Tuan Putri Mauriel " Seru Lucas sambil membungkukkan badannya dan mencium tangan Mauriel dengan lembut. Nenek, dan Papa mengikuti jejak Lucas.
" Lebay " Ujar Rubia mencibir, dan melewati mereka semua begitu saja.
Hati Rubia semakin memanas ketika melihat rumah yang telah di sulap seperti sebuah ballrom hotel mewah di jakarta.
" Sebenarnya, mereka mau mengadakan pesta ulang tahun atau pernikahan " Gerutu Rubia sambil melihat sekeliling, dekorasi yang mereka buat lebih terlihat seperti sebuah pesta pernikahan.
" Brengsek " Gumam Rubia sambil bergegas pergi menuju kamarnya di lantai atas.
...♡♡♡♡♡♡...
Sementara itu, Leon masih berkutat di dalam toko kue selama dua jam. Ia masih belum menemukan kue yang pas untuk Mauriel. Pelayan toko saja sampai bete nungguin Leon.
" Jadi mau beli yang mana ? " Tanya Pelayan toko dengan wajah yang masam.
" Huft " Pelayan toko menarik napas panjang, menahan perasaannya.
" Kalau boleh tau, bapak mau membelikannya untuk, siapa ? " Pelayan toko mencoba untuk membantu kebimbangan Leon.
" Untuk Ma...Isteri saya " Jawab Leon mengakui Mauriel sebagai isterinya. Leon tidak mengerti dengan bibirnya yang menyebutkan Mauriel sebagai isterinya, namun hatinya sangat senang mendengarnya.
Pelayan toko yang tadinya sudah jengkel dengan Leon, tapi saat tahu perbuatan manisnya, sang Pelayan pun ikut terharu," Isteri bapak suka rasa, apa ? " Ucap Pelayan dengan ramah.
Leon menggelengkan kepalanya.
" Hmmm...kalau gitu warna yang di sukainya, apa ? " Tanya Pelayan mengubah pertanyaannya
Leon menggelengkan kepalanya lagi.
Pelayan toko menarik napas panjang, seolah sedang menarik kesabarannya.
" Makanan yang di sukainya ? " Seru Pelayan mengubah pertanyaannya kembali.
Lagi-lagi Leon cuma bisa menggelengkan kepalanya, untuk menjawab semua pertanyaan.
" Bapak tuh, suami macam, apa sih ? semua pertanyaan saya, di jawab dengan gelengan kepala " Kata Pelayan toko dengan sewot.
__ADS_1
Kali ini Leon yang menarik napasnya," Karena saya tidak tahu jawabannya, makanya saya bingung harus membeli kue, yang mana " Sahut Leon menundukan kepalanya.
" Duh....kalau saya jadi isteri bapak, saya sudah minta cerei ! katanya cinta tapi, tapi gak tahu apa-apa tentang, saya " Teriak Pelayan sambil emosi.
Beruntung sang boss tidak ada di toko kalau ada, si pelayan pasti sudah di pecat memarahi customer.
moto seorang pembeli adalah customer adalah raja, harus melayani segenap hati, walaupun si customer menyebalkan, mereka tetap seorang raja.
Perkataan si Pelayan langsung menusuk hati Leon, Ia tidak bisa membantah tudingan dari pelayan toko, atau membalas ucapannya karena semua yang di katakannya benar semua.
Pernikahan Leon dan Mauriel memang tidak di dasari cinta, di tambah keluarga Mauriel sudah membohonginya, dengan menukar pengantinnya, tapi bukan berarti Mauriel harus menanggung semua kesalahan, dan tidak ada salahnya untuk saling mengenal.
Pelayan yang tadinya membentak Leon, begitu melihat ekspresi murungnya, hati Pelayan jadi luluh kembali.
" Saya kasih rekomendasi untuk, bapak " Kata Pelayan sambil menunjuk kue bertingkat tujuh lapis dengan coklat di dalamnya maupun di luarnya, dan ukiran di atasnya berbentuk hati.
" Bapak, ada foto berdua dengan isteri atau foto pernikahan juga boleh " Ujar Pelayan.
Leon diam sejenak, di dompet maupun di ponselnya tidak ada foto Mauriel, semuanya penuh dengan foto dirinya dengan Rubia.
Leon baru menyadari, betapa jauhnya Mauriel dari jangkauannya.
" Ah, tunggu sebentar " Ucap Leon sambil menghubungi Dion, sekretarisnya.
Dalam hitungan lima belas menit, Dion sudah sampai di toko kue sambil membawa foto pernikahan Leon dengan Mauriel.
Pelayan meminjam foto itu untuk di cetak di atas kuenya, kelebihan toko itu bisa membuat coklat menyerupai gambar aslinya.
Pelayan kembali dengan membawa kue yang sangat indah untuk Leon, dan mengembalikan foto mereka.
Leon menerima foto itu, lalu menyerahkannya kepada Dion, namun Ia urungkan niat itu, dan menyimpan foto pernikahannya dengan Mauriel di dalam dompetnya lebih tepatnya menutupi foto pernikahannya dengan Rubia.
PESTA TOPENG
Sesuai dengan temannya, semua tamu undangan memakai topeng yang sudah di siapkan oleh Lucas.
Beruntung karena memakai topeng, Nathan bisa menyelinap masuk kedalam pesta.
Nathan memanfaaatkan semua kesempatan untuk mendapatkan Mauriel kembali.
Lucas juga tidak mau kalah, Ia berdandan serapih mungkin, menggunakan tuksedo hitam dengan dasi kupu-kupu, dan sudah berlatih berulang kali di depan cermin untuk mengajak Mauriel berdansa.
...****************...
Siapa yang akan di pilih Mauriel, untuk dansa pertamanya ?
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
__ADS_1
sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya.