
...KAMU MILIK KU...
Leon mengcengkram tangan Mauriel dengan kencang, bekas yang tadi belum sembuh sudah di tekan lagi, dan Mauriel menjerit kesakitan. membawa gadis itu masuk kedalam kamarnya, lalu mendorong tubuhnya ke tembok.
" Dengarkan penjelasan aku, dulu " Ucap Mauriel sambil memegangi pergelangan tangannya.
Alih-alih mendengarkan perkataan Mauriel, Leon malah memojokan tubuh sang isteri ke tembok.
" Kamu bilang bertemu seorang teman, tapi sekarang kamu memasukan pria itu ke dalam rumah, apakah ini caramu untuk membalaskan dendam " Teriak Leon dengan wajah dinginnya.
Aku marah ketika Leon menilaiku seperti itu, Ia tidak mau mendengarkan penjelasanku, dan malah menghinaku serendah itu. walaupun kami belum saling mengenal, tapi Ia tidak mempercayaiku.
"Aku sudah katakan berulang kali, kamu salah paham. kamu jangan menuduhku seperti itu, aku juga tidak tahu kalau Nathan akan datang ke rumah ini. " Ucap Mauriel menatap mata Leon.
" Nathan....Nathan....jadi nama pria brengsek itu Nathan. Apa, dia bekas kekasihmu ? " Tanya Leon berapi-api.
Mauriel tidak bisa menjawabnya, dan cuma menundukan kepalanya, Ia tidak mampu mengucapkan kata itu.
Melihat ekspresi Mauriel, Leon sudah bisa menebaknya, dan tidak perlu lagi mendengar jawaban Mauriel.
" Jadi kamu berselingkuh dengan mantan pacarmu sendiri, untuk membalaskan dendam mu ! Kamu begitu gembira bila bersamanya, kamu tidak pernah segembira itu ketika bersamamu "
Plak.....
Aku tidak tahan lagi mendengar tuduhannya, tamparan itu mengenai pipinya, tapi untunglah aku tidak begitu keras memukulnya. Aku sendiri kaget dengan apa yang aku lakukan kepada Leon. tangan ku gemetar setelah menamparnya.
" Ma- maaf " Kata ku terbata-bata.
Tiba-tiba Leon menarik tanganku kedalam pelukannya, lalu mencium bibirku dengan kasar, aku bisa merasakan hembusan napasnya yang menggebu-gebu, terasa panas di kulitku.
" Lepaskan " Aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga, Namun Leon semakin memelukku semakin kencang, sampai aku kesulitan bernapas.
Dengan sebelah tangannya, Leon menekan punggungku ke dalam tubuhnya, sehingga tubuh kami saling melekat.
Aura mata Leon memancarkan kebuasan, Ia tidak seperti orang yang aku kenal, tenang dan hangat yang ada adalah tatapan ingin menerkam mangsanya.
Napasku berdebar-debar saat sebelah tangannya masuk kedalam bajuku, Ia mengusap ke pinggang, ke perut yang membuat aku kegelian, lalu naik ke atas d*da, dan m*r*masnya.
__ADS_1
Aku panik dengan sentuhan yang Leon berikan, Kami memang sepasang suami-istri, sejak menikah sampai sekarang, Leon tidak pernah meminta untuk melakukan hubungan int*m, dan aku senang karena Ia tidak menuntut ku untuk menjalani kewajiban ku, sejujurnya aku belum siap melayaninya.
Apakah Ia ingin melakukannya ?
Di saat dalam kemarahan, tidak, aku tak mau melakukannya. Aku bukan seorang p*lac*r yang bisa di perlakukan semena-mena.
" Jangan " Aku memberontak untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
Leon menuntun langkahku hingga mundur, dan merabahkan tubuhku ke atas ranjang, Bibirnya masih ******* bibirku.
Matanya yang tadi memancarkan binatang buas, telah berubah, kini dari matanya terpanjar kesejukan, mata yang berkilau begitu indahnya, dan begitu jernih. Baru kali ini, aku melihat matanya dari dekat, berwarna kecoklatan.
Dengan lembut di kecupnya mata Mauriel, lalu m*ncium bibirnya dengan penuh kasih, sangat berbeda dari yang tadi Ia lakukan.
" Mauriel " Mauriel tidak berkata apa-apa, dan Leon menciumnya lagi, Suaranya terdengar halus di telinga Mauriel, membuat jantungnya jadi berdebar keras.
" Mauriel, aku menginginkan dirimu, dan kau adalah milikku, aku berhak memiliki apa yang aku inginkan "
Leon menciumi l*her Mauriel selembut mungkin, membaringkan tubuhnya di atas Mauriel, aku jadi terhanyut dengan sikapnya yang lembut, tidak lagi memberontak atau mendorong tubuhnya, aku justru memeluk erat pinggangnya, sambil mendesah di telinganya.
" Ahh.... "
Aku memalingkan wajah ke samping, tersipu malu, melihat diri ku sendiri yang tidak menggunakan sehelai benangpun. Ini adalah pertama kalinya aku memperlihatkan tubuhku.
" Hey, kenapa malu ? aku ini suamimu " Bisik Leon sambil memegang daguku, mengecupnya, dan mendarat ke atas bibir.
Leon cuma membutuhkan satu detik untuk melepas kain yang menempel di tubuhnya, wajahku jadi bersemu merah melihat tubuhnya yang atletis, aku menutup kedua mata ku.
" Aku milikmu " Ucap Leon lembut sambil meraih tanganku dan Ia meletakan tangan ini ke atas dadanya.
Wajahnya mulai mendekat, dan mencium bibir ku dengan berirama. Ia menekan tubuhnya dengan keras, begitu kuat, tanganku sampai menekan ke punggungnya dan jari-jari kuku ku menembus kulitnya.
Setelah sekian tahun pernikahan, kami baru melakukan malam pertama, memang sudah terlambat untuk melakukannya, dan kami juga bukan pengantin baru lagi, tapi entah kenapa, aku menikmatinya.
Di bawah cahaya rembulan, dengan di tutpi sehelai selimut tebal, tubuh kami saling menyatu dan bertautan.
...♡♡♡♡♡♡...
__ADS_1
Sinar matahari menusuk mataku, aku membuka mata perlahan-lahan. dan betapa terkejutnya, ketika aku melihat Leon terlelap di sampingku dengan bertelanjang dada, aku nyaris berteriak histeris jika tangan ini tidak membungkam mulutku.
Melihatnya yang tidak berpakaian, aku langsung menatap tubuh ku sendiri.
" Oh...my good " Gumam ku pelan nyaris tidak beesuara, dan melihat ke sekeliling tempat tidur, pakaian kami berserakan kemana-mana.
Tanpa bersuara, dan dengan hati-hati aku beranjak dari tempat tidur, sambil menarik sehelai selimut untuk menutupi tubuhku.
" Auuww " Aku merasakan sakit pada bagian bawah perutku, panggul dan terutama bagian selangkangku.
Aku pun melihat ada bekas noda darah di atas sprei, itu adalah bukti aku masih perawan, aku menyerahkan milikku yang berharga kepada Leon, suamiku sendiri.
...♡♡♡♡♡♡...
Mauriel duduk termenung di bangku taman, membiarkan matahari pagi menyinari rambutnya yang berkilauan.
Mengingat kembali kejadian semalam, bagi Mauriel semua ini masih terasa seperti mimpi.
Ia mengutuk dirinya sendiri, mengapa begitu mudahnya Ia menyerahkan miliknya ?
Meskipun aku isterinya yang sah, tapi dia tidak berhak melakukannya kepadaku, apalagi dalam situasi sedang memanas, dari situ saja sudah sangat salah.
Seharusnya aku menolaknya sebelum terjadi semakin jauh, perlakuannya yang melembut sudah membuat ku mejadi orang bodoh, terlena dengan sikapnya yang manis.
Semalam aku masih seorang gadis, tapi setelah pagi menyongsong aku sudah tidak tersegel lagi. aku merasakan sakit di seluruh tubuh, tapi mengapa hatiku yang lebih merasakan perih.
Mauriel membenamkan kepalanya, Aku menangis meratapi kebodohanku, dan tidak henti-hentinya menyesali diri sendiri.
Dari awal saja sudah salah, sebuah pemaksaan. Apakah ini bisa di bilang bentuk pemerkosaan ?
Meskipun aku adalah isteri sahnya ?
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
__ADS_1
sekecil apapu. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya.