
...CINCIN PERNIKAHAN...
Tidak terasa waktu cepat berlalu, ketika hari sudah mulai gelap,namun langit masih terlihat terang, hanya ada mereka berdua di dalam dufan.
" Prook....prookk " Leon menepuk tangannya sebanyak dua kali, dan lampu pun menyala membuat tempat itu semakin bersinar, cahaya lampu tampak berwarna warna, begitu indah.
" Woowww "
Mata Mauriel sampai tidak berkedip, Ia terpesona melihat betapa indahnya lampu yang berkelap-kelip tu seperti cahaya kunang-kunang, dan terdengar alunan musik yang romantis entah dari mana sumbernya.
Leon berdiri di belakang Mauriel dan menyentuh bahunya, sambil berbisik di telinganya.
" Kamu menyukainya ? "
Mauriel membalikan tubuhnya hingga mereka saling menatap satu sama lain, tiba-tiba saja keduanya jadi salah tingkah dan saling membuang muka.
" Su-suka " Jawab Mauriel tampak malu-malu dan membuat wajahnya memerah.
Wajah Leon tak kalah merahnya, Ia pun jadi semakin gugup, jantungnya berdebar kencang sekali, padahal seingatnya dulu Ia tidak seperti ini ketika berkencan dengan Rubia. Apakah karena tempat dan suasana yang berbeda maka Ia jadi nervous, seperti orang yang tidak pernah kencan.
" Ayo kita naik itu " Seru Leon memecahkan keheningan.
" Bialala ? " Gumam Mauriel sambil mengikuti langkah Leon dari belakang.
Sebuah kincir raksasa yang siap membawa kita keatas langit dengan ketinggian puluhan kaki dari tanah, dari sini kita bisa melihat pemandangan jakarta, di malam hari.
" Wah, indah sekali " Teriak Mauriel sambil menempelkan wajahnya di kaca, Ia melihat kebawah semakin mengecil yang di terangi oleh lampu-lampu.
Mauriel menarik tangan Leon, Ia mau lelaki itu juga melihat ke bawah bersama dengannya.
" Lihat di sana, lampu yang kamu bikin semakin bersinar "
Pandangan matanya tetap mengarah ke bawah, namun tidak dengan Leon yang duduk di sampingnya, Leon menatap wajah Mauriel dengan perasaan kagum.
" Iya, sangat bersinar sampai aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya " Gumam Leon.
Mauriel tampak semakin cantik di matanya, Ia bahkan tidak melihat ke arah bawah sama sekali.
Saat Mauriel menoleh kearahnya, saat itulah Ia baru melihat ke bawah, reflek tangannya menunjuk ke arah lampu yang berbentuk hati dengan bertuliskan tiga huruf di tengahnya.
" I Love You " Ucap Mauriel membaca tulisan pada lampu yang berbentuk hati itu.
Wajah Leon tersentak karena terkejut mendengar ucapan Mauriel barusan, " Apa ? "
" Iya, I love you itu yang tertulis di dalam hatinya " Seru Mauriel sambil menunjuk tulisan itu
" Memangnya kamu tidak bisa melihat tulisan yang ada d...i " Ucap Mauriel terputus ketika menoleh ke arah suaminya, dan melihat Leon sedang memandangi dirinya dengan wajah yang bersemu merah.
__ADS_1
Mereka berdua diam untuk sesaat, entah karena malu atau sedang memikirkan sesuatu di kepala masing-masing.
" Hmmmm " Leon berdeham memulai pembicaran.
" Lampunya terlihat indah di dalam kegelapan " Kata Leon basa basi.
" Iya kamu benar, sesuatu yang gelap akan menjadi indah bila ada cahaya yang meneraginya " Seru Mauriel sambil tersenyum.
Leon mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, sebuah kotak kecil yang terbungkus dengan cantik.
" Selamat ulang tahun " Kata Leon sambil menyerahkan kotak itu ke depan Mauriel.
Bukannya senang menerima hadiah, Mauriel justru mengernyitkan dahinya.
" Ah....maaf kalau aku terlambat mengucapkannya. Hari itu, aku bahkan belum memberimu kado " Ralat Leon menjelaskannya.
" Tidak usah repot-repot padahal ulang tahun ku sudah lewat, tapi......terima kasih " Mauriel mau mengembalikan kado itu tapi melihat tampang Leon yang memelas, Ia jadi tidak bisa menolaknya.
Lagi-lagi Leon memasang wajah seperti anak kucing yang meminta ikan.
" Kamu mau aku membukanya ? " Tanya Mauriel.
Leon menganggukkan kepalanya dengan wajah yang berseri-seri.
Mauriel membuka bungkus kado itu dengan sangat berhati-hati, betapa terkejutnya Ia melihat isinya.
" Kenapa ? kamu tidak suka dengan modelnya ? kalau kamu tidak menyukainya aku bisa menggantinya " Ucap Leon dengan sikap yang sedikit angkuh.
" Bukan masalah suka atau tidak suka, tapi ini terlalu berlebihan " Gerutu Mauriel sambil memasukan kembali cincin itu ke dalam kotaknya.
" Aku mohon jangan menolaknya, kamu pantas menerimanya " Kata Leon sambil berjongkok di deoan Mauriel.
" Tap...." Mauriel mau mengatakan sesuatu tapi tangan Leon lebih dulu menempel di bibirnya.
" Anggap saja sekarang aku sedang melamar mu, lagipula kamu juga tidak memakai cincin pernikahan kita. " Kata Leon sambil menatap jari manis Mauriel yang kosong.
" Tapi... " Lagi-lagi Leon menyela perkataan Mauriel.
" Aku tahu kamu belum memutuskan tentang hubungan kita, tapi bisakah kamu melakukannya demi Nenek " Ucap Leon menatap wajah Mauriel dengan sorot mata yang dalam.
" Bisa kah dia mempercayai lelaki ini ? "
" Apakah ada jaminannya bila menyerahkan seluruh hatinya, Ia tidak akan terluka ? "
" Seandainya Ia meminta Leon untuk memilih di antara dia atau Rubia, siapa yang akan Leon pilih ? "
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Mauriel, bibirnya mau mengatakan semua itu tapi seakan ada yang menganjal di tenggorokannya.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan Rubia ? " Hanya itu yang keluar dari mulut Mauriel.
" Aku memang mencintai Rubia, dan dia sudah menjadi isteriku, tapi kamu juga isteriku. Aku akan.... " Leon menghentikan ucapannya, dan termenung untuk sesaat.
Leon mengenggam tangan Mauriel, menatap wajahnya dengan sungguh-sungguh.
" Kasih aku waktu satu tahun untuk belajar mencintai kamu " Ucap Leon dengan lembut
Ia menghela napas panjang, dan dengan berat hati Leon mengatakan sebuah kalimat. Kata yang tidak pernah mau Ia lontarkan dari bibirnya.
" Jika sampai batas itu aku belum juga mencintaimu, maka aku akan mence-raikan mu " Ucap Leon sambil menarik napasnya.
" Seandainya kamu memcintaiku, kamu bersedia menceraikan Rubia ? " Kata Mauriel balik bertanya.
" Iya "
Entah kenapa Leon langsung menjawabnya dengan cepat.
Untuk saat ini Ia belum tahu perasaannya terhadap Mauriel, yang Ia tahu dengan pasti adalah Ia tidak mau melepaskan Mauriel.
Mauriel memejamkan kedua matanya, mengingat kenangannya bersama dengan Nathan, sedang berlari-larian di taman belakang karena Nathan meledeknya.
Ketika nilai ujian mereka baru keluar, dan nilai Nathan lebih tinggi dari Mauriel, Ia mengejek gadis itu tidak lebih pintar dari dirinya.
" Lihat, Riel nilai ku lebih unggul dari pada kamu, kalau seperti ini terus aku bisa mengalahkan mu di kelas " Seru Nathan sambil mengibar-ibarkan kertas ujian Mauriel.
" Aku tidak akan membiarkan mu merebut posisiku, Than " Teriak Mauriel sambil mengerjar Nathan di rerumputan, lalu mereka berdua saling tertawa bahagia.
Lalu memorinya mundur pada saat Ia akan menggantikan kakaknya menikah, pemuda itu tampak membeku melihat pengantinnya bukan yang Ia pilih.
wajahnya menyeramkan seakan ingin memaki sang penjual karena sudah menukar barang yang Ia beli tanpa seizinnya.
Dan ingatan pengkhianatan itu muncul saat suaminya membawa wanita lain, mengatakan kepada semua orang kalau Ia sudah menikahinya.
Hatinya sakit tercabik-cabik seperti di sayat oleh pisau yang tajam, namun ada seseorang yang menutupi luka itu, Ia memberikan kehangatan serta kasih sayang yang berlimpah, senyum Nenek tergambar dengan jelas.
Dengan berurai air mata, Mauriel menganggukan kepalanya.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
__ADS_1
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍