BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 35 : KADO YANG TERLEWAT


__ADS_3

...KADO YANG TERLEWAT...


Tidak terasa sekarang sudah memasuki bulan Desember, otomatis intensitas hujan semakin tinggi, tiada hari tanpa hujan.


Ada beberapa orang yang mengeluh ketika hujan datang, karena ketika hujan turun jalanan akan becek, dan yang lebih parahnya lagi terjadi banjir di mana-mana. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak menyukai musim hujan.


Seminggu telah berlalu, saatnya bagi Mauriel untuk memberikan jawaban atas permintaan Leon.


Ia sangat menantikan hari ini tiba, juga sudah menyiapkan berbagai seribu alasan untuk membuat Mauriel menyerahkan dirinya.


Leon mau mengirimkan pesan kepada Mauriel,namun baru di sadarinya, Ia tidak menyimpan nomer telepon gadis itu di ponselnya.


" Bodoh kau, Leon ! nomer isteri sendiri tidak kamu simpan " Leon memaki dirinya sendiri.


Kemudian Ia memanggil sekretarisnya, menyuruh Dion untuk menjemput Mauriel, dan membawanya ke suatu tempat.


Leon sudah mereservasikan sebuah tempat untuk mengajak Mauriel berkencan, ini adalah kencan pertama bagi mereka berdua.


Awalnya Mauriel menolak ajakan Dion, tapi Leon begitu cerdik, dia tahu Mauriel akan menolaknya mentah-mentah, lalu Ia meminta bantuan sang Nenek untuk membujuk Mauriel.


Perkiraan Leon sangat tepat, begitu Nenek yang memintanya, barulah Mauriel menerima ajakan kencannya.


" Cucuku, berilah kesempatan kepada Leon. tidak ada salahnya kalian berdua pergi berkencan. " Kata Nenek dengan wajah memelas.


" Brengsek kau, Leon " Gumam Mauriel di dalam hatinya.


Mauriel menghela napas, lalu menuruti permintaan dari wanita tua itu," Baiklah Nek, tapi hanya kali ini saja, ya "


" Terima kasih, sayangku ! Nenek berjanji jika kelak dia menyakitimu lagi, aku tidak akan memaksamu, kamu bebas memilih kebahagiaanmu " Nenek memeluk Mauriel dengan penuh kasih.


Sejak pertama kali mengenal Mauriel, Nenek sudah menyayanginya seperti cucunya sendiri bukan menganggapnya menantu. Itulah sebabnya, Mauriel tidak pernah bisa menolak permintaan Nenek yang sudah menerimanya setulus hati.


" Kakak ipar mau pergi ? " Tanya Lucas.


Mauriel tidak menyadari adik iparnya sudah ada di dalam kamarnya, kadang-kadang kedatangan Lucas seperti hantu, tiba-tiba saja dia sudah nongol di depan mata.


" Iya " Mauriel sibuk mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.


" Mau pergi kencan dengan Kakak, ya ? " Kata Lucas tanpa basa basi.


" Kata siapa ? " Mauriel menenangkan nadanya sesantai mungkin.


Lucas beranjak dari tempatnya, mendekati Mauriel, dan menyenderkan bahunya pada lemari


" Cuma asal menebak aja "


Mauriel menatap wajah Lucas, dari matanya terpancar kekecewaan yang begitu mendalam.


" Kamu cemburu, ya " Mauriel mencoba untuk mengajak Lucas bercanda, namun di tanggapi dengan serius.

__ADS_1


" Iya, aku cemburu. sangat cemburu " Kata Lucas sambil mendekati wajahnya ke depan mata Mauriel hingga jarak mereka cuma beberpa senti.


Mata Lucas begitu tajam menatap matanya, Ia sadar akan posisinya, terlebih wanita yang ada di depannya adalah isteri kakak kandungnya sendiri. Seandainya Ia bertemu duluan dengan Mauriel, Ia tidak perlu menahan perasaannya, tapi.....


Tiba-tiba Lucas tertawa begitu keras," Hahahahahha "


Mauriel mengkerutkan kedua alisnya hingga alisnya menyatu.


" Kakak ipar, lihat tampang mu yang polos "


" Wajah kamu serius sekali "


" Aku memang cemburu tapi, bukan berarti aku menganggapmu seperti seorang wanita " Kata Lucas kemudian Ia terdiam sejenak.


" Aku iri karena Kakak akan bersenang-senang, sementara aku harus di rumah sepanjang waktu. kalau Kakak pergi, aku tidak bisa menganggu Kakak. "


" Dan aku akan merasa kesepian " Celetuk Lucas sambil memasang wajah imut, aku jadi gemas ingin mencubit kedua pipinya.


" Anak anjingku ini lucu sekali " Aku tidak tahan kalau tidak mencubit pipinya yang tembem.


" Kalau kamu bosan, cobalah belajar lebih serius lagi, siapa tahu kamu bisa bekerja di perusahaannya Leon, dan berhenti mengangguku " Ucap Mauriel sambil tersenyum.


Mauriel sudah menemukan baju yang akan Ia kenakan, Ia berlari ke arah kamar mandi untuk mengganti pakaianya.


Sementara Lucas menghela napas panjang, hatinya tercabik-cabik harus merelakan gadis itu pergi. Wajah yang tadinya ceria berubah murung, kelihatan dengan jelas kalau Ia menahan air matanya.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ia buru-buru mengendalikan perasaannya.


Walaupun Mauriel terpaksa pergi, tapi tetap saja jantungnya berdebar-debar akan pergi kencan berdua dengan Leon. Apalagi ini adalah kencan pertamanya, setelah sekian tahun tidak pernah lagi pergi berkencan.


" Cantik ! Kakak ipar selalu terlihat cantik " Kata Lucas dengan jujur, Ia tidak dapat memungkiri Mauriel memang sangat cantik di matanya.


" Terima kasih untuk pujiannya, tapi maaf...aku tidak punya uang untuk membayarnya " Celetuk Mauriel sambil memejamkan matanya.


" Hahahahhahah " Hati Lucas terobati melihat tingkah konyol kakak iparnya. Lucas menarik tangan Mauriel, menyuruhnya duduk di depan cermin.


" Izinkan hamba untuk menata rambut tuan putri " Seru Lucas bergaya bak seorang pengawal.


" Aku percayakan kepadamu, prajuritku " Sahut Mauriel.


Lucas mengeringkan rambut Mauriel dengan lembut, helai demi helai rambutnya di tata sangat rapih,


" Rambut kakak halus dan harum " Ucap Lucas.


" Terima kasih " Kata Mauriel sambil mengintip ke arah cermin, dan melihat pantulan Lucas yang begitu lihai menata rsmbutnya.


" Selesai " Bisik Lucas di telinga Mauriel.


" Woowww.....Amazing ! itu beneran aku ? "

__ADS_1


Mauriel sungguh tidak percaya, dirinya bisa secantik tuan putri di negeri dongeng.


" Aku kan sudah bilang, kakak adalah wanita paling cantik di dunia " Kata Lucas sambil menekan bahu Mauriel dengan kuat.


Mauriel berlari memeluk Lucas dengan erat, lalu berbisik dengan lembut di telinga adiik iparnya, hingga napasnya dapat menembus kulit Lucas.


" Sekali lagi terima kasih, Lucas "


Deg.....deg.....


" Sa-sama-sama, Kak " Ucap Lucas terbata-bata, jantungnya hampir berhenti berdetak untuk sesaat.


... ...


...♡♡♡♡♡♡...


Dion melajukan mobilnya menembus jalan raya yang semakin padat merayap, setiap tahun tidak ada perubahan yang terjadi di jakarta, justru semakin penuh dengan ribuan masyarakat yang mencari nasib di ibu kota.


" Kita mau kemana, Pak ? " Tanya Mauriel penasaran.


Dion menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh rahasia, Leon adalah atasan sekaligus sahabat terbaiknya, jadi sebisa mungkin Ia akan membantu percintaan sahabatnya.


Ketika mereka tiba di Taman Impian Jaya Ancol, ternyata Leon sudah berdiri di sana, menunggu Mauriel dan Dion.


Suasana sangat sepi karena Leon sudah menyewa tempat itu untuk satu hari. Mereka masuk ke dalam gerbang untuk menuju Dunia Fantasi.


Mauriel menghentikan langkahnya, " Dunia Fantasi ? kamu mau kita kencan, di sini ? "


" Iya, apa kamu keberatan. " Tanya Leon menyelidiki.


" Bukan begitu, aku tidak menyangka kamu akan membawaku, kesini. aku pikir kamu akan membawa ku ke restoran mahal atau pergi ke mall. " Kata Mauriel.


" Kamu kecewa karena aku tidak membawa mu ke restoran mahal " Leon kembali bertanya


Mauriel menggelengkan kepalanya.


" Sebenarnya aku belum pernah main ke sini. Setiap kali, aku mengajak Rubia main kesini, Ia selalu menolak nya dengan alasan panas, dan katanya kekanak-kanakan. " Kata Leon mengingat masa-masa pacarannya dengan Rubia.


" Aku malah sudah beberapa tahun tidak pergi ke dunia fantasi " Celetuk Mauriel sambil mengingat kapan terakhir Ia datang ke sini.


Mauriel termenung mengingat kenangannya bersama dengan........


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2