BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 55 : HANYA UNTUK SEMENTARA


__ADS_3

...HANYA UNTUK SEMENTARA...


Leon memberitahu hasil laporan medisnya kepada Nenek sekalian meminta pendapatnya mengenai renacana yang Ia persiapkan.


" Bagaimana hasil laporan kalian berdua ? Dan kapan Nenek bisa mendapatkan cicit dari Mauriel ? " Tanya Nenek begitu melihat Leon di dalam kamarnya.


" Menurut medis hasil laporan ku baik-baik saja, dan bahkan tidak ada masalah dengan kesehatanku. Tapi...... " Leon terdiam untuk sesaat, mengambil napasnya dalam-dalam.


" Kenapa ? Apa ada masalah dengan kesehatan cucu menantuku, Mauriel ? " Nenek memendangi wajah Leon yang sudah pucat bagai mayat hidup.


" Cepat kata kan yang sebenarnya ! " Nenek mengguncang bahu Leon hingga dia nyaris terjatuh.


Leon tidak sanggup untuk berkata-kata, dan hanya ada suara isakan yang keluar dari mulutnya.


" Cucu ku, Leon ? Kamu jangan membuatku mati penasaran, cepat katakan kepadaku " Wajah Nenek ikut memucat, pikirannya mulai melayang kesana kemari.


" Mauriel tidak akan bisa memiliki seorang anak, ada masalah dengan kesehatannya. " Kata Leon dengan bibir yang bergetar.


Nenek terduduk di atas tempat tidur, dia bukan hanya terkejut, namun juga tidak mempercayai perkataan yang terlontar dari bibir cucunya.


" Maksud kamu, cucu menantu ku mandul ? " Nenek mempertegas perkataan Leon.


Leon menganggukan kepalanya dengan sangat berat, dia sendiri pun tidak sanggup menerima kenyataan ini.


" Aku tidak percaya ! pasti ada yang salah dengan laporan tersebut " Nenek bangkit berdiri dengan wajah yang tegang bercampur keringat.


" Aku juga berharapnya begitu, tapi.....inilah kenyataannya, Nek " Seru Leon.


Sudah berapa kali Leon berusaha untuk menyangkal hasil laporan itu, namun mau seberapa banyak sangkalan tetap saja kenyataan tidak dapat di hindari.


Rubia mau menemui Nenek, namun malah tidak sengaja mendengarkan percakapan antara Leon dengan wanita tua itu.


Rubia hampir berteriak kencang ketika mendengarkan perkataan Leon, gadis yang dia anggap sebagai ancaman hidupnya, saingan cintanya, sekarang bukan menjadi musuh terberatnya.


Mauriel hanyalah seorang wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan kepada Leon.


Anak yang ada di dalam kandungannyalah, yang akan mewarisi kekayaan dari Alexander group.


Namun sayang.....Rubia langsung pergi terburu-buru tidak mendengarkan percakapan mereka sampai tuntas, sehingga Ia tidak tahu rencana yang sedang di susun oleh suaminya.


" Sebenarnya, aku tidak terlalu mempermasalah jika kalian ingin mengadopsi seorang anak. " Kata Nenek sambil menghembuskan napas panjang.


" Tapi Kakek mu tidak akan pernah setuju. lagipula sebelum Kakek mu meninggal, dia meninggalkan surat wasiat yang isinya hanya ikatan darah yang boleh meneruskan perusahaan. "


Tiba-tiba Leon memanggil Neneknya dengan suara yang pelan " Nenek "


" Aku punya solusi dari masalah ini, Nenek mau kan membantu ku " Ucap Leon.


" Katakan saja, Apa yang harus aku lakukan, dan Nenek siap untuk memberikan dukungan kepadamu " Kata Nenek sambil mengenggam tangan Leon.


" Aku akan menceraikan Mauriel "

__ADS_1


" Apa ? " Teriak Nenek terkejut mendengarkan perkataan cuucnya.


" Apa kamu sudah gila ! Kamu mau menceraikan Mauriel hanya karena dia mandul ? " Nenek menggelengkan kepalanya.


" Nenek paham kamu tidak pernah mencintai Mauriel tapi jangan begitu kejam padanya. Dimana hati nuraini mu sebagai laki-laki."


" Hanya karena dia tidak bisa memberikan mu anak, lantas kamu mencampakannya begitu saja ? "


Nenek terus menceramahi Leon tanpa henti. bahkan wanita tua itu tidak tahu perasaan Leon yang sesungguhnya.


" Aku mencintainya " Ucap Leon pelan, tapi Nenek tidak mendengarkan perkataan cucunya.


Leon memegang bahu Neneknya dengan erat, tatapannya tajam memandangi mata wanita tua itu.


" Aku mencintai Mauriel " Kata Leon dengan nada yang tegas, dan wajah yang serius.


" Aku tidak salah dengarkan ? " Tanya Nenek untuk memastikan pendengarannya.


" Tentu saja tidak ! Aku tidak ingin kehilangan Mauriel karena aku sudah jatuh cinta kepadanya "


" Kalau kamu mencintai Mauriel, mengapa kamu mau menceraikannya ? " Kata Nenek.


" Aku terpaksa harus menceraikannya, Nenek kan sudah tau masalahnya "


" Rubia sedang mengandung anakku, sedangkan wanita yang aku cintai tidak bisa memberikanku keturunan. "


Nenek menatap mata Leon sambil mendengarkan penjelasan Leon sampai tuntas.


" Kalau aku tetap mempertahankan Mauriel, anak ku tidak akan pernah bisa mendapatkan haknya sebagai pewaris yang sah. Tapi..... " Bibirnya tidak sanggup mengucapkan sesuatu yang menyakitkan hati Mauriel.


" Bagaimana dengan Mauriel ? Apakah kamu sudah menjelaskannya ? " Ujar Nenek.


Leon menggelengkan kepalanya, Ia takut Mauriel tidak akan pernah setuju dengan rencananya, jadi Leon memutuskan untuk tidak memberitahunya.


" Setelah anak itu lahir, aku akan langsung menceraikan Rubia, dan menikahi Mauriel kembali. Dengan begitu semua masalah bisa di selesaikan. " Kata Leon dengan mata yang berbinar-binar sambil menunggu pendapat dari sang Nenek.


" Yang Nenek takutkan adalah Mauriel tidak akan mau menerima mu kembali " Seru Nenek.


" Tapi jika kamu sudah yakin dengan keputusan itu, maka Nenek akan mendukung kamu. " Kata Nenek sambil menepuk pundak cucunya.


Sebenarnya Leon juga takut kehilangan Mauriel, tapi Ia yakin dengan pendiriannya karena mereka saling mencintai.


...♡♡♡♡♡♡...


Pada malam hari yang dingin di bulan desember, Mauriel terbelalak ketakutan memandang Leon.


" Apa kamu sudah gila ? " Kata Mauriel.


" Tidak " Leon menatapnya, kelihatan kaku, dan tegang. mereka sudah saling mengaku tentang perasaannya.


Orang yang dulu menyatakan cinta kepadanya begitu lembut, dan kalimat yang keluar dari mulutnya begitu manis di telinganya. Dan sekarang....dia seperti orang yang tak di kenalnya.

__ADS_1


" Aku harus mengatakannya, kita bercerai " Kata Leon tanpa ekspresi.


Serasa berjam-jam lamanya Mauriel hanya bisa menatap suaminya. Leon tak mungkin serius. Dia pasti bercanda.


Mauriel selalu membuat pondasi untuk hatinya, supaya tetap kuat jika suatu hari Leon mencampakannya.


Hatinya belum siap menerima dirinya di campakkan, apalagi setelah mengetahui kenyataan pahit dalam hidupnya.


Impian setiap wanita adalah bisa mendapatkan cinta dari suaminya, dan harapan seorang isteri adalah bisa memiliki anak dari rahimnya.


Perlahan-lahan Mauriel mendekati Leon, tapi suaminya menggeleng dan berbisik," Jangan....tolong jangan "


" Apakah karena diriku yang mandul ? aku tidak bisa memberikanmu seorang anak ? " Pundak orang yang begitu di cintainya itu semakin bergetar, tapi Leon tak berkata apa-apa.


Kini rasa cinta yang di rasakan Mauriel mulai menghilang.


Saat Ia berjalan mendekati Leon, amarah mulai bergejolak dalam hatinya.


" Jawab aku, sialan " Di tariknya dengan kasar pundak Leon, dan pria itu berbalik memandangi matanya.


" Ya. Kurasa begitu. Tapi entahlah. Aku hanya tahu ini adalah jalan yang terbaik untuk kita berdua. "


Mauriel menjauhi tubuh Leon, menengadahkan kepalanya ke atas langit, dan melihat bintang bersinar kelap-kelip.


Malam tahun baru harusnya menjadi momen paling bahagia sepanjang hidupnya, mendapatkan pengakuan cinta dari suami sendiri, kemudian memulai pernikahan dari awal dengan penuh cinta.


Tapi mengapa semuanya tidak berjalan sesuai dengan harapanya ?


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :




Anak Genius : Ayah sedingin es.




Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet




Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2