
...Pelangi hadir ketika Sang Awan mempertemukan Gerimis dan Mentari dalam satu kisah waktu....
...Gerimis yang datang berusaha membendung Sinar Mentari....
...Namun Sang Pelangi hanya bisa singgah menemani sesaat dan mulai pudar....
...Ketika Sang Mentari mulai tersenyum kembali....
Mendengar suara dentuman yang sangat besar membuat warga sekitar mendatangi tempat kejadian, di tengah kerumunan ada seorang anak kecil yang di dekap oleh seorang lelaki.
" Permisi..."
" Tolong beri jalan " Celetuk Mauriel menghampiri Lean.
Napasnya tersengal-sengal karena Ia habis berlari kencang, Dirinya sangat takut saat sebuah mobil melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi kearah Lean.
Mauriel tanpa sadarpun menangis. Ia membayangkan jika sesuatu terjadi pada Lean, keluarga yang dulu di sayanginya akan hancur berkeping-keping. Ia tahu rasanya kehilangan seseorang, dan tidak ingin orang lain mengalami yang dulu Ia rasakan.
" Maaf "
" An....Anda tidak apa-apa kan ? " Tanya Mauriel sambil menyentuh pundak laki-laki yang telah menyelamatkan Lean.
Lelaki itu tersenyum ke arah Mauriel kemudian jatuh pingsan, " Arrrggg " Teriak Mauriel histeris.
" Tolong....Tolong.... "
" Bawa mereka ke rumah sakit secepatnya " Ujar Mauriel berjalan kesana kemari kepada warga sekitar.
" Biar saya yang membawa mereka ke rumah sakit " Ucap seorang bapak-bapak paruh baya.
" Terima kasih " Ucap Mauriel dengan mata berkaca-kaca.
Warga sekitar membopong tubuh Lean dan Lelaki yang telah menyelamatkannya ke mobil.
...♡♡♡♡♡♡...
Mauriel berdiri di depan pintu IGD, dan tubuhnya bergetar.
" Dokter, ada pasien kecelakaan, Pria ini banyak mengeluarkan darah " Seru suster sembari mendorong Lean dan Pria tersebut.
" Cepat bawa ke ruang operasi " Jawab Dokter, Lalu suster mempercepat langkahnya.
" Maaf. Keluarga pasien tidak boleh masuk kedalam " Suster menghadang Mauriel yang hendak masuk ke dalam.
" Ta...tapi sus " Seru Mauriel menatap pintu yang sudah tertutup dan lampu emergency pun menyala.
" Ya Tuhan, mengapa semua ini terjadi " Gumam Mauriel putus asa.
Selama lima jam lebih Mauriel melakukan kegiatan yang berulang-ulang. Duduk sebentar kemudian berdiri, lalu mondar mandir sembari menunggu pintu terbuka.
Ia berpikir harus kah Ia menghubungi keluarga Lean atau tidak, kontak yang masih tersimpan di ponselnya hanyalah nomer Nenek.
Lampu emergency telah mati menandakan operasi telah selesai, Dokter pun membuka pintu dengan wajah lega.
" Suami anda telah melewati masa kritis " Kata Dokter kepada Mauriel.
Mauriel tercengang mendengar pernyataan Dokter, " Maaf Dok, Tapi dia bukan suami saya " Jawab Mauriel.
" Lalu ? " Tanya Dokter dengan wajah heran.
Belum sempat Mauriel menjawab, Dokter mengucapkan kalimat yang bikin Mauriel tambah terkejut.
__ADS_1
" Anda yang telah menabrak mereka ? " Dengan mata yang tajan menatap wajah Mauriel.
Mauriel menggelengkan kepalanya sembari berkata, " Bukan juga "
" Saya.....Sa....ya " Seru Mauriel terbata-bata. Ia sendiri bingung ingin menjelaskan kepada Dokter.
Ia bukan keluarga tapi pernah menjadi bagian keluarga tersebut, haruskah Ia mangatakan bahwa dirinya adalah mantan Ibu tiri Lean ?
Pada akhirnya Mauriel berkata jujur tanpa basa-basi, " Saya bukan keluarga Lean, namun saya kenal dengan keluarganya. "
" Lalu pria yang di dalam ? " Ucap Dokter menunjukkan tangannya kedalam ruang operasi.
Mauriel hanya menggelengkan kepalanya,Ia sendiri tidak mengetahui identitas pria yang telah menyelamatkan Lean.
...♡♡♡♡♡♡...
Lean sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Ia pun tidak begitu mendapatkan luka yang serius, namun seluruh tubuhnya merasakan sakit.
Lean memandangi langit-langit, Dan mengingat kembali kejadian hari ini," Awwwww " Gumam Lean melihat tangan dan kakinya yang penuh luka.
Lean menoleh ke samping tempat tidur, betapa terkejutnya Lean melihat Mauriel, wanita yang Ia benci ada di sini.
" Wanita ini ! " Celetuk Lean dengan geram.
" Karena dia ! Aku harus mengalami kejadian mengerikan itu " Ucap Lean kembali dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
Mauriel terbangun dari tidurnya, padahal baru sepuluh menit yang lalu Ia dapat memejamkan matanya dengan tenang, " Kamu perlu sesuatu ? " Tanya Mauriel sembari mengucek kedua matanya.
" Tidak " Jawab Lean ketus sambil membaringkan tubuhnya, membelakangi Mauriel. Lean dapat menahan luka di tubuhnya, namun luka di hatinya terlalu sakit hingga tak tertahan, Ia pun menangis dalam gelap.
...♡♡♡♡♡♡...
Sepanjang malam, Mauriel tidak bisa tidur. Ada begitu banyak pertanyaan di dalam dirinya.
" Dan untuk apa, Dia masih berada di samping gadis kecil yang membencinya tanpa alasan. "
" Lean " Teriak seseorang sambil membuka pintu.
" Suara itu " Pekik Mauriel diam membatu, Ia tidak berani menolehkan kepalanya kebelakang.
Wajah Mauriel dan Leon saling bertemu, dari mata keduanya terlihat kerinduan yang begitu mendalam.
" Mauriel "
" Leon " Mereka saling bersautan dan saling memandang.
Leon memeluk Mauriel dengan erat, bahkan Mauriel hampir tidak bisa bernapas, " Leon. Lepas, aku tidak bisa bisa bernapas " Seru Leon tak mempedulikan perkataan dari Mauriel, Ia semakin memperat pelukannya. Di dalam hatinya jika Ia melepaskan Mauriel, maka Ia akan kehilangan wanita yang Ia cintai.
" Wangi " Gumam Leon.
Mauriel masih berusaha untuk melepaskan diri dari Pria yang telah menorehkan luka hatinya, mencintai seseorang sekaligus membencinya adalah hal yang paling menyakitkan.
" Leon, lepas " Seru Mauriel memohon.
" Tidak ! "
" Aku tidak akan pernah melepaskan tangan mu, lagi " Leon meyakinkan Mauriel untuk membuatnya terus berada di sisinya.
" Papa " Saat melihat Ayah dan Mauriel berpelukan, kebencian Lean terhadap Mauriel semakin bertambah.
" Lean " Leon melepaskan pinggang Mauriel, Lalu mendekati putrinya.
__ADS_1
" Untunglah kamu selamat " Leon membelai kedua pipi Lean dengan penuh kasih sayang.
" Jika terjadi sesuatu pada mu, Papa tidak akan sanggup untuk bertahan hidup. "
" Papa tidak mau lagi kehilangan orang yang papa sayangi. " Kata Leon sambil melirik ke arah Mauriel.
" Sungguh ? " Seru Lean.
" Iya Sayang " Leon mencium kening Lean.
" Jika di antara Aku dan Dia akan tertabrak mobil, siapa yang akan papa selamatkan ? " Tanya Lean ketus.
" Tentu saja Mau...." Leon hampir keceplosan lalu menyambungkan ucapannya kembali, " Anak papa tersayang tentunya. "
Baik Mauriel maupun Lean, keduanya sudah tahu jawaban sesungguhnya. Dada Lean terasa sesak, ternyata dirinya tidak lebih berharga dari pada Wanita itu.
" Papa harus berjanji, apapun yang terjadi, tidak boleh ada orang lain di antara kita " Lean memberikan kelingkingnya.
" Papa janji akan selalu mengutamakan anak papa satu-satunya " Lean dan Leon saling melingkarkan kelingking mereka.
Mendengar jawaban Leon sungguh membuat Mauriel tidak enak hati, Ia berniat untuk meninggalkan mereka, namun tangan Leon menahan kepergian Mauriel.
" Mengapa baru sekarang ? " Gumam Mauriel pelan namun terdengar sedu.
Sekarang Mauriel mengerti, Menagapa Lean sangat membenci dirinya. Gadis itu tidak ingin berbagi cinta dengan orang lain. Cinta Leon hanya miliknya.
Kejadian lima tahun yang lalu harus kah terulang kembali ?
Kali ini, antara putri dan wanita yang dia cintai, siapa yang akan di pilih oleh Leon ?
...♡♡♡♡♡♡...
Hallo aku kembali, maaf kalau terlalu lama tidak update dan Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
__ADS_1
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍