
...ULANG TAHUN MAURIEL...
Sejak pertemuannya dengan Nathan, Mauriel jadi uring-uringan, Ia tidak pernah membayangan dia akan muncul kembali di depan matanya. Setiap malam, kenangan bersama Nathan selalu menghantuinya, dan timbul rasa bersalah saat melihat wajah Leon.
Meski Mauriel sudah mengatakan jangan menganggunya, tetap saja, lelaki itu terus menghubunginya berulang kali.
Malam sebelum ulang tahun Mauriel, Nathan berkali-kali mencoba menelepon Mauriel. Rupanya cowok itu maju tak gentar menghadapi Mauriel yang berusaha menghindarinya.
Telepon tidak pernah di angkat, sms juga tidak pernah di balas, boro-boro membalas pesan. setiap kali ada pesan dari Nathan, Mauriel langsung menghapus pesan itu.
Tekat Mauriel sangat kuat untuk menjauhi Nathan, dia hanyalah bagian dari masa lalunya.
Tanpa sengaja tangan Mauriel membuka pesan dari Nathan, otomatis aku membaca pesannya.
" Tolong angkat, ada sesuatu yang ingin aku katakan "
Benar saja, Nathan langsung menghubunginya, begitu Mauriel selesai membaca pesan tersebut.
" Hallo, Mauriel " Sapa Nathan dengan nada yang lembut
" Satu menit ! aku ngasih kamu kesempatan cuma satu menit " Ucap Mauriel dengan nada yang jutek.
" Lama gak ketemu, sekarang kamu jadi galak ya " Seru Nathan sambil cekikikan.
" Udah deh, gak usah bawel ! mau ngomong atau aku matiin nih ? " Kata Mauriel setengah mengancam.
" Oke......okee......besok malam, temui aku di taman sekolah " Pinta Nathan.
Mauriel mengernyitkan kedua alisnya hingga saling bertautan, jantungnya berdegup kencang, seperti orang yang sedang kasmaran.
Mauriel menggelamkan wajahnya kedalam tangannya, ia mencoba mereka-reka, untuk apa Nathan memintanya bertemu di taman sekolah. tempat favorit mereka untuk berkencan.
" Aku tidak mau " Jawab Mauriel menolak mentah-mentah.
" Oke kalau kamu gak mau, aku gak akan maksa kamu " Seru Nathan.
Mauriel dapat bernapas lega, akhirnya Nathan menyerah juga, namun itu hanyalah beberapa detik saja, Seketika aku terkejut dengan apa yang aku dengar.
" Kalau gitu, Aku datang ke rumah kamu aja " Ucap Nathan tenang seperti ingin mengapeli pacarnya saja.
" Ap-apa kamu bilang ? " Mauriel yang sedang rebahan langsung beranjak dari tempat tidurnya.
" Besok malam, aku mau ke rumah kamu " Kata Nathan mengulangi perkataannya.
" Udah gila kamu ya, Than ! ini bukan rumah aku, tapi rumah suamiku" Celetuk Mauriel sengaja menekan kata suami.
" Aku tahu kok " Ucap Nathan biasa saja.
" Terus, kalau kamu tahu, kenapa masih nekat mau datang ke sini ? kamu mau, ,suamiku salah paham " Ketus Mauriel menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Di dalam hatinya Nathan ngbatin, " Lebih tepatnya, Aku mau kalian bercerai " Tapi tidak mungkin kan, aku mengatakan itu kepada Mauriel, pikir Nathan.
" Makanya kamu tinggal pilih, mau aku yang ke sana atau kita ketemu di taman sekolah pukul tujuh malam " Kata Nathan membuat Mauriel untuk memilih.
" Sableng kamu, Than " Gumam Mauriel di dalam hati. Mauriel terdiam sejenak,Ia tidak tahu harus pilih yang mana, kedua pilihannya sangat tidak menguntungkan.
" Riel, kok diam ? " Seru Nathan membuyarkan lamunan Mauriel.
" Hah...I-iya, sampai ketemu besok di sekolah " Ucap Mauriel dan langsung menutup telponnya.
Mauriek tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran, Nathan.
Bagaimana caranya agar Nathan menyerah mengejar dirinya.
Nathan yang tahu pernikahan Mauriel bukan karena keinginannya, dan Nathan tahu kalau dia hanyalah seorang pengantin penganti , sehingga membuat Nathan ingin mengejar Mauriel kembali.
...♡♡♡♡♡♡♡...
Mauriel bersantai di taman belakang sambil minum coklat dingin favoritnya. Di sebelahnya tergeletak buku yang sedang di bacanya, Ia sedang menikmati waktu senggangnya, sebelum Lucas datang menganggunya.
" Kakak Ipar " Teriak Lucas dari kejauhan, suaranya yang besar mampu di dengar Mauriel.
Lucas mengambil coklat dingin yang ada di tangan Mauriel, lalu meminumnya sampai habis. Dan mengembalikan gelas kosong ke tangannya.
Mauriel ngbatin di dalam hatinya, sambil melihat susu yang sudah habis tanpa tersisa, " Anak kurang ajar "
" Ada apa, datang kemari ? "Tanya Mauriel dengan jutek sambil menutup buku yang sedang Ia baca.
" Kak " Panggil Lucas sambil membuka buku-buku Mauriel.
" Apa ? " Ucap Mauriel sedikit ketus.
" Hari ini, Kakak ada acara ? " Tanya Lucas sambil menatap wajahnya.
Deg.....
Spontan jantung Mauriel berhenti berdetak, jangan-jangan Lucas tahu kalau dia mau keluar bersama dengan Nathan. Tapi, bagaimana cata aku menjelaskannya, dan apa yang akan dia pikirkan.
" Aa-aku, memangnya kenapa ? " Mauriel malah balik bertanya.
" Tidak apa-apa ! nanti malam, jam dua belas datanglah ke sini " Seru Lucas.
" Apa ? " Mauriel terkejut mendengar perkataan Lucas.
Ada apa dengan kedua orang ini, mengapa semuanya meminta aku untuk datang ke taman, pikir ku tidak mengerti maksud mereka.
" Pokoknya, Kakak harus datang ! " Seru Lucas mengancam.
Mauriel mengeleng-gelengkan kepalanya, tidak hanya permintaan mereka yang mirip, keduanya sama-sama mengancam, Apakah mereka saling telepati.
__ADS_1
Mauriel menarik napas panjang, Ia tidak habis pikir Mantan dan Adik iparnya mengajaknya bertemu di hari yang sama, sedangkan suaminya saja tidak pernah memintanya untuk datang ke suatu tempat.
" Oke " Jawab Mauriel pada akhirnya, karena Ia ingin menyudahi percakapan ini, dan segera ke kamar Nenek.
Tidak di sangka Mauriel akan bertemu dengan Leon di kamar Nenek, dirinya jadi menyesal buru-buru datang menemui Nenek.
" Hay. " Sapa Mauriel canggung, dan Leon hanya menganggukan kepalanya. tapi tiba-tiba Nenek malah memanggil mereka berdua secara bersamaan.
" Mauriel, Leon, Nenek ingin bicara " Kata Nenek sambil menatap wajah kami berdua.
" Ada apa, Nek " Kami hampir menjawabnya secara bersamaan.
" Hari ini, kamu mau kemana ? " Tanya Nenek menatap wajah Leon.
" Hari ini, aku akan pergi bersama Rubia. Ia ingin minta di temani belanja, dan sekalian kami akan berkencan " Jawab Leon sambil melirik ke arahku.
" Oòooo.....begitu " Sahut Nenek mangguk-mangguk.
Sekarang giliran Mauriel yang di tanya, " Kalau, Mauriel ? "
" Aaa-Aku akan bertemu dengan teman lama " Jawab Mauriel sedikit gugup, di tambah Leon menatap ku dengan sorot mata yang tajam.
" Jadi.....kalian berdua, sudah mempunyai rencana yang berbeda, sangat di sayangkan " Gumam Nenek.
" Kamu boleh pergi, dan Mauriel tetap di sini menemani Nenek. " Celetuk Nenek.
Leon berpamitan kepada Nenek dan Mauriel untuk berangkat kerja, sedangkan Mauriel tetap tinggal bersamanya.
" Jam berapa kamu pergi ? " Tanya Nenek tiba-tiba.
" Jam tujuh malam, Nek " Jawab Mauriel tidak segugup tadi.
" Kalau sudah pulang, temui Nenek di kamar." Pinta Nenek sambil mengenggam erat tangan Mauriel.
" Baik, Nek " Jawab Mauriel sambil tersenyum.
Lagi-lagi Nenek menceritakan masa kecil Leon, yang dia begini, dia begitu, dan sebagainya. Hampir setiap hari, Nenek selalu menceritakan semua hal tentang Leon, sepertinya Nenek ingin Mauriel bisa mengenal Leon lebih dalam.
Apakah hanya diriku saja yang harus mengetahui segalanya tentang Leon, bagaimana dengan dia ?
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
__ADS_1
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍