BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 65 : MELIHAT MATAHARI TERBIT


__ADS_3

...MELIHAT MATAHARI TERBIT...


Mauriel duduk di rumput, dan kebetulan ada sungai di taman tersebut. Ia sudah mengganti bajunya yang basah dengan pakaian yang baru di beli oleh Lucas ketika Ia membeli makanan serta minuman untuk mereka berdua.


Lucas membeli berbagai macam makanan, ada dua nasi padang, yang satu bungkus isinya Tahu dan tempe lengkap dengan sambal, dan sayurannya, lalu bungkus yang lainnya isi terong balado.


Pria itu juga mampir ke supermarket yang ada di ujung jalan, membeli minuman kaleng, dan beberapa banyak camilan.


Lucas belum memutuskan akan kembali pulang ke rumah karena Ia merasa belum siap untuk bertemu dengan seluruh keluarganya, terutama sang kakak.


Mauriel juga tidak keberatan dengan keputusannya, Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya, dan ada banyak hal yang ingin Ia tanyakan pada pria itu.


" Lebih baik kita makan dulu, aku tahu ada banyak yang ingin kakak lontarkan " Ujar Lucas sambil menyerahkan nasi padang yang Ia beli. Untunglah masih ada warung makan di tempat ini.


Sebenarnya gadis itu tidak merasa lapar sama sekali, dan tidak ada keinginan untuk makan, namun Lucas memandanginya dengan tajam.


" Aku mengerti " Kata Mauriel balik memandangi Lucas di sampingnya. Wajah pria itu tampak berseri-seri dan kebahagiaan terpancar di kedua matanya.


Lalu Ia mengambil bungkus nasi dari tangan pria itu, dan membukanya," Terima kasih " Seru Mauriel sambil tersenyum.


Dan mereka berdua makan tanpa ada suara, sangat menikmati makanan yang sederhana itu. Seakan-akan mereka sedang pergi piknik.


" Ku pikir, aku tidak akan bisa menghabiskan nasi ini, tapi ternyata......" Celetuk Mauriel sambil meremas bungkusnya.


" Hahahah " Lucas tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan gadis itu.


" Ternyata benar apa kata orang, kalau makan dengan suasana yang nyaman, akan terasa begitu lezat walau hanya makan tahu tempe " Seru Mauriel bergurau.


" Jadi selama ini, kamu tidak menikmati makananmu, padahal di rumah ada begitu banyak makanan belum di tambah dengan menu pencuci mulut. " Seru Lucas sambil memegangi tangan gadis itu untuk mencuci tangannya di sungai.


Mauriel membayangkan hidup orang kaya begitu enak, kemana-mana selalu di antar mobil, memiliki rumah yang besar, dan setiap hari makan makanan enak, gak pusing memikirkan uang belanja yang minim.


" Not bad. Kamu sendiri ? "


" Not bad, too "


Mereka berdua tertawa. Mauriel sudah tahu kehidupan Lucas di rumah itu, meski menjadi tuan muda kedua, tetap saja dia bukanlah sang pangeran, yang hidupnya di manja.


Mauriel merasa ada kemiripan dengan Lucas, sedang berjuang untuk di akui oleh keluarga, bahkan oleh dunia tempat mereka berpijak.


Mauriel memandangi Lucas, mau mengatakan sesuatu namun tampak ragu, dan untunglah pria itu peka.


" Kamu mau nanya persoalan aku menyukai mu, yang di tuduhkan oleh kak Leon, kan " Lucas bisa membaca yang ada di pikiran gadis itu.

__ADS_1


Mauriel menganggukan kepalanya, Ia sendiri sangat takut mendengar kebenarannya. Bagaimana jika Lucas benar-benar mencintainya ?


Apa yang akan Ia katakan kepada pria itu, dan mana mungkin Ia membalas perasaan adik iparnya sendiri.


Lucas menghela napas panjang atau lebih tepatnya sedang mempersiapkan diri untuk menjelaskan semua perasaannya.


" Sejujurnya, aku memang menyukai mu " Seru Lucas dengan wajah yang serius.


Deg...Jantung Mauriel berdetak begitu keras, dan aliran darahnya mengalir sangat cepat seperti ada yang menyedotnya.


Apa dia salah dengar ? Wajah pria itu terlihat begitu serius, dan pendengarannya tidak mungkin salah. satu menit kemudian wajah itu berubah jadi tawa yang menggema.


" Hahahhahahaha " Lucas mencubit pipi gadis itu yang terbengong-bengong menatapnya.


" Mengapa wajah mu begitu serius ? Tentu saja bukan rasa suka yang kamu pikirkan, perasaan antara wanita dengan pria. " Kata Lucas membenahi ucapananya.


Tentu saja semua itu sangat mengejutkan Mauriel, dan dengan mudahnya Ia memanipulasi kata-katanya.


" Maksudku, aku memang menyukaimu tapi hanya sebatas seorang adik, tidak lebih." Seru Lucas.


" Kali ini, kamu serius kan ? " Tanya Mauriel takut di kerjain lagi.


" Sangat serius !! lagipula mana mungkin aku menyukai kakak ipar, kakak itu buka tipe ku " Sambung Lucas.


" Aku tahu !!! seperti kak Leon, kan ? " Seru Lucas.


Mauriel tidak menjawabnya, tapi juga tidak mengelak perkataan yang di lontarkan Lucas langsung menusuk ulu hatinya.


Mereka kemudian terdiam untuk beberapa saat, dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lucas memang sengaja mengatakan itu untuk menghindari hatinya yang terus berontak.


Lucas sadar sudah membuat gadis itu terlihat murung, dan mulai mencoba untuk membuatnya kembali ceria.


" Tapi kakak bisa mempertimbangkan wajahku, wajah ini tidak kalah tampan dengan dia, bahkan Nenek dan Papa selalu bilang bahwa aku lebih manis dari pada kakak, " Kata Lucas dengan penuh percaya diri.


" Dasar narsis " Seru Mauriel sambil ketawa.


Akhirnya Lucas bisa bernapas lega, melihat gadis itu bisa ketawa, dan tersenyum lagi.


" Sudah hampir subuh, Apakah kita akan kembali ke rumah ? " Tanya Mauriel. Sebenarnya hatinya tidak ingin pulang, tapi merek tidak bisa selamanya di sini, apalagi pasti akan banyak orang. Lagipula kepulangan Lucas pasti sedang di tunggu saat ini.


" Kamu mau pulang ? " Tanya Lucas.


" Aku bingung......" Jawab Mauriel.

__ADS_1


" Kenapa ? " Lucas memandangi wajah gadis itu, dan menatap matanya dengan serius.


" Apa yang harus ku katakan pada semua orang ? saat itu aku begitu panik melihat kamu tenggelam, dan aku langsung menarik kamu dari dalam air. saat kamu memuntahkan air, aku membawa kamu pergi " Lucas menceritakan kejadian saat di kolam renang begitu detail.


Jadi memang Lucaslah yang menyelamatkan hidupnya dan Leon lebih memilih Rubia, tiba-tiba Ia merasakan sesak di dadanya, perih dan sangat menyakitkan.


Mauriel terdiam, hubungannya dengan Leon memang akan segera berakhir. Tapi bagaimana cara dia lepas dari belenggu bayang-bayang Leon, apalagi pria itu terus mengikatnya, dan tidak ada niatan untuk melepaskannya.


" Aku benar-benar ingin pergi dari rumah itu " Kata Mauriel.


" Sungguh ? Jadi.....kamu ingin meninggalkan kami semua ? " Seru Lucas.


Mauriel diam, lalu mengangguk pelan. Meski Lucas merasa sedih tidak akan bisa melihat gadis itu lagi di rumah itu, tapi setidaknya mereka bisa bertemu di kampus.


Seulas senyum merekah di wajah pria itu, membuatnya ikut tersenyum. Perlahan Lucas mencium keningnya, lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.


" Aku akan mencoba untuk membantu kamu keluar dari rumah itu " Bisik Lucas di telinga Mauriel.


" Terima kasih " Ujar Mauriel menepuk pundak Lucas dengan lembut.


Dari sebrang sungai terlihat garis-garis berwarna kuning, kemerahan begitu indah bisa melihat ciptaan Tuhan, aku berasa sedang di pantai.


Cahaya pagi hari mampu membuatku kembali bangkit, seolah-olah Ia sedang memberikan kekuatan kepada orang-orang yang berputus asa.


Aku pun berteriak dengan suara yang lantang ke arah matahari terbit," Selamat tinggal masa lalu " Aku tersenyum menatapnya.


" Selamat datang lembar baru " Lucas yang bediri di sampingku ikut berteriak.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :


1. Anak Genius : Ayah sedingin es.


2. Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet


3. Paulina Menjadi Paula


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.

__ADS_1


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2