
...LAUT YANG MEMBAWA LUKA...
Terdengar suara ombak yang bergemuruh menyapu tepian laut, dengan di sertai angin sepoi-sepoi menerpa rambutnya yang terurai.
Laut yang jernih nan berwarna biru memancarkan kerinduan dan kesepian hati seorang isteri.
Ketika matahari senja terbentang di udara, terlukis kenangan di masa lalu yang tak mungkin di lupakan.
Disini aku berdiri untuk mengenang semua cerita kita yang pernah ada, dan membiarkan hembusan angin menghapus kenangan yang penuh luka.
Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, dan dengan senyumannya yang khas terhias dari bibirnya yang lembab.
" Sudah mau malam, anginnya juga udah mulai kencang " Seru Lucas sambil melipat tangan di depan dadanya.
" Iya sebentar lagi, kamu duluan aja " Ucap Mauriel tak bergeming.
" Kalau gitu aku juga tetap di sini " Kata Lucas tetap memandang ke arah laut yang luas.
" Kamu keras kepala " Gerutu Mauriel.
" Kakak ipar lebih keras kepala " Sahut Lucas tidak mau kalah.
Kemudian mereka berdua terdiam, memandang laut yang bergemuruh seakan ombak ikut berseru.
" Hmm....Kak Leon masih belum mau bicara dengan kakak, ya ? " Tanya Lucas dengan hati-hati.
Mauriel menggelengkan kepalanya, sudah tiga hari mereka berada di pantai tapi hubungan mereka seperti orang asing, Leon masih menjauhi Mauriel atau lebih tepatnya Ia menjaga jarak dari gadis itu. Meski kadang-kadang Ia mencuri pandang.
Lucas menendang pasir di delannya, Ia menyesali perbuatan, seandainya Ia bisa menahan diri tentu hubungan Mauriel dan Leon tidak akan seperti ini.
" Maaf " Gumam Lucas.
Mauriel menatap wajah adik iparnya, Ia tidak pernah menyalahkan Lucas, entah kenapa kehadiran Lucas bisa membuatnya melupakan semua luka di hatinya.
" Semua sudah terjadi, jangan menyalahkan diri sendiri, kamu sudah aku anggap seperti adik kandung ku "
Mauriel menyunggingkan senyum di bibirnya, lalu menyemburkan air laut ke arah Lucas. Seharusnya yang di hibur adalah dirinya, namun melihat wajah Lucas yang ingin menangis, hatinya jadi ingin menghibur pria konyol itu.
Matahari mulai tenggelam ke dasar laut, sinarnya melukiskan langit merah, di bawah mentari Mauriel dan Lucas saling mengejar satu sama lainnya, saling tertawa lepas tanpa beban, mereka melupakan segala rasa yang ada.
Dari kejauhan Leon memperhatikan mereka berdua dengan wajah yang membeku, terbakar amarah, pandangan cemburu terukir di matanya.
Leon mau menghampiri Mauriel, namun tangan Rubia mencegahnya, dan membawanya ke dalam kamar.
...♡♡♡♡♡♡...
Aku pikir aku sudah berhasil membawa mu pergi dari sisinya, namun begitu banyak tangan yang menarik tanganmu, aku takut kamu pergi dan tak akan kembali.
__ADS_1
Alam bawah sadarku menyuruh untuk menurunkan ego ku tinggi, kalau tidak mau kehilangan dirimu.
Leon mengalahkan gengsinya yang tinggi, dan maju lebih dahulu untuk meminta maaf atas semua perkataannya yang kasar tempo lalu.
Tangannya mengetik dengan cepat, tiba-tiba Rubia muncul dari belakang, dan Leon langsung meletakan ponselnya di atas tempat tidur.
" Kakak lagi ngapain ? " Kata Rubia sambil menyipitkan matanya.
" Hah....oh....cuma habis mengecek pekerjaan " Jawab Leon dengan wajah yang tegang.
Melihat wajah Leon yang tegang, Rubia jadi curiga ada sesuatu yang di rahasiakan oleh suaminya.
" Oh....aku di suruh Nenek untuk manggil Kakak "
" Kalau begitu, ayo kita turun " Seru Leon sambil bangkit berdiri dari tempat tidur.
" Kakak duluan saja, aku mau ke kamar mandi " Celetuk Rubia sambil melihat ke arah ponsel yang masih tergeletak di atas tempat tidur.
" Ya udah, aku duluan " Kata Leon.
Leon meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur, Rubia membuka ponsel suaminya dan membaca pesan yang di kirim untuk Mauriel.
Untuk Mauriel.
Datanglah ke tepi laut jam delapam malam, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.
" Pantas saja wajahmu tegang begitu, Jadi ini penyebabnya, kamu mau bertemu dengan gadis itu, aku tidak akan membiarkannya. " Gumam Rubia sambil mengepal ponsel Leon dengan sorot mata yang memanas.
...♡♡♡♡♡♡...
Pagi berganti dengan malam namun deburan ombak terdengar dengan jelas, semakin malam angin berhembus semakin kencang membawa dingin ke dalamnya.
Leon duduk beralaskan pasir, kakinya menyentuh air laut yang semakin dingin, sambil memandang laut.
Ia sibuk merangkai kata-kata yang akan Ia ucapkan di depan Mauriel, Leon tidak menyadari ada Rubia di sebelahnya.
" Rubia " Leon terkejut melihat Rubia duduk si sampingnya,
" Sejak kapan kamu duduk di sini ? " Tanya Leon.
" Baru kok, Kak Leon aja yang terlalu fokus memandang laut, sampai gak nyadar ada wanita cantik yang duduk, di sebelahnya. " Celetuk Rubia.
" Terus kamu ngapain di sini ? " Tanya Leon sekali lagi seakan tidak mengharapkan kehadiran Rubia.
" Memangnya aku gak boleh duduk di sini ? Kakak gak suka ada aku ? " Seru Rubia memasang wajah memelas.
" Bukan....." Jawab Leon sambil melihat jam di pergelangan tangannya. waktu sudah menunjukan pukul delapan tiga puluh, itu berarti sudah lewat dari jam perjanjian.
__ADS_1
Leon menghela napas panjang sambil mengadahkan kepalanya ke langit, melihat rembulan begitu bersinar, tapi hatinya sangat redup.
" Kak " Kata Rubia dengan nada lembut.
" Hmm " Jawab Leon.
" Kalau orang manggil lihat ke wajahnya donk "
Leon menolehkan wajahnya ke wajah Rubia saat itu juga Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Leon, mencium suaminya dengan sepenuh hati.
Ketika Mauriel datang dengan sengaja Rubia mencium bibir Leon di depannya, Ia tidak menyadari kehadiran Mauriel sampai Ia mendengar isak tangis di belakangnya.
" Mauriel " Seru Leon menoleh ke belakang.
Mauriel berlari meninggalkan Leon tanpa mengatakan sepatah katapun.
" Kak jangan pergi " Kata Rubia menahan tangan Leon.
" Please " Ucap Rubia sambil memeluk Leon dengan erat, Ia gak akan membiarkan Leon meninggalkannya.
...♡♡♡♡♡♡...
Tiba-tiba bayangan Leon mencium Rubia kembali terngiang-ngiang, hatinya sakit melihat Leon mencium wanita lain, Ia lalu memeluk Lucas yang ada di sampingnya. Dan......menangis dalam dekapan adik iparnya.
Lucas juga melihatnya dari kejauhan langsung mengejar Mauriel, Ia menyambut pelukan kakak iparnya, dan membelai punggung Mauriel.
Hatinya ikut merasakan sakit melihat gadis itu menangis di dalam dekapannya.
Mauriel menangis terisak-isak membasahi kemeja yang di pakai Lucas, tercium aroma buah-buahan dari tubuhnya, sepertinya Ia baru selesai mandi.
Mauriel hanya membutuhkan seseorang untuk tempatnya bersandar, dan Ia baru menyadari Lucas adalah sahabat yang Ia butuhkan, Seorang teman untuk menghiburnya.
" Menangislah sepuasmu, aku tahu semua itu berat bagimu, tapi jangan membiarkan dirimu goyah, tetaplah kuat untuk menghadapi semuanya "
Tanpa Lucas sadari Ia ikut menangis bersama dengan Mauriel.
...****************...
Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍
__ADS_1