
...Ketika daun dan bunga gugur, maka sang pohon telah kehilangan satu senyumannya....
...Sang pohon tetap kokoh berusaha berdiri tegar bersama ranting yang telah rapuh....
" Mauriel, maaf " Leon mengucapkan dengan penuh penyesalan.
Mauriel memeluk tasnya dengan erat, hati yang telah sembuh seakan kembali terkoyak oleh sebuah pisau belati dan menusuknya lebih dalam lagi.
" Aku sudah memaafkan mu " Ucap Mauriel bergetar.
" Terima kasih,.... " Wajah Leon memancarkan kegirangan, namun kembali pucat saat Mauriel memotong perkataannya.
" Aku memang sudah memaafkan mu, tapi aku tidak bisa kembali mencintai mu. " Kata Mauriel mengucapkannya dengan cepat.
" Apakah kamu tidak bisa melupakan semua yang telah berlalu ? Dan kita mulai lagi dari awal. " Leon berlutut di hadapan Mauriel sambil mengenggam tangannya.
Mauriel melepaskan tangannya, dan emosinya yang sejak tadi Ia tahan menjadi meluap, " Melupakannya ? " Teriak Mauriel sambil berdiri.
" Kamu pikir, pisau yang kamu tancapkan di sini bisa dengan mudah di lupakan ? " Mauriel menunjukan ke hatinya.
" Saat kamu membuang ku, dan memilih dia hanya karena seorang anak, apakah kamu memikirkan perasaan, aku ? " Tanya Mauriel menatap tajam ke wajah Leon.
Leon terdiam, Ia sangat menyesali pilihannya. penyesalan yang ingin Ia perbaiki. Kesalahan Leon adalah tidak membicarakan semua rencananya kepada Mauriel. Bertindak seorang diri dan berharap Mauriel mengerti posisinya.
" Aku tidak pernah ada niatan untuk membuang mu, Kamu yang tidak memahami semua yang aku lakukan. "Leon sedikit meninggikan suaranya.
" Rencana mu yang gila itu ? " Seru Mauriel bengis.
" Ya. Seandainya kamu mau mendengarkan ku, mungkin saja saat ini kita sudah bahagia bersama. "
" Aku, kamu dan Lean sudah duduk di taman ini sambil tertawa dengan riang. " Seru Leon tak ingin kalah.
Mauriel menertawai perkataan Leon, ucapan pria itu terdengar lucu di kupingnya.
" Hahahahahahah " Dengan suara yang lebih keras, membuat orang-orang di sekitar rumah sakit memperhatikannya.
" Bahagia macan apa yang kamu maksud ? " Tanya Mauriel sambil tersenyum sinis.
" Pernikahan kita tentu bahagia dengan hadirnya seorang anak, Kamu mandul, tapi Tuhan memberikan Lean kepada kita. " Seru Leon dengan mata yang berbinar-binar. mengucapkan kata mandul dari mulutnya dengan lancar tidak memikirkan perasaan Mauriel.
" Mandul " Gumam Mauriel di dalam hatinya.
" Kamu bahkan tidak mempeduli perasaan aku yang hancur saat Dokter memvonis diriku yang tidak bisa memiliki seorang anak. "
" Anak yang di lahirkan dari rahim wanita lain, kamu bilang adalah keberuntungan yang di berikan Tuhan ? " Tanya Mauriel bergedik.
" Bagaimana bisa aku bahagia saat suami yang aku cintai menghamili wanita lain ? "
" Dengan kemandulan ku saja sudah membuat perasaan ku terluka, lalu kamu membawa seorang wanita yang mengandung anak mu dan meminta aku untuk menerimanya ? "
" Menceraikan ku, lalu menikahi wanita itu, kemudian kamu menikahi aku kembali dan memisahkan anak itu dari Ibu kandungnya. "
" Sangat konyol " Mauriel memegang dahinya.
__ADS_1
Leon tidak membantah perkataan Mauriel, semua yang di ucapkannya memang rencana yang di susun oleh Leon.
" Apa yang salah dengan rencana ku ? " Leon balik bertanya.
" Kamu nanya ? " Ucap Mauriel sambil tertawa. Leon menganggukan kepalanya, Ia tidak mengerti kenapa Mauriel tidak bisa menerima rencananya.
" Perceraian dan melihat kamu menikahi wanita lain, apakah itu tidak menyakiti ku ? " Jawab Mauriel.
" Kamu kan tahu, aku hanya mencintai mu, dan aku menikahi Rubia karena terpaksa. Hati ini hanya milik mu " Seru Leon sambil menempelkan tangan Mauriel ke dadanya.
Lagi-lagi perkataan Leon membuat Mauriel tertawa keras, " Terpaksa ? Bukankah dulu kita menikah juga tanpa cinta ? "
" Ya ! Aku akui, saat menikah dengan mu, aku tidak mencintai mu, tapi kemudian aku jatuh cinta padamu. " Leon membenarkan ucapan Mauriel.
" Dan bisa saja kan kamu jadi mencintai Rubia " Sindir Mauriel.
" Tentu saja tidak ! Aku tidak akan pernah mencintai Rubia, bahkan dari dulu sampai sekarang aku hanya mencintai mu " Ucap Leon bersungguh-sungguh.
Mauriel bisa merasakan kejujuran dari perasaan Leon, tapi Pria itu tetap tidak memahami dirinya yang harus berbagi cinta dengan wanita lain. Apalagi wanita itu memiliki sesuatu yang Mauriel tidak bisa miliki.
Mauriel mengalihkan pembicaraan, Ia tidak ingin mendengar pernyataan cinta dari Leon.
" Lalu, bagaimana dengan anak itu ? " Tanya Mauriel.
" Lean ? " Jawab Leon.
" Iya " Sahut Mauriel singkat.
" Kenapa dengan Lean ? " Leon mengkerutkan keningnya.
" Tentu saja " Jawab Leon.
" Itu asumsi mu saja, Leon. "
" Bagaimana bisa kamu memahami perasaan anak itu, sedangkan kamu saja tidak memahami ku. " Seru Mauriel.
" Tidak akan ada satu anakpun yang menolak diri mu sebagai Ibunya, Mauriel. Kamu wanita yang penuh kasih sayang, hangat dan baik. " Leon memuji Mauriel dengan jujur.
" Lean bukanlah anak yatim piatu, Leon. Ia memiliki Ibu kandung, dan kau adalah ayah kandungnya. Anak mana yang menyayangi wanita lain yang membuat Ayah dan Ibunya berpisah ? "
" Bahkan memintanya untuk memanggil wanita yang telah merusak kebahagiannya dengan sebutan Ibu ? "
" Di mata Lean, aku hanyalah wanita yang buruk. "
" Sekarang saja anak itu sudah sangat membencinya " Gumam Mauriel di dalam hati.
" Ayolah Mauriel jangan berpikir yang macam-macan. Lean adalah anak yang baik, Ia pasti memahami permasalahan kita, dan akan menyayangi mu seperti ibu kandungnya. " Leon tetap bersikeras, bahwa semua rencananya tidak akan gagal, mereka akan hidup dengan bahagia.
" Jadi kamu mau bilang kalau aku berpikiran sempit ? " Ucap Mauriel. Mauriel menjentikan tangan di depan mata Leon.
" Pangeran Leon, Sadarlah "
" Ini kehidupan nyata bukan di negeri dongeng. "
__ADS_1
" Seseorang akan terluka jika orang lain merebut kebahagiaannya, aku memikirkan anak itu juga. Bukan hanya keegoisan ku semata. "
Leon menghela napas panjang, sampai kapan pun Mauriel tidak akan bisa mengerti, dan mereka hanya akan salinh berdebat.
" Rubia sudah meninggal " Ucap Leon.
" Apa ? " Mauriel kaget mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya.
" Jadi Lean sudah tidak memiliki Ibu ? " Mauriel mengulangi perkataan Leon. Leon menganggukan kepalanya.
" Jadi sekarang kamu bisa menggantikan posisi Rubia menjadi Ibu yang menyayanginya." Ucap Leon memohon Mauriel untuk kembali kepada dirinya.
" Tidak " Jawab Mauriel dengan tegas.
" Kenapa ? " Ucap Leon.
" Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menjadi ibunya " Kata Mauriel sambil pergi meninggalkan Leon, Ia berlari sangat kencang, kemudian memanggil sebuah taksi, supaya Leon tidak mengejarnya.
Saat Leon mau mengejar Mauriel, Seorang suster memanggil dirinya, dan Mauriel bernapas lega karena Leon tidak mengikutinya.
Di dalam taksi Mauriel menangis tanpa sebab, Ia tidak tahu kenapa dirinya seperti ini, entah karena perkataan Leon atau karena nasib Lean yang begitu malang.
Mengapa masa lalu yang telah Ia kubur dalam-dalam, harus kembali hadir kedalam kehidupannya. bukan takdir yang seperti ini yang di harapkan olehnya.
...♡♡♡♡♡♡...
Hallo aku kembali, maaf kalau terlalu lama tidak update dan Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga :
Anak Genius : Ayah sedingin es.
Yang Muda Yang Bercinta : Bitter sweet
Paulina Menjadi Paula
Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉
seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh
__ADS_1
sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍