BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI

BERBAGI CINTA : PENGANTIN YANG TIDAK DI CINTAI
BAB 38 : PERMULAAN YANG BARU


__ADS_3

...PERMULAAN YANG BARU...


Tidak terasa sekarang sudah memasuki bulan Desember, itu berarti sudah tiba di penghujung tahun.


Bagi kebanyakan orang bulan Desember adalah bulan paling sibuk, selain mempersiapkan perayaan Natal bagi umat kristiani, ada juga sebagian orang yang sibuk menyusun rencana untuk merayakan malam tahun baru bersama dengan orang terkasih.


Begitu pula dengan Leon, Ia masih termenung di atas tempat tidurnya, matanya menerawang lurus kedepan. Ia tidak menyangka Mauriel akan memberikannya kesempatan, semua itu masih seperti mimpi bagi dirinya.


Leon memandangi tangannya, masih terasa dengan jelas saat Ia menghapus air mata Mauriel di dalam biang lala.


Dengan berurai air mata, Mauriel menganggukan kepalanya.


Leon menghapus air mata Mauriel yang membasahi pipinya dengan lembut, lalu mengkecup keningnya dengan penuh kasih sayang, terasa hangat dan sejuk.


" Terima kasih " Ucap Leon sambil mengusap pipi isterinya.


Kebetulan kincir raksasa yang mereka tumpangi sudah mencapai permukaan tanah, itu berarti mereka harus segera turun. Mauriel baru mau keluar, tapi tangan Leon menahannya.


" Tunggu " Kata Leon sambil menarik tubuh Mauriel untuk duduk kembali ke kursinya.


Mauriel memandanginya dengan dingin, Ia tidak tahu apa lagi yang di inginkan oleh Leon dari dirinya.


" Karena kamu sudah menerima hubungan baru kita, aku mau sebagai permulaan kamu memakai cincin pernikahan kita. "


Leon mengambil cincin yang ada di genggaman Mauriel, lalu memasangkannya di jari manis Mauriel sambil melempar senyum kepadanya.


" Ternyata benar dugaanku, cincin ini sangat cocok di jarimu " Celetuk Leon tersenyum puas.


Mauriel memperhatikan cincin yang melingkar di jari manisnya, dulu Ia tidak pernah memikirkan akan memakai cincin pernikahan mereka, tapi kini cincin itu sudah bersemayam di tangannya.


Mauriel tidak tahu keputusan yang Ia ambil tepat atau tidak untuk hidupnya, tapi yang jelas Ia menerima permintaan Leon hanya untuk menghormati perasaan sang Nenek.


" Hari sudah malam, sebaiknya kita pulang " Kata Mauriel dengan wajah yang datar. sekarang yang ingin Ia lakukan adalah kembali ke kamarnya yang tenang.


" Tunggu " Seru Leon sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Leon merangkul pinggang Mauriel sehingga tubuh mereka saling menempel.


Ia menghadapkan kamera ponsel ke arah wajah mereka berdua, lalu membidik kamera.


Tampang Mauriel maupun Leon terasa aneh di dalam foto itu, Ia jadi tidak puas dengan hasilnya, dan meminta seseorang untuk memotretnya.


Leon memanggil salah satu penjaga dufan untuk di mintai tolong, Ia ingin mendapatkan hasil yang puas.


" Tolong lebih dekat lagi " Kata Penjaga dufan memberi arahan kepada Mauriel.

__ADS_1


Mauriel sedikit canggung untuk berfoto bersama dengan Leon, apalagi harus berdiri berdekatan.


" Ayolah kalian ini kan pasangan, jangan malu-malu begitu " Celetuk penjaga dufan gregetan melihat tingkah mereka berdua.


Leon dengan inisiatif merangkul pundak Mauriel, dan menyenderkan pipinya di kepala Mauriel.


" Oke seperti itu, tahan dan bilang buncis " Penjaga dufan berlagak seperti seorang fotografer profesional.


" Jepret "


Penjaga dufan melihat hasil foto mereka sambil ssnyam senyum.


" Kalian berdua sangat serasi, yang wanitanya cantik sedangkan kan yang pria tampan. " Kata Penjaga dufan sambil memperlihatkan foto mereka berdua.


Leon memandangi foto mereka berdua, meskipun wajah keduanya terlihat datar dan canggung, setidaknya Ia kini memiliki foto bersama dengan Mauriel.


" Nanti aku akan mencetaknya, dan kita berdua harus menyimpan foto ini " Seru Leon sambil menyunggingkan bibirnya.


" Bagaimana ? Kamu senang dengan kencan pertama kita ? " Tanya Leon.


" Iya aku senang " Jawab Mauriel mengatakannya dengan jujur.


" Baguslah ! lain kali, kita pergi bersama lagi " Celetuk Leon menatap wajah Mauriel.


Mauriel menganggukan kepalanya, semoga masih ada lain waktu, Ia sadar betul dengan posisinya yang menjadi nomer dua di hati Leon, mungkin saja Rubia akan terus menempel pada Leon.


...♡♡♡♡♡♡...


" Cuma mengajaknya keliling jakarta saja. " Jawab Leon datar.


Rubia mendekati Leon yang masih duduk di pinggir tempat tidur, pandangannya seperti ingin menggoda suaminya sendiri.


" Kakak jahat ! Kakak cuma pergi berdua dengan gadis itu, aku gak di ajak." Kata Rubia mengeluh.


Leon membelai rambut Rubia yang masih basah sambil tersenyum, " Lain kali kita pergi berdua, ya "


" Sungguh ? " Seru Rubia dengan mata yang berbinar-binar.


Leon menganggukan kepalanya, Rubia langsung memeluk tubuh suaminya sambil melepaskan handuk yang melingkar di tubuhnya, sekarang di depan suaminya sendiri Ia tidak memakai sehelai benang pun.


...♡♡♡♡♡♡...


Pagi-pagi Lucas sudah ribut di kamar Mauriel, sebenarnya sudah sejak dari kemarin Ia ingin mendengar cerita kencan mereka. Tapi melihat wajah kakak iparnya yang tampak lelah, niat itu Ia simpan sampai esok lagi.


Begitu fajar menyingsing, Ia langsung meluncur datang kemari.

__ADS_1


" Kakak bangun " Seru Lucas sambil mengguncang tubuh Mauriel.


" Sebentar lagi, aku masih ngantuk " Gumam Mauriel menutupi kepalanya dengan bantal, Lucas merebut bantal itu dan melemparnya ke pinggir tempat tidur.


" Tidak mau ! kemarin aku sudah sabar menunggu, sekarang aku tidak akan melepsakan mu, begitu saja " Kata Lucas sambil membuka horden dan membiarkan matahari menembus kulitnya.


" Silau " Mauriel mengerang kepanasan, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


" Makanya bangun, dasar ba*bi " Lucas duduk di depan Mauriel, dan menghalangi sinar matahari supaya tidak mengenai kakak iparnya.


" Dasar bocah nakal, berani ngatai kakak iparmu sendiri " Gerutu Mauriel sambil memukul punggung Lucas yang bidang.


Lucas memandang ke arah matahari dengan perasaan hampa, sayang Mauriel tidak bisa melihat wajah adik iparnya yang sedang menahan kesedihannya.


...♡♡♡♡♡♡...


Rubia duduk di atas tubuh Leon dengan memperlihatkan tubuhnya yang langsing, dua buah d*da yang m*ntok, dan titik-titik air menetes dari rambutnya.


Ia mendekatkan bibirnya pada bibir Leon, baru mau ******* bibir suaminya, Leon sudah lebih dulu mendorong tubuh Rubia.


Tentu saja penolakan Leon membuatnya kesal bukan main, suaminya menolak di ajak b*rcinta. Padahal Rubia sengaja memperlihatkan tubuhnya yang indah, tapi mata itu tidak bergeming sama sekali.


Dan keluar satu nama yang membuat suaminya berubah, Mauriel. Semua gara-gara gadis kampungan itu. pikir Rubia sambil mengepalkan tangannya.


" Maaf, hari ini aku ada rapat " Seru Leon tanpa menoleh ke arah Rubia.


Rubia beranjak dari tempat tidurnya, melingkarkan handuknya kembali, sambil memeluk Leon dari belakang, menekan tubuh suaminya.


" Maaf kalau aku terlalu agresif, aku cuma merindukanmu " Ucap Rubia sambil tersenyum sinis.


Leon melepaskan tangan Rubia, mengusap rambutnya dengan lembut.


" Tidak apa-apa, lain kali aku akan meluangkan waktu untuk kamu. kamu harus memakai bajumu, sebelum masuk angin " Ujar Leon sambil melangkahkan kakinya ke kamar mandi, lalu menoleh ke belakang.


" Ah, jangan lupa keringkan rambut mu " Seru Leon menutup pintu kamar mandi.


Rubia mendengar semua perkataan Leon, mendengus kesal, lalu melempar handuk ke lantai dan mencari pakaiannya.


...****************...


Terima kasih sudah membaca novel ku , jangan lupa baca juga Anak Genius : Ayah sedingin es.


Semoga ini menghibur kalian , jangan lupa tinggallan jejak ya 😉😉


seperti Like , vote , komen atau memberikan gift , di share juga boleh

__ADS_1


sekecil apapun. dukungan Kalian , sangat berarti buat kami.


sampai jumpa di chapter selanjutnya 😍😍


__ADS_2